Pulau Surgawi Maladewa Kini Tercoreng

|

Adhia Azkapradhani - Okezone

Maladewa disebut pulau surgawi (Foto: telegraph)

Pulau Surgawi Maladewa Kini Tercoreng
MALADEWA - Maladewa menjadi sorotan setelah Amnesty International melaporkan adanya pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah. Masalah ini mencoreng keindahan Maladewa yang disebut-sebut pulau surgawi.

Awal tahun ini, Mohamed Nasheed, pemimpin yang pertama kali didapat melalui pemilihan demokratis, digulingkan melalui kudeta militer. Hal ini terjadi setelah dirinya mengklaim diberi bayaran oleh salah seorang pemilik resor yang merupakan pendukung Maumoon Abdul Gayoom, penguasa otokratik pada era 1978-2008.

Penggantinya, Mohamed Waheed Hasan, sejauh ini menolak mengikuti pemilihan umum dan telah dikritik karena menunjuk beberapa politisi yang memegang kekuasaan di bawah Gayoom. Laporan yang diterima oleh negara menyebutkan adanya penindasan yang dilakukan kepada demonstran dan politisi pihak oposisi menyusul penggulingan Nasheed. Puluhan orang mengaku dipukuli dan disiksa polisi setempat. Ada pula yang mengatakan bahwa polisi melakukan penyerangan kepada para demonstran yang berada di rumah sakit di Male, Ibu Kota Maladewa.

Laporan ini sudah pasti sangat bertolak belakang dengan keadaan Maladewa yang dikenal wisatawan. Mayoritas pengunjung Maladewa adalah pasangan yang ingin berbulan madu dan mencari ketenangan. Umumnya, dari bandara wisatawan akan langsung menuju resor yang telah mereka pesan sebelumnya. Ini menjauhkan mereka dari kemungkinan terjebak dalam demonstrasi yang sebagian besar telah terjadi di Male.

Pada Juli, Nasheed menyerukan wisatawan untuk memboikot pariwisata negara ini. Sementara itu, Friends of Maladewa yang berpusat di Inggris mengeluarkan pernyataan untuk mendesak wisatawan tidak memilih resor tertentu. Namun, Amnesty Internasional menolak untuk mendukung kegiatan tersebut.

“Kami tidak menyerukan boikot wisata apapun, baik untuk pulau-pulau yang dimiliki oleh orang-orang terkait partai Nasheed ataupun sekutu pemerintah,” kata Abbas Faiz, pemerhati Maladewa. “Wisatawan dapat memilih resor manapun. Para wisatawan telah mendesak Menteri Luar Negeri Maladewa untuk mendesak pemerintah membawa kasus ini ke pengadilan," tambahnya, seperti dilansir dari Telegraph, Sabtu (8/9/2012).

Boikot yang dilakukan akan berdampak besar terhadap perekonomian negara dan kesejahteraan penduduknya. Pasalnya, pariwisata menyumbang sekira 30 persen dari pendapatan Maladewa dan merupakan sumber pekerjaan bagi para penduduknya. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Harapan Puteri Pariwisata 2012 pada Menparekraf Baru