Batik Kudus Kian Memesona

Minggu, 2 Oktober 2011 - 13:26 wib | SINDO -

Batik Kudus Kian Memesona (Foto: Fitri/okezone) PADA ajang World Batik Summit 2011, kehadiran batik Kudus semakin ramai diperbincangkan. Batik yang hampir terlupakan ini semakin terangkat dengan beragam modifikasi yang jauh lebih modern.

Batik Kudus sudah dikenal sejak tahun 1935 dan merupakan karya multikultural budaya Arab (Islam) dan China yang beradaptasi dengan budaya lokal. Sebagai batik yang dihasilkan di daerah pesisir, warna dan desain coraknya yang unik menggambarkan pengaruh berbagai kultur yang bergabung menjadi satu.

“Batik Kudus itu baik motif maupun warnanya sangat multikultural, hasil perpaduan beberapa budaya yang ada di Kudus. Karena itu, batik ini cukup unik dan menarik,” kata Pembina Perajin Batik Kudus Perkumpulan Rumah Pesona Kain (RPK), Ade Krisnaraga Syarfuan,di sela-sela pergelaran busana RPK dalam World Batik Summit 2011.

Kudus juga terkenal dengan batik kaligrafi.Batik Kudus yang bercirikan kaligrafi Arab ini diproduksi di daerah Kudus Kulon (barat) yang merupakan pusat kegiatan Islam di Pulau Jawa. Pengaruh budaya Islam ini terlihat dari motif kaligrafi dan warna gelap, seperti biru tua, merah hati, dan cokelat.

Warna-warna batik Kudus didapatkan dari pewarna alami yaitu warna merah dari akar pohon mengkudu, warna cokelat dari kayu tingi, dan warna biru/indigo dari daun nila.Penggunaan pewarna kimia juga dilakukan untuk mendapatkan warna cerah.

“Kami tentu tidak bisa berbohong bahwa memang pada kenyataannya masih menggunakan pewarna kimia, tetapi dalam kadar yang wajar serta tidak berlebihan,” tutur Ade.

Meski demikian, lanjut Ade, tidak semua batik Kudus diberi campuran pewarna kimia karena masih ada yang menggunakan 100 persen pewarna alami. “ Warnanya memang tidak secerah dengan yang diwarnai secara kimia, tapi tetap terlihat bagus,” ujarnya.

Selain batik kaligrafi, dikenal pula batik peranakan. Batik ini terkenal karena warnanya yang cerah. Berbeda dengan batik peranakan, batik Kudus berwarna dasar sogan (kecokelatan) seperti umumnya batik Pekalongan, Lasem, dan lain-lain.

Batik-batik ini dihiasi dengan corak buketan (bunga), kupu-kupu, atau burung dengan warna cerah. Karena pembuatannya yang sulit dan butuh waktu lama, batik jenis ini harganya mahal dan umumnya digunakan oleh kalangan menengah atas.

Harga batik Kudus saat ini sekira Rp300 ribu sampai Rp1 juta. Adapun untuk motif tertentu yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, harganya bisa mencapai Rp3 juta ke atas.

Pengerjaan batik Kudus terbilang sangat halus dengan isenisen (detail) yang rumit, antara lain isengabah sinawur (gabah bertebaran), moto iwak(mata ikan), dan mrutu sewu (seribu cecek/titik). Motif batik Kudus,di antaranya ada yang mirip dengan nama-nama batik di daerah lainnya, misalnya Dlorong Kembang Randu (di Indramayu terdapat batik motif Dlorong), dan Kapal Kandas (pada beberapa batik daerah pesisir seperti Cirebon dan Indramayu terdapat corak Kapal Kandas).

“Untuk mengerjakan batik Kudus yang pertama harus dimiliki adalah gairah, kemudian semangat, kesabaran, dan keuletan. Membatik itu mudah kalau dasarnya sudah punya ketertarikan terhadap batik,” tutur seorang perajin batik Kudus yang karyanya dipamerkan di Museum Tekstil, Jakarta, Hartono Sumarsono.

Para desainer yang pernah terlibat menggunakan batik Kudus dalam rancangannya adalah Oscar Lawalata dan Barli Asmara. Beberapa waktu lalu Barli Asmara bekerja sama dengan RPK juga menggelar pergelaran busana bertajuk “Pesona Batik Kudus” di Graha Bimasena, Hotel Dharmawangsa, Jakarta. Adapun koleksi batik Kudus karya Oscar Lawalata baru dipamerkan pada hari pertama World Batik Summit 2011. (ftr)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »