Gedung Joang 45, Tanda Perjuangan Pemuda Jelang Kemerdekaan

|

Duwi Setiya Ariyanti - Okezone

Gedung Joeang 45 (Foto: tripholiday.net)

Gedung Joang 45, Tanda Perjuangan Pemuda Jelang Kemerdekaan
GEDUNG Joang 45 atau yang dikenal Gedung Menteng 31 terletak di Jalan Menteng Nomor 31, Jakarta Pusat. Gedung ini memang menjadi basis Pemuda Menteng 31 ketika masa sebelum kemerdekaan.

Tahun 20an, Gedung Joang 45 adalah Hotel Schomper, sesuai dengan nama pemiliknya, L.C. Schomper. Waktu berselang, Belanda tak lagi menguasai Indonesia. Jepang datang di Tarakan, Kalimantan Timur, pada 1942 setelah berhasil membuat Belanda menyerah tanpa syarat. Masyarakat menyambutnya dengan penuh sukacita.

“Membuat kegembiraan yang luar biasa. Mereka berdiri di pinggir jalan berteriak ketika tentara jepang masuk,” tutur Ery Amelia Moeis, sejarawan yang menceritakan kisah perjuangan kemerdekaan RI kepada peserta "Plesiran Tempo Doeloe" di Gedung Joang 54, Jakarta, belum lama ini.

Pada masa pendudukan Jepang, Gedung Joang 45 menjadi kantor Jawatan Propaganda Jepang atau Sendenbu. Tapi, gedung ini akhirnya diserahkan kepada para pemuda yang dijadikan tempat penggemblengan dengan segala pelatihan.

“Ini juga menjadi tempat pelatihan pemuda yang dikenal dengan Menteng 31. Belajar politik, sejarah, hubungan internasional, dan sastra,” katanya.

Sukarni, B.M Diah, Yusuf Kunto, Wikana, Sayuti Melik, Adam Malik, dan Chaerul Saleh adalah beberapa anggota Menteng 31 yang vokal dan tegas menolak untuk bekerja sama dengan Jepang. “Yang paling terkenal di sini Menteng 31, kelompok muda yang sangat erat saat detik detik menjelang proklamasi. Sementara mentornya Soekarno, Hatta, Yamin, gerakannya lebih soft,” tambahnya.

Di ruang peralihan, terdapat lukisan yang menggambarkan pahlawan pada masa itu. Selain itu, monitor yang menayangkan gambar ketika Jepang memamerkan kelengkapan angkatan militernya di Lapangan Banteng.

Ruang selanjutnya, berwarna dominan merah, tertempel poster-poster propaganda yang dibuat Jepang. Kalimat poster tersebut mengagungkan nama Jepang. Seperti yang populer saat itu, adalah Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia yang biasa disebut 3A.

“Poster propaganda Jepang ketika perang pasifik, menyerang Pearl Harbor tahun 41 dan 42,” papar Ade Purnama, Penggagas Sahabat Museum saat acara "Plesiran Tempo Doeloe".

Berpindah ke ruang gelap dengan foto yang menggambarkan ketika Belanda menyerah kepada Jepang, romusha, hingga pembentukan angkatan militer. Setelah memenangi peperangan melawan Rusia, akhirnya mencari daerah jajahan yang dapat memperkuat angkatan perangnya untuk melawan sekutu. Jepang berhasil membuat Belanda yang sudah menguasai Indonesia hampir 350 tahun, pergi tunggang langgang.

“Tempat Belanda menyerah di Kalijati. Setelah Belanda menyerah, ia ditangkap dan dibuang ke Burma (Thailand-red),” lanjutnya.

Gambar selanjutnya menjelaskan romusha atau pekerja paksa pada zaman Jepang. Mereka dibiarkan bekerja membangun infrastruktur tanpa diberi upah dan makanan ataupun vitamin sehingga keadaannya memprihatinkan.

Di gambar lain terlihat, Soekarno yang bekerja sama dengan Jepang. Soekarno menjadi bintang dalam film propaganda buatan Jepang. Ia pun berdandan layaknya romusha dengan baju lusuh dan celana pendek. Mengajak masyarakat turut menjadi bagian romusha. Salah satunya di Desa Bayah, Banten, yang menjadi salah satu basis romusha.

“Soekarno berpikir strategis. Dia memilih untuk bekerja sama dengan Jepang. Bung karno mengajak masyarakat untuk mendaftar bekerja sebagai romusha. Itu di Desa Bayah dan mereka membuat jalur baru,” jelasnya.

Selain itu, Jepang juga gencar membiasakan masyarakat Indonesia dengan hal yang berbau Negeri Matahari Terbit itu, mulai dari penggunaan bahasa Jepang hingga senam pagi yang menghadap ke Tokyo. “Bahasa Nippon, diajari juga senam pagi sambil menghadap ke Tokyo, padahal kita biasanya ke kiblat,” kata pria yang akrab dipanggil Adep ini.

Jepang pun menutup akses komunikasi dengan hanya menyiarkan siaran radio Jepang. Tak sampai di situ, Jepang juga membuat angkatan militer Heiho. Namun atas saran Soekarno, Jepang membentuk Pembela Tanah Air (PETA) untuk membantu Jepang melawan Sekutu. Kesempatan pelatihan militer itu digunakan pemuda Indonesia untuk mengalahkan Jepang nantinya.

“Orang Indonesia yang tidak pernah latihan mliliter itu dilatih oleh Jepang. Padahal ketika sekutu masuk mereka membela Tanah Air, bukan sekutu,” tambah Adep.

Setelah itu, pemuda dari Menteng 31 turut bergabung bersama PETA. Di ruangan berikutnya, terdapat diorama yang menggambarkan peristiwa menjelang kemerdekaan. Sejak September 1944, Jepang hanya menyatakan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia secepatnya. Golongan muda mengingkan Indonesia segera merdeka. Tekanan dari golongan dari kaum muda kian keras.

Syahrir mengetahui berita kekalahan Jepang melalui radio rahasia. Ia langsung mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memerdekakan Indonesia. Tapi Soekarno, tak percaya karena belum mendengarnya secara langsung. Selain itu, ia juga menunggu Jepang memenuhi janjinya untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia.

“Saat Jepang menyerah banyak yang tidak tahu Soekarno pun tidak tahu karena radio tidak ada. Pemuda yang lain juga ditolak karena Soekarno belum mendengar langsung. Ia juga takut adanya  pertumpahan darah,” pungkas Ere.

“Mereka berpegang pada janji Jepang akan memberikan kemerdekaan,” sahut Adep.

Bahkan salah seorang pemuda, Sukarni, mengancam Soekarno jika ia tidak segera memerdekakan Indonesia, akan ada pertumpahan darah. Hal itu membuat Soekarno marah.

Kisah tentang masa setelah kemerdekaan juga ada di Museum Joang. Seperti proses diplomasi yang dilakukan tak lama setelah kemerdekaan, Museum Joang 45 juga dilengkapi dengan ruang bioskop yang memutarkan film-film perjuangan. Ruang untuk foto dan anak juga tersedia.

Dipamerkan pula mobil milik Soekarno yang diberikan Jepang berplat REP 1 dan REP 2. Patung pemuda yang tergabung dalam pemuda Menteng 31 juga memenuhi ruang belakang museum ini.

Untuk turut merasakan perjuangan pada masa sebelum kemerdekaan hingga sesudahnya di Gedung Joang 45, Anda cukup membayar Rp2.000. Di sinilah atmosfer perjuangan kemerdekaan RI dapat Anda rasakan.
(ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Alasan Charly Lebih Suka Gili Trawangan Dibanding Bali