LANGKAH industri mode Indonesia menuju liga mode global sudah terlihat mantap. Wacana Indonesia sebagai salah satu pusat mode internasional pada 2025 merupakan mimpi indah yang mulai mewujud nyata.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pernah berujar, “Saya harap
the next Prada bisa datang dari Indonesia.” Harapan yang kini mulai mewujud nyata lewat semakin banyaknya perhelatan mode yang reguler digelar setiap tahunnya,terutama di Jakarta. Bahkan, bisa dikatakan bahwa kini Jakarta tengah mewujudkan mimpi sebagai panggung mode internasional. Banyak desainer asing yang memilih Jakarta sebagai panggung pergelarannya.
Pada hari pertama penyelenggaraan
Jakarta Fashion Week (JFW) 2011, misalnya, panggung Jakarta diramaikan para “pembesar mode” Asia Tenggara. Bernard Chandran asal Malaysia, Ashley Isham dari Singapura, serta duo Saksit Pisalasupongs dan Phisit Jongnarangsin dari label Tube Gallery asal Thailand. Mereka menghadirkan koleksi terbaru di hadapan
fashionista Jakarta.
Tidak berhenti sampai di situ, pada hari ketiga, JFW ditutup dengan koleksi kolaborasi perancang topi Inggris, Justin Smith, dan desainer papan atas Oscar Lawalata. Kemudian pada hari keempat dan keenam, JFW menyambut kedatangan desainer Berlin, alumnus
Berlin Fashion Week, serta duo desainer Meksiko, Cristina Pineda dan Ricardo Covalin. Hal tersebut menunjukkan bahwa Jakarta memiliki daya tarik tersendiri sebagai sebuah
fashion capital di Asia Tenggara.
Di mata industri mode internasional, Jakarta terbilang sebagai kota mode baru. Meskipun begitu, Jakarta secara perlahan menunjukkan potensinya sebagai sebuah kota mode mandiri. Tidak hanya memiliki potensi sumber daya manusia, Jakarta juga diberkahi mata rantai industri yang lengkap dari hulu ke hilir.
Ada juga perhelatan akbar
Indonesia Fashion Week (IFW) yang memulai debutnya pada Februari lalu. Sebagai sebuah
event yang baru pertama kali diselenggarakan, IFW memanggul beban berat. Pasalnya, IFW adalah pekan mode pertama yang berhasil menyinergikan pelaku mode, pihak swasta, dan pemerintah dalam sebuah wadah untuk bersama-sama menjalankan cita-cita besar, yakni Indonesia sebagai kapital mode dunia sejajar dengan New York, London, Milan, dan Paris.
IFW membuktikan diri sebagai sebuah
platform internasional. Pasalnya, kendati masih menargetkan buyer domestik, IFW sudah bisa menarik perhatian buyer mancanegara yang terlihat hilir mudik, menilai, dan memilah produk-produk Indonesia berkualitas yang ditawarkan ratusan peserta pameran.
Ya, tidak hanya menggelar
runway show dari para desainer papan atas Tanah Air, juga desainer internasional.
IFW juga merupakan pekan mode pertama yang mengombinasikan
fashion show dan pameran dagang produk
fashion, seminar edukatif,
talkshow, dan kompetisi untuk wirausahawan fashion. Terdapat lebih dari 400 label dan 200 desainer yang terlibat dalam IFW 2012.
Direktur IFW 2012 Dina Midiani mengatakan, pelaksanaan pekan mode Indonesia kali ini merupakan tahap pertama dari tiga tahapan IFW untuk menuju panggung dunia pada tahun 2025.
Dalam rencana kerja Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sebagai penyelenggara IFW, tahap pertama akan berlangsung selama tiga tahun mulai 2012- 2014. Pada tahap tersebut penguasaan pasar domestik menjadi target utama. Tahap selanjutnya, IFW menyasar pasar Asia selama empat tahun berikutnya.
Adapun di tahap ketiga, diharapkan IFW bisa menjadi
platform Indonesia untuk membawa industri mode Tanah Air menuju liga mode internasional. Dina menilai ketertarikan pihak luar terhadap industri mode Indonesia terbilang besar.
“Sayangnya pihak kita yang belum siap menghadapi mereka,” ujar Dina sembari memaparkan kelemahan industri mode Indonesia terletak di rantai material dan produksi. “Mereka suka produk kita dan cara pengerjaan yang begitu detail.
Namun, jika
buyer asing memesan dalam jumlah besar, pihak kita yang tidak bisa memenuhi, itu yang harus kita benahi,” paparnya.
Sementara Poppy Dharsono, penggagas APPMI mengatakan, industri mode Indonesia kebanyakan masih berbentuk industri rumahan. Padahal, untuk menjadi pusat mode, Indonesia harus terlebih dulu membangun fondasi industri
fashion, sekaligus memiliki ciri khas yang menjadi pembeda.
”Kita bisa menuju ke sana. Namun, sebelumnya
fashion Indonesia harus di-
switch dulu ke industri. Sementara, saat ini
fashion kita masih dalam tahap home fashion industry,” sebutnya.
Namun, titik terang mulai terlihat. Dalam sepuluh tahun terakhir, industri mode Indonesia berkembang pesat yang juga didukung penguatan pasar dalam negeri. Kelas menengah Indonesia menjadi pendorong utama.
Menurut survei Bank Indonesia, sepanjang 2010, total belanja masyarakat kelas menengah terhadap produk
fashion mencapai angka Rp113,4 triliun.
(tty)