Mengasah Keterampilan Sosial Anak

Kamis, 7 Juli 2011 - 10:05 wib | SINDO -

Anak-anak berinteraksi sosial. (Foto: Corbis)

Mengasah Keterampilan Sosial Anak
KETERAMPILAN sosial sangat dibutuhkan anak kelak saat ia dewasa. Sebab itu, orangtua perlu melakukan pendampingan yang intensif agar buah hati bisa berani terlibat dalam interaksi sosial.

Ketika anak memasuki masa balita, Anda akan mulai melihat banyak kegiatan sosial yang dia ikuti. Meskipun begitu, kerangka kerja pengembangan sosial anak ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum dia bisa Anda peluk usai lahir, bernyanyi bersama pada usia empat bulan, atau membawanya main di taman saat menginjak umur sembilan bulan. Semua itu menjadi persiapan pengalaman sosial pertamanya yang positif.
 
“Orangtua adalah guru pertama dan paling penting bagi bayi,” kata Dr Debbie Glasser, seorang psikolog klinis yang berlisensi dan pendiri NewsForParents.org.
 
“Orangtua memiliki peran penting untuk membantu bayi membangun dan mengembangkan keterampilan sosial,” sebutnya. Lalu, bagaimana Anda bisa terus membangun keterampilan ini pada anak usia 12 bulan dan seterusnya?
 
Bulan-bulan pertama dia lahir, anak-anak mampu merespons emosi orang lain. Namun, itu tidak berlangsung lama, sampai sekitar usia 15 sampai 18 bulan ketika balita mulai memahami perbedaan antara diri mereka sendiri dan orang lain. Menurut Paula Goff, seorang instruktur di Early Intervention Institute at Louisiana State University Health Sciences Center, usia ini adalah masa ketika anak Anda bisa menepuk anak lain hingga menangis. Atau tertawa terbahak-bahak bahagia ketika dia melihat anak-anak lain tertawa.

Dia memang tidak cukup mampu untuk memahami penyebab tawa tersebut (lelucon) atau menangis (anak lainnya jatuh dan lututnya tergores), tetapi dia bisa memahami seseorang terluka atau ada sesuatu yang lucu telah terjadi.
 
“Ini benar-benar pemahaman dasar emosi,” tuturnya seperti dikutip laman Babiestoday.com.

Kembangkan pengetahuan tentang perasaan orang lain dengan membantu anak Anda memberi tanda pada emosinya. Glasser menyarankan orangtua untuk mulai membangun kosakata “perasaan” sejak dini, bahkan sebelum anak mulai bisa berbicara. “Ketika melihat anak Anda tersenyum karena menikmati suasana di taman bermain, Anda bisa mengatakan, ‘Kamu tersenyum. Kamu harus senang berada di sini!’,” ucapnya.

Selain itu, bicaralah dengan anak tentang bagaimana perasaan yang dirasa orang lain.
 
“Karakter di televisi dan buku-buku dapat membantu,” imbuh Glasser. Misalnya, ucapkan “Tuh lihat, Doraemon senang melihat teman-temannya” atau “Wah, Sponge Bob sedang menangis. Dia harus benar-benar sedih tentang sesuatu!”.

Pada awalnya, Goff menuturkan, anak tidak akan mengerti semua yang Anda katakan pada dirinya, dan itu akan terjadi hingga beberapa tahun sebelum dia sepenuhnya mampu mengambil perspektif orang lain.

Namun, dengan membantu anak-anak memadukan apa yang mereka lihat dengan apa yang orang lain rasakan, dan dengan memberi mereka bahasa untuk menggambarkan perasaan itu, Anda telah meletakkan dasar yang baik untuk pengembangan empatinya. Harap diingat, keterampilan komunikasi sangat penting dalam pembangunan sosial anak.

Balita sering menjadi frustrasi ketika mulut mereka tidak bisa menyaingi otak dan emosi. “Bahkan, ketidakmampuan untuk berkomunikasi terhadap keinginan dan kebutuhan adalah ‘bagian terbesar (pemicu) terjadinya agresi pada balita’,” ungkap Goff.

Brooke Hadley seorang ibu yang berdomisili di Austin, Texas, mulai mengajarkan kosakata kepada buah hatinya pada usia yang sangat dini dengan mengajarkan bahasa isyarat bayi. Sekarang, anak-anaknya yang berumur dua dan empat tahun itu telah memiliki keterampilan komunikasi yang bagus.

“Karena mereka merasa nyaman dalam perkembangan mereka. Saya telah melihat betapa mudahnya mereka berinteraksi dengan anak-anak lain,” katanya. Goff mengingatkan, orangtua dan pengasuh harus cepat memahami kebutuhan anak sehingga dengan sengaja mengambil kesempatan untuk berkomunikasi.
 
“Jika anak masuk ke dapur dan melihat lemari kaca, orang tua harus tahu bahwa, ‘Aku ingin minum’,” katanya.
 
“Sangat penting untuk mengambil langkah berikutnya dengan menanyakan anak Anda apa yang dia inginkan dan memberikan waktu untuk dia mencoba menjawab,” lanjut Goff. Adapun yang paling penting memang berbicara dengan balita Anda.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Mengapa Pasangan Sering Berselingkuh?