Ungkap Penyebab Utama Anak Mengompol

|

Gita Ramadian - Okezone

Anak terlelap (Foto: Corbis)

Ungkap Penyebab Utama Anak Mengompol
URUSAN anak mengompol memang kerap memusingkan orangtua. Namun, Anda jangan stres. Kenali penyebabnya agar Anda dapat memahami dan mencari solusi tepat.
 
Bagi orangtua manapun, memiliki anak yang masih mengompol adalah sebuah masalah yang sangat merepotkan, terutama si anak melewati usia balita dan memasuki usia prasekolah. Secara umum, mungkin masalah ini kerap dianggap sepele sebagian orangtua. Padahal jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat membuat perkembangan mereka jadi kurang maksimal.
 
Kebiasaan mengompol (enuresis) bisa hilang seiring pertumbuhan usia. Namun penelitian menunjukkan, bahwa sekira 10 persen anak berusia enam tahun dan tiga persen anak berusia 14 tahun masih mengompol. Ketahui latarbelakang anak mengompol dalam dua kategori, seperti dipaparkan Child Development.
 
Primary enuresis
 
Anak-anak dengan kebiasaan mengompol yang masih terbawa hingga usia sekolah, sebenarnya masih dapat diobati dengan perawatan tepat. Penyebab pertama adalah kandung kemih yang belum berkembang dengan baik dan kedua pola tidur yang sangat lelap. Namun secara umum, faktor kedua ini merupakan penyebab paling besar.
 
Sering kali anak tidur terlalu lelap sehingga tidak sadar bahwa kandung kemih mengirim sinyal telah penuh kepada otak. Selain itu, diduga kebiasaan ini merupakan sesuatu yang diwariskan. Biasanya orangtua, paman, bibi, atau anggota keluarga lain pernah memiliki kondisi yang serupa.
 
Secondary enuresis
 
Anak-anak yang telah buang air kecil sebelum tidur namun tetap mengompol, hal ini biasanya terkait dengan stres yang dialami anak dalam kehidupannya. Masalah di rumah, masuk ke sekolah baru, atau masalah dengan saudara di rumah menjadi penyebabnya. Permasalahan lain seperti perceraian orangtua, keuangan, bahkan kekerasan dan kurangnya perhatian juga menjadi penyebab mengompol pada anak. Jika Anda menemukan gejala dan faktor seperti di atas, kunjungi dokter anak untuk mendapatkan diagnosis dan perwatan lebih lanjut. (ind)
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Salah Bergaul Penyebab Anak Jadi Pecandu Narkoba