Ngaben Tanpa Prosesi Pembakaran Jenazah

Selasa, 24 Mei 2011 - 12:25 wib | AA Ari Wiradarma - Koran SI

Ngaben di Desa Trunyan, Bangli, Bali. (foto: balipedia.org)

Ngaben Tanpa Prosesi Pembakaran Jenazah
BANGLI- Ngaben biasanya dikenal sebagai prosesi pembakaran jenazah di Bali. Tapi, berbeda halnya dengan tradisi Ngaben di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli, Bali. Di tempat ini Ngaben diadakan tanpa prosesi pembakaran.  
Yang ada, Ngaben di desa ini hanya mengarak jenazah menggunakan perahu. Setibanya di kuburan jenazah diletakkan begitu saja di atas tanah hingga menjadi tengkorak. Uniknya, tidak ada bau busuk sama sekali.
 
Prosesi Ngaben massal ini dilakukan untuk mengupacarai sembilan sawo atau jenazah warga setempat. Meski demikian, sarana bede yang dipergunakan hanya satu, dengan tujuan untuk menghemat biaya. Prosesi awalnya telah mulai dilakukan dari desa setempat, dengan menggelar upacara pemlaspasan atau penyucian seluruh sarana pengabenan.
 
Dengan diiringi gamelan angklung, selanjutnya prosesi arak-arakan pun mulai dilaksanakan. Uniknya, bade yang akan dibawa ke kuburan diangkut dengan menggunakan perahu penyebrangan yang telah dirakit sedemikian rupa. Sama halnya dengan prosesi Ngaben di darat, saat di tengah perjalanan bade yang diusung dengan menggunakan perahu ini juga melakukan ritual, melingkar sebanyak tiga kali.
 
Sementara saat sampai dikuburan, jenazah yang disimboliskan dengan benda-benda suci yang dibungkus dengan kain layaknya jenazah manusia, diturunkan untuk diletakkan di areal kuburan. Sementara, bade yang digunakan ditenggelamkan ke danau. Sebab di desa ini, prosesi pengabanen sama sekali tidak diperkenankan dilakukan dengan cara membakar.
 
Keunikan prosesi pengabanen di Desa Trunyan ini cukup menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke lokasi. Jenazah warga Desa Terunyan cukup diletakkan di atas tanah tanpa dikubur. Anehnya, meski telah bertahun-tahun, jenazah sama sekali tidak mengeluarkan bau busuk.
 
Berdasarkan historis keberadaan Desa Terunyan sebagai salah satu desa bali age (bali kuno) berasal dari kata taru yang berarti pohon dan menyan yang berarti cendana. Sehingga kalau digabung menjadi tarumenyan atau terunyan dari pohon taru menyan atau juga disebut pohon cendana yang tumbuh diareal kuburan inilah yang dipercaya mengeluarkan bau harum sehingga menyebabkan mayat-mayat tersebut tidak berbau.
 
(uky)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    "Pesta Rakyat Kok Sisakan Sampah"