Gairah Busana Titanic

|

SINDO -

Titanic (Foto: Google)

Gairah Busana Titanic
DUNIA memperingati 100 tahun tenggelamnya kapal Titanic dengan banyak cara, mulai pameran dan lelang “harta karun”, hingga fashion show sejarah yang menggambarkan gaya berbusana pada tahun 1912.
 
Pada 15 April 1912, kapal termewah di zamannya, RMS Titanic,karam di Samudra Atlantik setelah menabrak gunung es.Titanic,yang berlayar untuk pertama kalinya dari Southampton, Inggris,membawa kaum berduit dan ribuan emigran asal Inggris, Irlandia,dan Skandinavia menuju tanah impian baru,Amerika Serikat.Namun,ternyata kapal raksasa yang menjadi perlambang kemewahan dan inovasi terbaru dalam teknologi dunia perkapalan tersebut tidak mampu melawan ganasnya samudra dan lautan es.
 
Pada akhirnya, tragedi maritim terbesar pada abad ke-20 tersebut menjadi bagian dari sejarah yang tidak pernah berhenti diceritakan. Kini memperingati satu abad tenggelamnya Titanic, berbagai acara dan kegiatan nostalgia dilakukan. Mahasiswa Fashion Design & Merchandising West Virginia University bekerja sama dengan Preston Community Arts Center di West Virginia,Amerika Serikat,menggelar Fashion and Tea on the High Seas,acara yang menggabungkan pergelaran busana sejarah dan tradisi minum teh khas Inggris.
 
Acara untuk kalangan terbatas yang menetapkan tiket masuk sebesar USD30 itu menampilkan historical fashion show dari mahasiswa Jurusan Desain Mode West Virginia University.Mereka mencoba menghidupkan kembali busana dari tahun 1912. Dr Lynn Barnes,Ketua Jurusan Fashion Design & Merchandising West Virginia University menuturkan, selama satu tahun para mahasiswa tersebut melakukan riset dan wawancara untuk mendapatkan data dan detail yang diperlukan guna membuat kembali busana dan aksesori yang sama persis seperti yang dikenakan para penumpang Titanic pada 100 tahun lalu.“Ini adalah fashion show mengenai era yang telah hilang,”tutur Barnes.
 
Emily Dearth memilih Eva Miriam Hart yang pada usia 7 tahun menumpang Titanic dari Southampton. Eva mengatakan kepada Dearth bahwa dirinya selamat dan berhasil naik ke kapal penyelamat RMS Carpathia setelah dinaikkan ke sekoci nomor 14 oleh ayahnya.Dari hasil wawancara intensif Dearth dengan Eva,juga riset mendalam mengenai teknik pembuatan busana pada awal abad ke-20,dia menyimpulkan bahwa chemise menjadi kunci utama yang membentuk siluet sebuah gaun.
 
“Chemise memberi siluet tubuh yang berlekuk dan menegaskan bentuk bokong,”papar Dearth,yang juga secara detail membuat penahan stoking,korset,penutup korset,petticoat, dan gaun.“Betapa mengagumkan melihat masa lalu,wanita menggunakan busana berlapis-lapis untuk penampilan terhormat,”katanya, sembari mengatakan kesulitan terbesar dari pembuatan busana sejarah tersebut terletak pada pemilihan warna.“Kebanyakan foto dan film masih hitam-putih pada masa itu,”imbuh Dearth.
 
Adapun Mary Pietranton menyebutkan,untuk membantu memilih warna yang sesuai, mereka juga melakukan banyak riset dari sejumlah majalah mode yang secara detail menjelaskan tren dan warna pada masa itu.Dr Barnes,sang ketua jurusan, juga tidak ketinggalan mendesain gaun yang terinspirasi dari hasil wawancaranya dengan penyintas penumpang kelas satu Titanic, Edith Louis Rosenbaum.
 
Lain West Virginia, lain juga Denver yang menggelar Titanic Survivor Brunch, sebuah acara makan siang yang diramaikan dengan Frock Out 2012: Come Undone, pergelaran busana bertema Titanic yang disarikan dari busana para penyintas yang berhasil naik ke Carpathia. Penyelenggara acara,Chris Loffelmacher, mengatakan Titanic adalah mikrokosmos sosial yang tidak hanya menggambarkan keadaan sosial budaya pada awal abad ke-20,juga warisan yang memberi inspirasi dan terus memperkaya budaya populer hingga kini.
 
Adapun kota kecil Williamstown di Melbourne,Australia,memperingati 100 tahun tenggelamnya Titanic dengan pameran busana tahun 1912 bertema Dressed for the Voyage di Williamston Town Hall. Pameran juga digelar oleh Premier Exhibition di Atlanta.Tidak hanya menampilkan koleksi fashion dari tahun 1912,pameran tersebut juga memperlihatkan artefak dan “harta karun”lainnya yang berhasil diambil dari Titanic,yang kini beristirahat dengan damai jauh di dasar lautan.
 
Dari 5.000 koleksi yang dipamerkan, hampir seluruhnya berupa item fashion,baik berupa sarung tangan, topi,perhiasan,gaun,bahkan sebuah tas tangan kulit buaya,yang “terawetkan”oleh dinginnya lautan. David Galusha,kurator pameran, mengatakan bahwa seluruh artefak dan relik Titanic yang dipamerkan berasal dari tujuh ekspedisi yang dilakukan sejak 1985.Adapun Galusha mengatakan,selain pameran,Premier Exhibition juga berniat melakukan lelang koleksi yang diprediksi total bernilai USD190 juta (Rp1,74 triliun).
 
“Artefak fashion bercerita lebih banyak mengenai pemiliknya, dibandingkan benda-benda lain,” sebut Galusha. Pendapat Galusha didukung pernyataan desainer kostum pemenang Academy Award,Deborah L Scott,yang mendesain kostum untuk film Titanic arahan James Cameron.“ Busana adalah sesuatu yang personal menggambarkan tidak hanya tren yang berlaku,juga attitude dan karakter pemakainya,”kata Scott.
 
Lebih dari itu,Scott mengatakan, busana adalah simbol yang menegaskan status sosial seseorang. “Dan,para penumpang Titanic dengan jelas membedakan status mereka melalui fesyen,”papar Scott. “Busana merupakan penjelasan mengenai siapa kita.Sepatu,rompi, jaket,celana atau gaun yang kita kenakan berfungsi lebih dari sekadar penutup tubuh,tapi merupakan sesuatu yang paling dekat dengan tubuh kita,”pungkasnya.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Indonesia Menuju Kiblat Fesyen Asia Tenggara