Masjid Nurul Huda Simbol Kerukunan Beragama di Bali

Selasa, 30 Agustus 2011 - 08:12 wib | Rohmat - Okezone

Masjid Nurul Huda, Kuta, Bali. (Foto: okezone)

Masjid Nurul Huda Simbol Kerukunan Beragama di Bali
KUTA- Masjid Nurul Huda yang berada di kompleks Bandara Internasional, Ngurah Rai, Kuta, Bali, menjadi bukti bahwa kerukunan dalam harmoni hidup antar-umat beragama bisa tercipta meski banyak perbedaan.

Masjid yang berdiri kokoh diapit dua tempat ibadah lainnya itu semakin memperkuat pandangan bahwa berada dalam lingkungan bukan menjadi penghalang untuk melaksanakan ibadah masing-masing.

Keberadaan Masjid Nurul Huda ini terbilang unik. Tidak seperti biasanya ada masjid yang berdekatan dengan tempat ibadah agama lain.

Dari cerita beberapa tokoh Muslim yang mengenal sejarah berdirinya masjid itu, ide membangun masjid bersama tempat ibadah lain dalam satu kompleks berasal dari almarhum Hertoko Kepala Penerbangan Sipil yang kini dikenal dengan Angkasa Pura I Ngurah Rai.

”Tahun 1970 almarhum Pak Hertoko memilki gagasan membangun masjid di kompleks bandara berdampingan dengan tempat ibadah umat lain. Kami warga Muslim saat itu sangat mendukung,” kata Adbul Malik (63), salah seorang perintis berdirinya Masjid Nurul Huda.

Diakuinya, berdasarkan kesepakatan akhirnya ditentukan lokasi yakni untuk bangunan pura berada di pojok utara, gereja di selatan, dan Masjid Nurul Huda di barat.

Sampai akhir 1971, Masjid Nurul Huda bisa berdiri meski dengan bangunan sederhana dengan atas sirap seluas 10x10 meter ditambah bangunan dan areal lain menjadi 1.100 meter persegi.

Adapun pemberian nama Nurul Huda yang berarti cahaya petunjuk, lanjut Malik, tak lepas dari keberadaanya di bandara.

Dalam istilah penerbangan ada lampu petunjuk yang sangat dibutuhkan oleh pesawat yang akan mendarat. Demikian pula cahaya petunjuk yang dipakai sebagai nama Masjid Nurul Huda. Maksudnya, bisa memberi cahaya penerang bagi warga Muslim untuk menemukan kebenaran atau kebaikan.

Perlahan masjid itu berkembang terlebih dengan kehadiran Muslim asal Makassar, Sulawesi Selatan. Selain warga sekitar, para musafir atau penumpang pesawat, menyempatkan diri salat di Masjid Nurul Huda.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut telah beberapa kali mengalami renovasi hingga berdiri kokoh dengan dua lantai ditambah kubah besar.

Selain mendapat sumbangan rutin dari PT Angkasa Pura I sebesar Rp20 juta per tahun, banyak sumbangan dari warga Muslim yang datang saat salat.

Yang menarik, karena masing-masing tempat ibadah memiliki kegiatan yang acap kali waktunya bersamaan, namun hal itu bukan menjadi masalah. Sebab di antara pemuka agama terus mengembangkan budaya dan semangat toleransi.

”Toleransi yang kami pahami adalah masing-masing kita sama-sama saling jalan, tidak harus membaur. Ya Alhamdulillah sampai 40 tahun lebih, tidak pernah ada masalah, kami bisa hidup berdampingan secara damai dalam menjalankan ibadah masing-masing," ungkap pensiunan sebuah perusahaan BUMN itu.
(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kebiasaan Bohong Picu Gangguan Tidur