WANITA identik dengan belanja. Tapi ternyata pada jajak pendapat yang dirilis hari ini menunjukkan bahwa satu dari tiga wanita tidak suka berbalanja.
Survei menemukan bawah sepertiga dari wanita benci belanja pakaian karena staf penjualan yang tidak ramah dan sulit menemukan
item yang mereka cari.
Jutaan wanita frustrasi oleh antrean panjang di ruang ganti, pakaian yang tidak pas, bahan pakaian yang jelek, atau tidak terjahit dengan baik. Banyak wanita benci berbelanja karena menyebabkan anggota badan mereka sakit, hasil laporan para peneliti.
Dan hampir setengah dari 2.000 wanita yang disurvei mengatakan bahwa mereka merasa “terintimidasi” oleh staf toko yang sombong atau mudah marah, seperti dilansir
Dailymail.
Penelitian ini dilakukan oleh pengecer pakaian
online Marisota ini menjungkirbalikkan mitos bahwa wanita paling bahagia ketika ada di pusat perbelanjaan, belanja, dan menghabiskan uang.
Coleen Nolan,
brand ambassador untuk Marisota mengatakan, “
Retail therapy adalah ungkapan umum yang terkait dengan wanita dan belanja. Tapi untuk beberapa wanita, belanja pakaian bisa jauh dari pengalaman terapi. Jika ukuran tubuh Anda tidak sesuai ukuran standar, belanja baju tidak selalu menjadi hal yang mudah dilakukan. Bahkan, wanita dengan bentuk tubuh sempurna bisa terjebak dalam di situasi di mana segala sesuatu yang mereka coba tampak mengerikan dan meskipun telah mencari selama berjam-jam, mereka kembali ke rumah dengan tangan kosong. Tak ada satu wanita pun yang harus menangis saat berbelanja pakaian, belanja harus menjadi pengalaman yang menyenangkan, tapi belanja bisa menjadi pekerjaan yang memakan waktu."
Alternatif belanja
online dapat menghilangkan banyak situasi menakutkan dan akan meminimalkan stres. Laporan yang dilakukan di antara 2.000 wanita juga menemukan bahwa 44% dari mereka merasa “dipandang rendah” jika berbelanja di toko-toko mewah, sementara 38% mengatakan mereka merasa gentar karena “tidak ada pakaian yang terlihat bagus pada mereka”.
Satu dari sepuluh wanita mengatakan mereka merasa malu meminta pakaian sesuai ukuran mereka dan 37% mengatakan mereka merasa tidak nyaman menanggalkan pakaian di kamar ganti.
Studi ini juga menemukan bahwa 15% wanita, bahkan menangis ketika berbelanja dengan alasan terbesar karena mereka terlihat gemuk, diikuti oleh karena mereka tidak bisa menemukan pakaian yang pantas untuk mereka. Namun, ada juga 10% wanita yang menangis karena mereka merasa terlalu kurus.
Satu dari dua wanita mengatakan, mereka tidak pernah bisa melakukan tawar-menawar dan sepertiga wanita mengatakan mereka tidak menemukan belanja bisa menjadi proses terapi.
Alasan utama wanita stres ketika ada di toko adalah tidak bisa menemukan pakaian yang cocok dan diinginkan, kedua karena mereka benci untuk mencoba pakaian dalam kamar ganti, ketiga karena mereka membenci mengantre, dan 34% wanita mengatakan bahwa mereka memiliki “bentuk (tubuh) yang lucu” yang membuat belanja menjadi hal yang sulit.
Sebanyak 42% wanita yang diteliti mengatakan, belanja akan menjadi lebih mudah jika mereka tampak berbeda. Delapan dari 10 wanita mengatakan, mereka akan menikmati pengalaman berbelanja lebih jika mereka lebih kurus. Dan setengah dari responden mengatakan memiliki saldo bank besar akan memperbaiki keadaan.
Studi ini juga menemukan bahwa 44% takut prospek berbelanja baju baru untuk acara khusus, terutama acara pernikahan. Sepertiga wanita sekarang lebih suka belanja
online karena menghemat begitu banyak waktu.
Coleen Nolan menambahkan, "Banyak isu wanita ketika berbelanja seperti staf penjualan yang menggurui atau pengerahan tenaga fisik dapat dihilangkan dengan belanja melalui internet. Wanita modern bekerja berjam-jam dan berbelanja dari toko ke toko yang berbeda merupakan proses yang panjang."
(tty)