4 Tindakan Radiologi Sering Diterima Bayi

Minggu, 2 Oktober 2011 - 08:17 wib | -

4 Tindakan Radiologi Sering Diterima Bayi (Foto: gettyimages) SECARA umum, pemeriksaan radiologi bisa dilakukan pada bayi. Yang penting, harus ada indikasi yang menyertai. Tindakan radiologi apa yang kerap diberikan pada bayi?

Pernyataan demikian disampaikan dr Budhiarso, Sp Rad dari RS Grha Permata Ibu Depok. Menurutnya, Moms tak perlu dengan masa depan bayi yang terkena radiasi yang banyak anggapan mengatakan bisa mengalami kanker

“Tak perlu khawatir, dosis radiasi yang digunakan sangat kecil dan tidak membahayakan,” jawabnya.

Berikut, beberapa tindakan radiologi yang kerap diberikan pada bayi:

Rontgen

Rontgen adalah pemeriksaan pencitraan medis yang menggunakan alat Basic X-ray Unit (BXU) sebagai sumber radiasi dengan hasil pemeriksaan berupa film rontgen (film X-Ray). Pada bayi, biasanya dilakukan untuk medical check up maupun untuk mendiagnosa penyakit.

Sebaiknya hindari adanya benda-benda yang menghalangi proses diagnostik saat akan melakukan tindakan, misalnya melepas aksesoris pada bayi, seperti peniti. Beberapa keadaan yang mungkin disarankan untuk dilakukan pemeriksaan ini, adalah:
- Jika dicurigai adanya trauma pada saat proses persalinan, bisa diperiksa apakah ada tulang yang patah, misalnya fraktur clavicula (patah tulang bahu). Bisa terjadi pada janin yang mengalami kelainan letak, seperti sungsang atau letak lintang.

- Pada saat lahir kepala bayi terlihat besar di luar batas kewajaran dan  dicurigai hidrocephalus. Akan tetapi untuk lebih jelasnya bisa dilakukan USG untuk melihat keadaan ventrikel pada otak, apakah terisi cairan atau tidak.

- Bayi belum BAB sejak lahir, kemungkinan si kecil mengalami Atresia ani atau Anus imperforatus (pembentukan lubang anus yang tidak sempurna). Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah benar dan mengetahui sejauh mana tersumbatnya, sehingga dokter dapat menentukan terapi apa yang akan dilakukan.

- Bayi yang lahir dengan usia kandungan kurang bulan biasanya sering mengalami distres pernapasan (sesak) karena kekurangan surfaktan, penyakitnya disebut HMD (Hyaline Membrane Disease).

- Pada bayi yang dicurigai menderita DBD (Demam Berdarah Dengue) ada pemeriksaan foto khusus, yaitu RLD (Right Lateral Decubitus) untuk melihat apakah ada cairan pada kantung paru-paru (efusi pleura). Jika ditemukan menandakan derajat keparahan sudah tinggi.

- Bone age (untuk melihat apakah pertumbuhan bayi sesuai dengan usia), dilakukan jika ada kecurigaan adanya ketidakseimbangan. Misalnya, bayi usia 1 tahun tetapi pertumbuhannya seperti usia 6 bulan. Namun biasanya tes ini dilakukan pada anak-anak di atas usia bayi.

USG

USG atau ultrasonografi adalah suatu imaging diagnostic menggunakan gelombang ultrasound dimana dapat diketahui bentuk, ukuran, gerakan serta hubungan dengan jaringan sekitarnya. Sampai saat ini, USG dianggap pemeriksaan PALING AMAN karena tidak menggunakan sumber sinar X maupun magnetik.

Dibagi menjadi USG 2, 3 dan 4 dimensi, semakin tinggi angkanya maka semakin jelas ‘gambaran’ yang dihasilkan. Pada bayi biasanya dilakukan saat diduga ada kelainan di dalam perut (USG Abdomen), diduga adanya hidrosefalus (USG Kepala) atau adanya cairan di kantung paru (USG paru).

Khusus USG perut, sebaiknya puasa karena jika ada makanan dalam perut – misalnya susu - dapat mengganggu hasil pemeriksaan. Semakin lama puasa, semakin banyak minum (air putih) dan menahan pipis akan semakin baik hasil fotonya.

Tapi hal ini sulit dilakukan pada bayi mengingat jika lapar bayi justru akan rewel saat diperiksa. Jadi, jika dapat, minimal dua jam sebelum USG jangan diberi makan atau susu terlebih dulu. Namun, pada pemeriksaan USG kepala atau jaringan superfisial, bayi tidak perlu puasa dulu.

CT Scan

CT Scan atau Computerized Tomography Scanning adalah pemeriksaan pencitraan medis yang menggunakan pesawat CT Scan, tabung sumber sinar X dan detektor. Terbagi menjadi beberapa slice (potongan gambar penampang jaringan), mulai dari 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64 sampai 128 slice. Semakin banyak slice akan semakin akurat.

Pemeriksaan ini dipilih untuk mengetahui kelainan yang sulit dideteksi melalui pemeriksaan rontgen, misalnya hidrocephalus. Atau, untuk memastikan adakah gangguan pada otak bayi, misalnya pada bayi yang ibunya positif terinfeksi TORCH sewaktu hamil.

Bisa juga dilakukan pada bayi yang mengalami trauma, seperti terjatuh yang disertai kehilangan kesadaran atau muntah hebat setelah terjatuh. Pada saat dilakukan pemeriksaan bayi harus dalam posisi tenang, sehingga tak jarang bayi harus didampingi atau diberikan obat agar tenang.

MRI

Magnetic Resonance Imaging adalah alat diagnostik canggih yang menggunakan medan magnet dan gelombang frekuensi radio yang menghasilkan gambaran potongan tubuh. Dapat dilakukan pada seluruh bagian tubuh, utamanya pada area kepala dan tulang belakang, yang kadang pada pemeriksaan CT Scan kurang jelas hasil pemeriksaannya.

Dibandingkan pemeriksaan lain, gambar yang dihasilkan lebih jelas tanpa melibatkan radiasi dan dapat dilihat dari berbagai sisi tanpa harus mengganti posisi pasien. Prosedur ini tidak membutuhkan persiapan khusus dan tidak menimbulkan sakit, kerusakan jaringan atau lainnya.

Namun karena berada dalam medan magnet yang memungkinkan menarik benda bersifat logam, penting untuk melepaskan benda logam sebelum memulai prosedur pemeriksaan. Sebaliknya, bagi pasien yang memiliki benda logam dalam tubuhnya (seperti pacemaker pada jantung, pen/wire pada operasi patah tulang, alat bantu dengar dan lainnya), prosedur MRI dapat dibatalkan karena dikhawatirkan dapat menciderai pasien. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie) (ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »