Melepas Penat di Taman Kota

Jum'at, 16 November 2012 - 21:11 wib | SINDO -

Seorang remaja tengah memainkan biolanya di Taman Suropati, Menteng (Foto: sindo)

Melepas Penat di Taman Kota
REMAJA putri tengah memainkan biolanya di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Selain sebagai paru-paru kota, taman-taman di Jakarta berfungsi sebagai tempat berbagai macam aktivitas warga, mulai olahraga, belajar, maupun bermain musik.

Meski fungsi pusat perbelanjaan kian lama dimanfaatkan sebagai tempat wisata keluarga, ternyata masih banyak taman kota yang diandalkan sebagai sarana tempat berkumpul warga Jakarta. Terselip di belakang bangunan perkantoran di kawasan Jakarta Pusat taman-taman kota, seperti Taman Lapangan Banteng, Taman Menteng, Taman Suropati, hingga Taman Situ Lembang.

Lokasi-lokasi tersebut masih layak dijadikan tempat warga Jakarta, baik keluarga, pelajar, maupun komunitas, berkumpul di Ibu Kota. Keberadaan taman kota juga menjadi tempat menyegarkan pikiran bagi sebagian orang yang ingin melepas kepenatan sepulang kerja.

Taman Lapangan Banteng, misalnya. Di tempat yang pada zaman Belanda bernama Waterloo Plein ini masih banyak warga yang menggunakannya sebagai tempat berolahraga, baik saat pagi ataupun malam hari. Taman yang di dalamnya berdiri Monumen Pembebasan Irian Barat ini sangat sering dijadikan tempat bermain sepak bola kaum muda.

Luasnya yang mencapai lebih dari 4 ha dan dikelilingi pohon-pohon tinggi pun membuat Lapangan Banteng sering menjadi tempat pameran flora dan fauna tahunan. Kalau pun tidak sedang ada acara, tempat ini juga sering dijadikan tempat beristirahat para pekerja, seperti kurir perusahaan yang ingin menyegarkan tenaga mereka sejenak.

Berbeda dengan Taman Lapangan Banteng, Taman Situ Lembang yang terletak di tengah- tengah kawasan permukiman elit Menteng sering dijadikan sebagai tempat bersantai anak-anak SMP, SMU, hingga mahasiswa. Tidak hanya mereka yang bersekolah di kawasan tersebut, banyak juga pelajar yang datang dari wilayah lain yang bersantai-santai sepulang sekolah di taman ini.

Beberapa dari mereka memanfaatkan taman ini untuk belajar bersama. Pada masanya, sekitar sepuluh tahun lalu, Taman Situ Lembang sempat terkenal sebagai tempat berkumpul mahasiswa-mahasiswa yang tergabung dalam komunitas mobil. Kala itu mobil-mobil yang berwarna-warni hampir setiap hari terlihat berjejer rapi di seputar taman ini. Namun, seiring perjalanan, komunitas-komunitas mobil itu kini tergantikan dengan komunitas motor.

Nah, tidak hanya di Taman Situ Lembang, beberapa komunitas motor juga sering terlihat berkumpul di Taman Menteng. Taman yang kian harinya mempercantik dirinya itu dengan penanaman rumput ataupun pohon setiap Sabtu malam sering semakin menarik perhatian dengan motor-motor yang berjejer rapi tepat di depan pintu masuk taman.

Komunitas motor Vespa ataupun motor matic sering terlihat di sini. Tidak hanya area dalam ataupun luar taman yang dimanfaatkan warga Jakarta. Area gedung parkir Taman Menteng juga sering menjadi hot-spot untuk kaum muda.

Pemandangan taman dari atas gedung lima lantai ingin dilihat oleh kaum muda yang datang pada malam hari. Tidak jarang juga Taman Menteng dijadikan tempat pemotretan prewedding.

Taman Menteng pun mungkin tak pernah terasa mati. Sejak pagi hingga dini hari hilir mudik warga Jakarta berdatangan ke taman ini. Saat pagi hari biasanya akan terlihat pemandangan anak-anak kecil yang bermain bersama orang tua mereka.

Erick, 28, warga Jakarta Utara, mengaku sering datang ke Taman Menteng akhir pekan. Dia menyebutkan, meski terbilang ramai, Taman Menteng selalu bisa memberikan ketenangan pikiran.

”Ramai sih ramai, tapi kalau sudah dapat spot yang enak, meskipun ke sini sendirian, enggak sama teman, rasanya senang saja. Duduk-duduk lihat anak-anak pada main, lebih enak daripada nge-mal,” katanya.

Sedikit berbeda dengan Taman Menteng, di Taman Suropati malah sering terlihat kaum muda penggiat ataupun pencinta seni berdatangan ke tempat ini. Mulai dari pelukis amatir hingga remaja yang ingin mencari inspirasi berseni datang ke tempat ini.

Salah satu yang selalu terlihat berkumpul setiap akhir pekan di taman ini adalah para calon musisi yang belajar bermain biola bersama Taman Suropati Chamber. Meski terbilang masih sedikit, fasilitas ruang terbuka hijau yang dijadikan tempat rekreasi kaum muda di Jakarta juga dapat ditemukan di wilayah Jakarta Selatan.

Di Selatan Jakarta ada Taman Ayodya dan Taman Langsat, yang letaknya cukup berdekatan. Hampir sama dengan Taman Situ Lembang, Taman Ayodya yang memiliki danau di tengahnya juga menjadi favorit warga untuk berkumpul.

Sedangkan Taman Langsat, yang berada di belakang Jalan Barito, Kebayoran Baru, belakangan dijadikan tempat berkumpul beberapa komunitas. Pohon-pohon tinggi nan rimbun dan jogging track membuat warga sekitar sering memanfaatkan hutan kecil di tengah kota ini.

Selama November ini beberapa komunitas pun rutin berkumpul di Taman Langsat. Menamai kelompoknya dengan sebutan Hidden Park, Leaf Plus–sebuah lembaga lingkungan-menggandeng beberapa komunitas lainnya untuk melakukan aksi penghijauan kota yang dimulai di taman ini. Seperti yang diungkapkan Hidden Park Campaign Manager Nadine Zamira Sjarief. Dia menyebutkan, komunitas Hidden Park mempunyai kegiatan hiburan yang dicampur dengan edukasi untuk masyarakat, khususnya kaum muda.

”Hidden Park ini melakukan gerakan aksi Kami Peduli Taman Kota. Kami akan membersihkan, merapikan, dan menata sebuah taman agar terasa nyaman sehingga fasilitas yang dimiliki oleh taman tersebut dapat terus terjaga dan dinikmati oleh publik," katanya.

Nadine menambahkan, hal ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada publik luas untuk memiliki kepedulian terhadap keberadaan taman kota di sekitar Jakarta dan menggugah keinginan untuk mau merawat dan menjaga demi kenyamanan bersama. Tiap minggu, selama November, Hidden Park akan mendatangi beberapa taman kota dengan mengusung konsep Piknik Asyik. Masyarakat serta beberapa publik figur akan menikmati santap siang dengan keindahan dan keasrian alam taman kota. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Museum Tas di Belanda