Cari Keramik Perabot & Lantai? Datang Saja ke Rawasari

|

Pasha Ernowo - Okezone

Pasar Keramik Rawasari (Foto:Pasha/okezone)

Cari Keramik Perabot & Lantai? Datang Saja ke Rawasari
BAGI pencinta keramik, tentu tak asing mendengar kawasan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ya, sejak dahulu kawasan ini sangat terkenal sebagai destinasi belanja sentra industri keramik di Jakarta.

Saking tersohornya, nama Rawasari terdengar hingga luar Jakarta. Tak heran jika penggemar dan pencinta keramik dari berbagai daerah datang ke tempat ini untuk sekadar mencari berbagai koleksi keramik.

Kawasan ini tepat berada di sisi bypass Rawasari, Jakarta Pusat. Di kawasan tersebut, berjejer sekira 10 kios pedagang keramik dari yang awalnya sekira 50 kios lalu berkurang akibat penggusuran. Produk yang dijual beragam, dari peralatan rumah tangga seperti piring dan mangkuk sampai pajangan rumah seperti guci dan teko-teko China. Yang agak berbeda, selain keramik China buatan sekarang yang biasa disebut keramik sablon, di kawasan ini juga dijual keramik China semiklasik yang tak kalah jumlah peminatnya.

"Biasanya, keramik semiklasik dijadikan koleksi," kata Anto (40), pemilik Toko Dani, satu dari puluhan kios keramik di bypass Rawasari ketika ditemui okezone, baru-baru ini.

Diakuinya, pembeli yang datang juga pelanggan dari luar negeri. Harga keramik semiklasik cenderung lebih mahal daripada keramik sablon. Misalnya, sebuah teko China semiklasik yang tak begitu besar bisa ditawarkan seharga Rp350 ribu sedangkan teko keramik sablon ukuran yang sama harganya tak sampai Rp50 ribu. Jenis dan motifnya pun beragam, dari giok, keramik biru-putih, sampai keramik motif Retak Seribu. Produk keramik sablon yang dipajang di Toko Dani juga beragam, mulai piring, mangkuk, pot, guci, hingga piring pajangan dengan harga mulai Rp20 ribu sampai yang berharga jutaan rupiah.

“Barang kami ambil langsung dari Singapura melalui Batam. Omzetnya per hari bisa sekitar Rp5-7 juta. Yang paling ramai hari Jumat sampai Minggu,” lanjutnya.

Sementara itu, pemilik toko lainnya, Haryati (59) mengungkapkan bahwa bisnis keramik China di Rawasari sudah ada sejak 1983. Kini, sudah ada sekira 40-an kios yang menjual keramik sablon maupun semiklasik. Ia menjelaskan, yang paling dicari pelanggan biasanya perabot rumah tangga, pot tanaman, dan pajangan. Harganya pun beragam; sebuah piring keramik sablon, misalnya, mulai Rp10 ribu sampai Rp150 ribu.

“Beragam perabotan biasanya banyak dicari menjelang Lebaran. Saya bisa meraup omzet Rp8-10 juta per hari, belum lagi kalau ada pelanggan dari luar kota. Sekali transaksi bisa Rp30-40 juta,” akunya.

Keramik China lebih diminati ketimbang keramik lokal seperti buatan Plered. Selain harganya jauh lebih murah, keramik China juga lebih kuat dan biasanya handmade. Selain Jakarta, banyak juga pelanggan keramik China datang dari luar Jakarta, seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, Aceh, Manado, Lampung, bahkan luar negeri.

Selain itu, ada pula pusat sentra keramik lain yang berada di sepanjang Jalan Percetakan Negara menuju arah Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Kawasan ini seolah tidak pernah sepi dari aktivitas jual beli berbagai jenis keramik. Puluhan rumah toko (ruko) terlihat berjajar kurang lebih sepanjang satu kilometer menjalankan usaha yang sama.

Dody Rahmady (49), salah seorang pemilik ruko di kawasan tersebut mengaku telah merintis usaha berdagang keramik di kawasan Rawasari sejak 1990. Dirinya tidak tahu secara persis sejak kapan penjualan keramik di Rawasari mulai berlangsung.

“Kalau persisnya tak tahu, tapi dari cerita orang-orang proses jual beli keramik sudah ada sejak tahun 1985-an,” ujarnya.

Sementara itu, Markus Hartadi (52), pedagang lainnya menuturkan, proses jual beli keramik di kawasan Rawasari telah berlangsung cukup lama. Selain di Jalan Percetakan Negara, beberapa pedagang lain juga terlihat menjajakan barang dagangannya di sudut Jalan Ahmad Yani atau tepat di bawah Jalan Tol Rawasari. Namun ia menjelaskan, para pedagang yang menempati sudut Jalan Ahmad Yani tersebut kini sudah tidak ada lagi akibat terkena gusuran.

“Sebagian dari mereka ada juga yang pindah ke sini (Jalan Percetakan Negara-red),” katanya.

Kenang Markus, kondisi pertokoan keramik di Jalan Rawasari hingga Jalan Percetakan Negara begitu jarang dan hanya digeluti oleh beberapa orang. Jika dibandingkan dengan perdagangan keramik di Jalan Ahmad Yani, kondisinya lebih sepi. Hal tersebut menurut Markus karena lokasi yang berada di Jalan Ahmad Yani lebih strategis disbandingkan kondisi di Jalan Percetakan Negara. Namun lama-kelamaan, pembeli yang berdatangan ke lokasi Jalan Percetakan Negara terus saja berdatangan. Bahkan, lebih dari puluhan pedagang keramik kini menempati lokasi di Jalan Percetakan Negara.

“Saat ini jumlah pedagang keramik terus saja bertambah, seiring banyaknya pembeli keramik yang mengunjungi kawasan ini,” ungkapnya.

Markus mengaku, pembeli keramik di kawasan tersebut tidak sebatas berasal dari Jakarta, melainkan juga dari luar Jakarta, seperti Makassar, Riau, Balikpapan, Medan, dan sebagainya. Hal itu terlihat dari banyaknya pesanan keramik yang datang dari luar Pulau Jawa ke toko miliknya.

Ketenaran daerah Rawasari sebagai pusat penjualan keramik juga disebabkan banyaknya barang-barang lain yang diperdagangkan, seperti granite, porselene, marmer, dan lain sebagainya. Selain itu, terdapat pula lampu kristal, barang-barang pajangan dan hiasan, alat-alat dapur hingga barang-barang lainnya dari berbagai macam ukuran. Harganya bervariasi, tergantung jenis barangnya, mulai ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Tak hanya itu, kualitas dan keunikan suatu barang juga menjadi alasan harga barang menjadi mahal.

“Marmer, misalnya, harga marmer Tulungagung atau Pacitan mahal karena terbilang langka,” tutup Markus. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kuburan Massal di Aceh