Rencana Strategis Kemenparekraf di Sektor Ekonomi Kreatif

Kamis, 27 Oktober 2011 - 16:38 wib | Pasha Ernowo - Okezone

Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf)/Ist

Rencana Strategis Kemenparekraf di Sektor Ekonomi Kreatif
JAKARTA - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah menyusun rencana strategis terkait ekonomi kreatif.

Menurut Mari Elka, Rencana Strategis Kementerian (Renstra) itu akan selesai akhir tahun ini, begitu juga dengan cetak biru pengembangan ekonomi kreatif.

Masalah anggaran juga tak kalah penting. Kemenparekraf sedang membahas masalah anggaran dengan Kementerian Keuangan, Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, dan Dewan Perwakilan Rakyat. Sementara struktur organisasi barunya, sedang dikoordinasikan dengan Kementerian Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Selama ini, sektor ekonomi kreatif bernaung di bawah Kementerian Perdagangan (Kemendag). Tugas pertama yang akan dilakukan Kemenparekraf, ialah berkoordinasi dengan kementerian lain, termasuk Kemendag, agar Kemenparekraf menjadi pemimpin di sektor ekonomi kreatif. “Hal ini dilakukan agar tidak ada tumpang tindih pekerjaan,” kata Mari Elka, dalam jumpa pers di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (26/10/2011).

Setelah itu, lanjut Mari Elka, pihaknya akan menyusun subsektor industri yang berada di bawah naungan Kemenparekraf. Pasalnya, ekonomi kreatif bertumpu pada 14 subsektor industri, meliputi periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotografi, music, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fesyen, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan komputer dan piranti lunak, serta penelitian dan pengembangan.
 
Mari Elka juga berniat memasukkan kuliner dalam ekonomi kreatif. Karena memang ada kaitan kuat antara ekonomi kreatif dengan pariwisata. “Pariwisata adalah konsumen ekonomi kreatif. Wisatawan pasti mencari kuliner atau oleh-oleh khas daerah yang mereka kunjungi,” tegasnya.

Dalam cetak biru pengembangan ekonomi kreatif, suatu daerah yang memiliki ciri khas ekonomi kreatif, akan dijadikan zona kreatif untuk menambah daya tarik wisata. Mari Elka memberi contoh pada kota Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta, sebagai zona kreatif khusus batik. Nantinya, pembangunan ekonomi kreatif ini akan dikategorikan berdasarkan koridor, agar pengelolaanya terorganisir. (rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    "Pesta Rakyat Kok Sisakan Sampah"