Desainer Indonesia di Panggung Dunia

|

SINDO -

Ardistia New York (Foto: hersmagz.com)

Desainer Indonesia di Panggung Dunia
INDONESIA mencatat prestasi yang terbilang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Semakin banyak desainer Tanah Air yang telah memantapkan namanya di panggung internasional.

Priyo Oktaviano, Auguste Soesastro, Farah Angsana, Didit Hediprasetyo, Harry Halim, Liquica Anggraini, dan Ardistia Dwiasri adalah barisan desainer muda yang patut diberi acungan jempol. Mereka berhasil mengibarkan bendera mode Indonesia di panggung internasional. Di mata dunia, fashion Indonesia sebenarnya terbilang potensial. Terbukti dari produk Tanah Air yang selalu laris manis ketika diboyong ke mancanegara, terutama jika dibuat dari tekstil Nusantara.

Para desainer tersebut berhasil membuktikan bahwa mode Indonesia mampu bersaing dengan desainer kelas dunia. Bahkan, memberi hembusan angin segar melalui sentuhan etnik, baik dari penggunaan kain maupun cutting bergaris tradisional. Sebelum para desainer muda tersebut ”unjuk aksi”, beberapa desainer Tanah Air sudah lebih dulu menancapkan kuku di pasar global dengan mengikuti pekan mode internasional, seperti Hong Kong Fashion Week, Singapore Fashion Festival, maupun London Fashion Week.

Ali Charisma, yang kerap mondar-mandir di panggung Hong Kong, menilai partisipasi desainer Indonesia di panggung mancanegara sebagai kesempatan untuk mempromosikan perancang Indonesia, sekaligus mempelajari seluk-beluk bisnis mode internasional. ”Yang pasti, saya dapat belajar mengenai konsep bisnis mode yang komprehensif, dari hulu sampai hilir,” katanya.

Namun, Auguste, Farah, Didit, Liquica, dan Ardistia berhasil membawa bendera Indonesia ke level yang lebih tinggi. Tidak memulai di Tanah Air dan kemudian membawa label mereka ke panggung global, sebaliknya mereka memulai langsung di catwalk internasional. Farah, Auguste, Liquica, dan Ardistia berjaya di panggung New York. Sementara Didit dan Harry menggebrak Paris.

September tahun lalu, Farah, desainer kelahiran Medan ini, mempersembahkan koleksi bertema Oriental di panggung New York Fashion Week. Farah menyebutkan bahwa koleksi tersebut terinspirasi dari tradisi hanamidi Jepang, juga dari lukisan yang dilihatnya di galeri seni Shanghai.Kepada Seputar Indonesia, Farah mengatakan, kendatipun tidak tinggal di Indonesia dan memiliki basis bisnis di Zurich, Swiss, Indonesia selalu tetap ada di hatinya.

”Saya selalu mengatakan bahwa saya adalah desainer yang lahir di Indonesia. Karena itu,saya selalu membawa Indonesia ke mana pun saya melakukan pertunjukan,” katanya, yang selalu merasa bangga bisa menjadi orang Indonesia yang berpartisipasi di ajang pekan mode internasional.Farah juga merupakan desainer kelahiran Indonesia pertama yang bisa mempertunjukkan koleksinya di Paris Fashion Week.

Farah menilai Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial dan memasuki pasar Indonesia merupakan salah satu agenda besar Farah.”Saya percaya bahwa konsumen Indonesia sangat sadar mode dan hal tersebut membuat saya sangat terkesan,” katanya. Selain Farah, panggung New York juga diramaikan oleh label Raden Roro yang dibesut Liquica Anggraini.

Desainer muda tersebut memulai debutnya di dunia mode internasional pada 2008 dengan membawa Raden Roro yang mengusung gaya etnik Indonesia dalam kemasan modern.Seperti juga Farah,Liquica tidak memiliki basis bisnis di Indonesia, melainkan di NewYork, tempat proses desain, produksi, dan manufaktur Raden Roro berlokasi. Tidak jauh berbeda dengan Ardistia yang membawa label Ardistia New York.

Ardistia Dwiasri merilis koleksi debutnya pada 2007 setelah menimba ilmu di Gap, Ann Taylor, Tommy Hilfiger, dan Diane von Furstenberg. Gadis lulusan sekolah mode Parsons ini juga menjadi pemenang kompetisi mode Biore/Gen Art Fashion Award.Koleksinya sudah terjual luas di seluruh Amerika Serikat, Kanada, Eropa serta Asia.

Di Indonesia, Ardistia beberapa kali melakukan pergelaran busana, baik dalam ajang belanja fashion dan pergelaran busana yang bersifat privasi atau untuk kalangan terbatas di Indonesia. ”Konsep label Ardistia New York memang kami pilih untuk memantapkan terlebih dulu di New York, sebelum akhirnya melebarkan sayap di negara-negara lain,termasuk Indonesia.Teman-teman dari Indonesia yang ingin lihat koleksi terbaru saya,biasanya hanya saya undang ke acara private shopping.

Tapi sekarang, label Ardistia New York semakin banyak dicari di Jakarta,”ujarnya. Adapun kisah Auguste Soesastro mengalir unik. Membawa label Kraton,  Auguste sebenarnya ingin menjadi ”duta” Indonesia dengan mengibarkan bendera mode di Negeri Paman Sam. Namun, meninggalnya sang ayah, ekonom Hadi Soesastro, membawa Auguste kembali ke Jakarta.

Sebelum terjun ke industri mode, Auguste mempelajari film dan seni digital di Australian National University, dan kemudian melanjutkan ke Chambre Syndicale de la Couture di Paris, tempat dia mempelajari teknik dan craftmanship adibusana yang merupakan kekuatan rancangannya. Tidak hanya di panggung New York, panggung Paris juga disemarakkan oleh desainer Indonesia.

Dua desainer muda, Didit Hediprasetyo dan Harry Halim, menjadi dua nama up and coming designers yang tengah naik daun di Paris Fashion Week. Harry Halim, yang berbasis bisnis di Singapura, bahkan berkesempatan membuka pergelaran Pekan Mode Paris dengan koleksi serbahitam. Sementara, Didit yang merupakan lulusan sekolah mode Parsons di New York dan Paris mengharumkan nama Indonesia di pergelaran Paris Haute Couture. (tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Guys, Ini Cara Bersihkan Rambut setelah Pakai Pomade