Batik Papua Kian Populer

Kamis, 31 Mei 2012 - 13:57 wib | SINDO -

Batik Papua (Foto: cloud.papua.go.id)

Batik Papua Kian Populer
BATIK memang mendarah-daging di Pulau Jawa, namun dengan booming batik beberapa tahun lalu, batik melanglang ke seluruh nusantara, termasuk menyelusup ke Papua.

Tapi, berbeda dengan batik khas Jawa Tengah yang berlatar gelap atau batik pesisir yang penuh warna-warni, batik Papua memiliki ragam hias berbeda. Bila pada umumnya ragam hias motif batik merupakan simbolisasi tradisi, di Papua, motifnya justru diadaptasi dari produk budaya khas daerah serta panorama alam. Proses pembuatan Batik Papua sebenarnya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik dari Jawa.

Hanya saja, bila di Tanah Jawa, pengerjaan batik semakin kontemporer, di Papua, batik masih dikerjakan secara tradisional menggunakan canting dan lilin. Salah satu batik Papua yang kehadirannya kian populer adalah Batik Kamoro, yang memperkenalkan keindahan alam serta keunikan seni ukir Suku Kamoro melalui motif-motifnya. Bahkan kini, batik dari negeri cendrawasih tersebut hadir dalam berbagai bentuk yaitu kemeja,  gaun, selendang bahkan bed cover.

Pamor batik Papua yang semakin merebak tidak terlepas dari peran pelaku mode yang mengembangkan Batik Papua, salah satunya Jimmy Hendrick Afaar. Kembali bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia, Jimmy Afaar menghadirkan fashion show dan pameran Batik Kamoro di Jakarta. Ramdani Sirait, Juru Bicara PT Freeport Indonesia mengatakan, pihaknya sangat mendukung pengembangan Batik Papua, termasuk Batik Kamoro.

“Dukungan itu kami wujudkan mulai dari memfasilitasi penelitian sejarah dan filosofi seni ukir Kamoro yang diangkat menjadi motif batik, sampai pada mempromosikan dan memasarkan hasil karya seni batik dan ukiran tersebut,” terang Ramdani. Adapun Jimmy menjelaskan, dirinya dengan bantuan PT Freeport Indonesia, mengembangkan Batik Kamoro melalui pelatihan membatik bagi para ibu-ibu, yang beberapa diantaranya kini sukses menjadi pembatik di bawah binaan Jimmy Afaar.

Saat ini, Jimmy telah memiliki 15 karyawan dengan kapasitas produksi batik per bulan sebanyak 2000 potong batik cap dan 16 potong batik tulis berbahan katun dan sutra, yang dijual dengan harga antara Rp 200.000 sampai Rp 15 juta per potong. Selain batik, Suku Kamoro, yang merupakan salah satu suku besar di Kabupaten Mimika,Papua, juga memamerkan kerajinan seni ukir.

Uniknya, ukiran Suku Kamoro bukan hanya digunakan hanya pada benda-benda ritual, melainkan dengan mudah dapat ditemui dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ukiran Kamoro dikategorikan dalam banyak kelompok. Ukiran yang paling besar berupa tiang besar yang tingginya bisa mencapai 10 meter, lainnya adalah ukiran pada yamatei (perisai), wemame, serta ukiran pada alat musik eme (tifa). (tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Begini Cara Regina 'Idol' Rawat Organ Intim