PANGGUNG mode Brasil selalu penuh dengan warna. Tak terkecuali Rio Fashion Week yang kini mendapat predikat baru sebagai bikini fashion capital.
Desainer bintang asal Rio de Janeiro, Alexandre Herchcovitch, membuka tirai
Rio Fashion Week dengan gaya industrial yang membuktikan bahwa Rio de Janeiro bukan sekadar destinasi wisata tropis di Amerika Selatan, melainkan punya sisi industrial yang cukup bersaing.
Herchcovitch mengatakan bahwa selama ini para turis mengunjungi Rio de Janeiro dan Sao Paulo untuk mendapatkan pengalaman berlibur eksotis. Padahal, masih banyak sisi lain yang dimiliki Brasil, salah satunya sebagai negara industri.
”Orang-orang berpendapat bahwa Brasil adalah destinasi wisata eksotis dan pusat operasi plastik, tapi ada sisi lain yang juga dimiliki Brasil dan tidak banyak diketahui orang. Seperti halnya industri yang menjadi tulang punggung ekonomi negara atau kemampuan Brasil dalam membuat kain-kain terbaik di dunia. Itu yang ingin saya tunjukkan melalui koleksi ini,” papar Herchcovitch.
Di atas panggung, Herchcovitch menghadirkan kekuatan mode Brasil yang didasarkan pada permainan warna. Dia mengambil inspirasi dari gaya
proto-hipsters tahun 1980-an yang dituangkan dalam siluet
shirtdress,
bustier, catsuit dan ragam denim. Jaket kulit berpotongan pendek dan rompi menambah aura ala era disko. Begitu juga dengan kacamata hitam berframe tebal dan alas kaki
wedges dari plastik. Warna juga menjadi kekuatan label asal Sao Paulo, Acquastudio.
Namun, jika Herchcovitch menghadirkannya dalam napas
hipster, Acquastudio memilih gaya
ladylike ala 1950-an yang dikemas menggunakan nuansa warna pelangi. Menambah sentuhan elegansi, Acquastudio menggunakan permainan kristal swarovski sebagai detail. Sementara, Patachou memilih inspirasi dari Timur jauh. Koleksinya yang penuh warna didominasi siluet kimono dan
wrap dress yang disulap menjadi busana sehari-hari nan feminin.
Desainer Patachou Erika Frade mengatakan bahwa Asia merupakan pasar potensial, tidak hanya bagi para pelaku mode Eropa, juga Amerika. ”Itulah mengapa saya menghadirkan koleksi bernapas Asia,” ujar desainer yang mengatakan dirinya berniat menjajal pasar Asia dalam waktu dekat.
Asia juga menjadi fokus label Alessa yang menghadirkan ragam gaun sutra dalam motif Oriental. Tidak hanya itu, Alessa, yang juga menyasar pasar Timur Tengah, mengambil inspirasi motif dari kilim, tapestri asal Turki.
Rio Fashion Week, dibandingkan “sepupunya”,
Sao Paulo Fashion Week, mungkin bukan merupakan
event fashion terbesar di Brasil, namun tetap memiliki gaya dan prestise tersendiri.
Tahun ini, hal itu diperlihatkan dengan kehadiran
buyer dan media massa internasional, juga
fashionista yang tertarik menikmati jualan utama Pekan Mode Rio. Selain koleksi busana kontemporer, Rio terkenal dengan koleksi busana pantai, termasuk juga
swimwear dan bikini. Hal tersebut menjadikan Rio sebagai pusat destinasi
chic swimwear internasional, selain Miami. Di panggung Rio, bikini dan busana renang tak sebatas hanya bisa dikenakan di pantai maupun kolam renang, juga bisa dipadankan menjadi busana kasual. Lihat saja label Triya yang mengombinasikan atasan bikini dengan celana
pallazo atau Mara Mac yang menghadirkan gaya ringan nan
effortless, perpaduan antara sisi
chic tailored dan gaya dinamis
sportwear.
Di sisi lain, Melk Z-Da, menghadirkan sisi tradisional Brasil dengan mengetengahkan
handicraft ala Brasil sebagai aplikasi koleksinya yang bermaterialkan kain berwarna tembaga. Untuk menghadirkan citra kontemporer, Melk Z Da mengombinasikan inovasi olah tekstil dalam gaya dekonstruktif dengan warna-warna alami.
Lucas Nascimento, yang pernah bekerja sama dengan Giles Deacon, Luella Bartley, Jonathan Saunders, dan Basso & Brooke, mempersembahkan koleksi busana kasual nan
chic dalam warna putih dan
ivory. Sisi rebel diungkapkan desainer asal Inggris ini melalui permainan mohairdan kombinasi bahan wol, sutra, dan
lurex, metal, juga plastik.
Sophisticated sekaligus futuristis.
(tty)