Kue Tempo Dulu Khas Betawi

|

SINDO -

Kue cucur (Foto: bumbudapur)

Kue Tempo Dulu Khas Betawi
KUE cucur, apem, putu, kembang goyang, dan dodol merupakan panganan khas Betawi tempo dulu. Keberadaan kue-kue ini makin menguatkan kekayaan kuliner tanah Jakarta. Sayang, kudapan tersebut kini kian lenyap ditelan waktu.

Betawi bukan hanya terkenal akan kelezatan masakannya,namun juga camilan yang membuat kangen. Sebut saja kue cucur, apem, putu, dan sebagainya yang sering disebut jajanan pasar. Sayang, keberadaan kue-kue ini punah seiring bergantinya zaman.

Edisi Dapur Hypermart kali ini khusus membahas aneka kue tempo dulu dari kota megapolitan Jakarta. Anda yang pernah berkunjung ke ajang Pekan Raya Jakarta, pasti tidak sulit menemukan panganan khas Betawi.

Biasanya dalam perhelatan yang berlangsung setahun sekali dalam rangka menyemarakkan hari ulang tahun Kota Jakarta itu, makanan-makanan asli Betawi kembali ditampilkan ke tengah masyarakat. Dengan demikian, makanan itu pun setidaknya masih bisa diketahui oleh generasi muda dan sedikit mengobati kerinduan akan kuliner tempo dulu bagi mereka kalangan tua.

Sebenarnya bukan hanya pada ajang Pekan Raya Jakarta kue-kue tersebut muncul. Pada hari raya Idul Fitri, masyarakat Betawi umumnya sengaja membuat panganan khas tadi, khususnya sebagai hantaran saat berkunjung ke rumah sanak saudara.

“Kue seperti kembang goyang dan dodol ataupun uli biasa dinikmati saat Lebaran. Masyarakat Betawi khusus membuat kue tersebut,” kata Chef Yudhi Dwi Guna yang menjadi pengajar di sekolah masak Chez Lely di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Beberapa hari menjelang Lebaran, tukas Yudhi, masyarakat Betawi sudah sibuk membuat dodol. Dodol diolah pada wajan berukuran sangat besar dan dimasak menggunakan kayu bakar. Dodol terus diaduk secara bergantian hingga matang, menggunakan kayu pengaduk yang panjang.Beda dengan dodol dari daerah lain seperti Garut atau Palembang yang biasanya diberi tambahan rasa buah, dodol Betawi hanya memakai gula jawa beserta santan.

“Santan yang membuat gurih dodol. Kalau mau dijual, makin banyak santannya, maka dodol akan semakin mahal,” terang Yudhi, yang masih keturunan Betawi.

Meskipun popularitasnya mulai menurun, namun masyarakat Betawi terbilang masih peduli untuk melestarikan kue-kue tradisionalnya. Bahkan, mereka berupaya menghadirkan inovasi pada kue Betawi ini.Kembang goyang misalnya.

Varian rasa kue ini bertambah, bukan cuma manis, ada rasa gurih, keju, dan pandan. Bentuknya yang menyerupai bunga tampil semakin semarak dengan aneka warna. Karena digoreng kering, kue ini amat renyah Kue kembang goyang mudah dibuat dengan bahan baku yang juga gampang didapat. Sebab, bahan bakunya biasa digunakan untuk memasak sehari-hari.

Ada lagi uli. Panganan ini dibuat dari bahan dasar beras ketan dan kelapa parut, yang dimasak dengan cara dikukus. Setelah matang, adonan uli itu ditumbuk hingga halus yang kemudian didinginkan dan disajikan dalam bungkusan daun pisang. Uli lazim dinikmati untuk sarapan bersama teh atau kopi.

Kue cucur di beberapa tempat masih ada yang menjajakan. Kue yang terbuat dari tepung beras ini berwarna cokelat, yang pada bagian tengahnya lebih tebal dari pada tepi-tepinya.

Berbeda dengan pesor, meski tampilannya mirip lontong tapi ini bukan lontong. Rasanya pun lebih gurih dan pekat. Pesor biasanya dihidangkan ketika Lebaran bersama opor ayam dan sayur sambal godok khas Betawi.

Beberapa kue Betawi menggunakan kelapa atau santan sebagai bahan baku. Seperti putu mayang, kelepon, dedongkal, maupun putu. Putu berisi gula jawa dan parutan kelapa sebagai taburannya. Kue ini dibungkus dengan tepung beras, dan dikukus dengan diletakkan di dalam tabung bambu.

Biasanya penjual kue putu mulai berdagang sore hari. Suara khas uap yang keluar dari alat pengukus ini sekaligus menjadi alat promosi bagi pedagang yang berjualan. Karena alasan kepraktisan, sejumlah pedagang mengganti bambu dengan pipa PVC. Nah, inilah yang harus diwaspadai karena berbaya bagi kesehatan.

Kue lain yang terbuat dari tepung beras adalah dedongkal. Isi kue ini gula jawa yang manis. Kue-kue ini sama-sama memiliki topping berupa kelapa parut, sehingga jika dinikmati rasa gurih dan manis akan berpadu menjadi satu.

Kue pepe mungkin masih sering kita temui. Kue ini berbahan tepung sagu dengan kombinasi warna merah dan hijau. Kue yang teksturnya kenyal ini terdiri atas beberapa lapisan dua warna tadi.

Membuatnya butuh ketelatenan. Sebab, lapisan demi lapisan dibuat satu per satu kemudian dikukus sampai beku, baru ditambahkan adonan warna lain. Begitu seterusnya,dan terakhir dituanglah adonan merah. Jumlah adonan yang dituang pun harus sama banyak agar tiap lapisan sama tebal.

Sebenarnya masih banyak kue khas Betawi lain yang spesial. Seperti kue cincin, kue cawan, atau wajik. Dari sekian banyak kue khas Betawi, beberapa di antaranya masih bisa ditemukan di sejumlah penjual kue tradisional.

Sebagian kue lain sulit ditemukan di pasaran. Kalau pun ada, hanya muncul pada acara-acara khusus masyarakat Betawi seperti hajatan dan tentu saja Lebaran. Anda bisa ikut melestarikan kue-kue ini dengan membuatnya sendiri dari resep yang diberikan. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Dispenser Air Bentuk Sapi