Keragaman Budaya, DKI Jakarta Berikan Ruang Kesenian Tradisional

|

SINDO -

Wagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama naik di kepala Reog Ponorogo (Foto: Sindo)

Keragaman Budaya, DKI Jakarta Berikan Ruang Kesenian Tradisional
JAKARTA - Keragaman penduduk Ibu Kota membuat Pemprov DKI Jakarta memberikan ruang bagi seluruh masyarakatnya untuk mengembangkan kesenian tradisional. Kesenian tradisional nyatanya modal daya tarik Jakarta untuk mengundang para wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Arie Budiman mengatakan, Jakarta merupakan provinsi yang terbuka untuk seluruh masyarakat Indonesia. Jakarta memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengembangkan kesenian tradisional daerah masing-masing.

"Walau masyarakat itu berada jauh dari kampung halaman, mereka tetap bisa mengembangkan kesenian mereka,” ujar Arie Budiman, baru-baru ini.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya sanggar seni yang membina generasi muda untuk mengembangkan budaya tradisional. Di antaranya di bidang seni tari, vokal, dan seni pertunjukan. Dari sanggar itu, penggiat seni ini mengembangkan bakat anak muda mengenali kesenian tradisional.

Peserta yang mempelajari kesenian tradisional ini tidak hanya dari orang satu daerah. Bahkan, ada peserta yang mempelajari kesenian tradisional ini dari daerah lain. Salah satu contohnya, kesenian reog Ponorogo. Reog berasal dari Jawa Timur, namun tidak sedikit warga dari luar Jawa Timur mempelajarinya.

”Bukti hebatnya reog ini, negara tetangga pun sempat mengklaim karya budaya mereka juga,” ujarnya.

Seluruh penggiat sanggar kesenian tradisional di Jakarta ini mendapatkan kesempatan yang sama untuk menunjukkan penampilannya di sejumlah gedung kesenian di Jakarta. Seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Gedung Kesenian Jakarta. Penampilan para penggiat itu tidak hanya tingkat daerah, bahkan ada juga tingkat nasional.

”Kami memberikan kemudahan kepada penggiat itu untuk berkarya seluas-luasnya. Bahkan, penggiat kesenian inipun mendapatkan kesempatan tampil di hadapan seluruh warga Jakarta,” sambungnya.

Dia melanjutkan, begitu besarnya kesempatan bagi masyarakatnya mengembangkan budaya tradisi, tidak sedikit hasil penggiat di Ibu Kota ini memengaruhi trendsetter kreasi kesenian itu di daerah asalnya. Semua hasil kreativitas pun menarik perhatian kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jakarta.

Menurut Arie, kesenian tradisional menjadi salah satu modal daya tarik Jakarta untuk mengundang para wisatawan. Maka dari itu Pemprov DKI Jakarta merawat dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada penggiat seni tradisional untuk beraktivitas.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berharap, kreativitas kesenian tradisional itu tidak hanya dari daerah tertentu saja, tapi seluruh Indonesia, sebab hampir semua masyarakat luar Jakarta hadir di Ibu Kota ini. Dia melanjutkan, warga Jakarta patut berbangga, di Ibu kota ini masyarakat mendapatkan semua karya budaya. Masyarakat harus bisa mempertahankan nilai seni di tengah gempuran arus global.

Ketua Paguyuban Reog Ponorogo Jabodetabek Yulianto menyebutkan, di Jakarta terdapat 97 grup reog. Sedangkan di Jabodetabek berjumlah 151 grup. Semua grup itu berkarya di setiap sanggar yang tersebar di setiap wilayah. Setiap wilayah memiliki koordinator untuk memudahkan komunikasi antara satu grup dengan grup lainnya. Keberadaan paguyuban pun mempelancar akses dengan pemerintah daerah setempat. Para penari dan penggiat reog ini tidak saja dari Ponorogo, namun juga daerah lain.

”Arus budaya asing begitu cepat menghampiri negeri kita. Ini tantangan tersendiri bagi penggiatnya agar bisa nilai-nilai budaya dari nenek moyang itu tetap menjadi karya besar,” ujarnya. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Diusir, Sea World Ogah Pusing