Ajari Anak Kelola Keuangan

Minggu, 7 Agustus 2011 - 16:30 wib | Koran SI - Koran SI

Ajari Anak Kelola Keuangan (Foto: gettyimages) KONSEP manajemen keuangan harus diajarkan kepada anak sedini mungkin. Mengetahui konsep pengelolaan uang sejak dini dapat memberi anak dasar yang baik untuk mengelola pendapatannya pada masa depan.

Selain pendidikan akademis, anak juga musti diajari pendidikan akan keterampilan hidup yang sama pentingnya untuk perkembangannya nanti saat dewasa.Salah satunya adalah pengelolaan keuangan pribadi. Mengajari anak pemahamanmengenai tata kelola keuangan ini, sejatinya harus dimulai sejak dini.

Namun, tetap musti disesuaikan dengan usia si buah hati. Keterampilan mengelola keuangan amatlah penting bagi setiap orang karena manfaatnya akan terus terasa hingga saat masa pensiun kelak. Orangtua sebagai tokoh sentral pendidikan keuangan di luar sekolah memiliki peranan penting. Peranan ini akan tercermin dalam bagaimana anak-anak mengelola keuangannya.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, minimnya pengetahuan anak-anak di tengah pola konsumtif dewasa ini bisa berbahaya. Penelitian mengungkapkan bahwa satu dari enam siswa di negara tersebut tidak mengerti bahwa saham jangka panjang menghasilkan keuntungan berlipat ketimbang obligasi.

Fakta lain yang mengherankan adalah, hanya satu dari lima siswa yang memahami bahwa bunga yang dibayar atas rekening sebuah tabungan akan dikenakan pajak. Hasil survei ini merupakan yang terburuk dalam serangkaian sebanyak enam tes selama 11 tahun terakhir.

“Anak-anak tidak begitu mengerti tentang keuangan. Namun, kebanyakan orangtua tidak mengerti bagaimana cara mendidik anak-anak mereka untuk mengelola uang,” kata Direktur Eksekutif JumpStart Coalition Laura Levine seperti dikutip Time edisi online.

Dalam buku Intelligent Investor oleh Benjamin Graham disebutkan beberapa tingkatan usia anak saat orangtua memperkenalkan pengelolaan uang pada anak-anak. Pada anak usia 9 tahun, belajar tata kelola keuangan dimulai dengan pemberian uang saku mingguan sebesar setengah usia mereka. Uang tersebut lantas dialokasikan ke dalam tiga celengan yang berbeda. Celengan pertama digunakan untuk belanja konsumtif, celengan kedua untuk tabungan jangka panjang seperti membeli sebuah iPod atau perbaikan komputer, dan celengan terakhir digunakan untuk amal.

Dengan alokasi uang dalam tiga celengan tersebut, anak-anak akan mengerti untuk apa uang tersebut diperuntukkan serta memberikan pemahaman betapa pentingnya perkiraan tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

“Saya sering berbicara dengan klien yang berhasil menerapkan pemahaman tentang makna menabung. Tidak diragukan lagi, anak-anak mereka akan dapat menerapkan kebiasaan menabung,” kata Kelly Campell, pakar perencanaan keuangan dari Campbell Wealth Management, Washington DC, Amerika Serikat.

Memasuki usia remaja, secara tiba-tiba, biasanya mereka akan menghabiskan uang tanpa bisa direm. Tak terhitung jumlah dana yang harus dikeluarkan oleh remaja seperti untuk menonton konser musik, membeli pakaian, telepon seluler atau konsol game.

Dalam fase ini, memberikan pemahaman tentang manajemen keuangan dapat membantu anak ketika memasuki usia remaja yang cenderung konsumtif. Tekanan lingkungan dan stimulus dari pergaulan adalah sebuah tantangan ketika menerapkan perencanaan keuangan pada masa ini.Prinsip menggunakan beberapa celengan yang diadopsi dalam perencanaan keuangan harus diubah menjadi rekening bank, kartu ATM dan deposito.

Remaja juga harus menguasai dasar-dasar ekonomi,seperti perbedaan definisi dari saham, obligasi, dan reksa dana. Remaja juga harus kompeten menyusun anggaran pribadi dengan mempertimbangkan sejumlah aspek seperti perbandingan harga dan barang, membuat keputusan yang cepat dan memilih sesuatu yang bermanfaat.

“Anak remaja akan mudah belajar sesuatu dengan cara bermain, pelajaran secara langsung, menyenangkan, dan nyata,” kata Lewis Mendel, seorang pakar perencana keuangan dari University of Washington Business School, Amerika Serikat.

Usia 18 tahun merupakan tahap awal seorang anak menuju dewasa. Kebutuhan pada usia ini telah berorientasi ke masa depan. Misalnya, rencana biaya untuk memasuki perguruan tinggi.

Usia ini adalah kesempatan terakhir bagi orangtua untuk mengarahkan anak dalam mengelola keuangan. Oleh karena itu, orangtua musti menegaskan kepada anak untuk meletakkan kembali prioritas akan kebutuhan dan keinginan. Anak yang telah berusia 18 tahun akan dihadapkan dengan istilah-istilah ekonomi yang lebih rumit, seperti penalti karena keterlambatan, saldo minimum di tabungan, atau tunggakan pinjaman.

Sebuah studi mengungkapkan, indikator terbaik untuk mengetahui keberhasilan pengelolaan keuangan untuk masa depan adalah kesediaan anak-anak untuk menunda mengeluarkan uang untuk kepuasan dan memperkuat tabungan jangka panjang.

Jika orangtua masih memberikan uang saku kepada anak usia ini, kasihlah dalam jumlah yang cukup besar agar memungkinkan dia untuk mengalokasikan sejumlah dana dalam bentuk anggaran. Ketika orangtua telah mengajarkan anak sejak dini tentang perbedaan alokasi dana, terutama memisahkan antara keinginan dan kebutuhan, tentunya si anak tidak akan mengalami persoalan dari segi keuangan. (ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »