Pertolongan Pertama Luka Bakar

Rabu, 21 November 2012 - 14:43 wib | SINDO -

Anak sakit (Foto: Corbis)

Pertolongan Pertama Luka Bakar
PENANGANAN luka bakar berbeda-beda antara kasus satu dengan lainnya. Tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar,  tingkat keparahan,  dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut.

Mengatasi luka bakar tidak boleh sembarangan. Pertolongan pertama penanganannya menjadi aspek penting, terutama agar menghentikan proses panas, mendinginkan luka, dan menutupi luka agar tak semakin parah. Luka bakar sering kali terjadi di dalam rumah tangga. Umumnya, luka berasal dari sumber panas maupun suhu dingin yang tinggi, shock tersengat listrik, bahan kimiawi,  cahaya dan radiasi.

Luka bakar berbahaya karena merusak kulit yang berfungsi melindungi kita dari kotoran dan infeksi. Kulit juga berperan dalam pengaturan suhu tubuh dan pembuangan limbah melalui keringat. Jika banyak permukaan tubuh yang terbakar, ada banyak bahaya yang mengancam jiwa karena kerusakan pembuluh darah, obstruksi jalan pernapasan, ketidakseimbangan elektrolit dan suhu tubuh, serta gangguan fungsi saraf.

Dalam penanganannya,  tentu akan berbeda, bergantung pada jenis jaringan yang terkena luka bakar,  tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Saat ini banyak masyarakat yang kurang tepat dalam mengatasi luka bakar sehingga ujungujungnya malah memperparah keadaan.

“Tidak hanya membuat kematian,perawatan panjang dan biaya tinggi, luka bakar yang parah dapat menyebabkan cacat dan bekas di kulit yang akan menyebabkan distres emosional atau trauma dan gangguan psikologis yang berat pada penderitanya,” kata dr Aditya Wardhana SpBP(K), dokter spesialis bedah plastik dari FKUI/RSCM.
 
Menurut dia, tindakan pertolongan pertama pada korban luka bakar amat penting.  Hal ini berguna untuk menghentikan proses panas, mendinginkan luka,dan menutupi luka. Untuk langkah pertama, lanjut Aditya, hentikan proses bakar dengan cara menjauhkan atau mematikan sumber panas. Bagi Anda yang terkena luka bakar mayor—luas luka bakar lebih dari 25% permukaan tubuh pada orang dewasa dan lebih dari 20% pada anak-anak, hentikan proses bakar dengan segera menjauhi sumber api.

Tutupi tubuh dengan menggunakan kain, seprei atau karung basah. Api juga dapat dipadamkan dengan bergulingguling di tanah.  Setelah itu, lepas atau copot benda atau aksesori yang masih melekat di tubuh seperti pakaian, perhiasan,  jam tangan, dan sebagainya.
 
 ”Langsung pergi ke rumah sakit,” katanya. Adapun bagi Anda yang terkena luka bakar minor—kurang dari 10% luas permukaan tubuh—, dinginkan luka bakar dengan mengaliri air bersuhu 15 derajat Celsius selama kurang lebih 20 menit. 

Hal ini bermanfaat untuk mendinginkan luka, mengurangi nyeri, dan mengurangi edema atau pembengkakan.
 
”Panas di kulit akan berpindah ke air mengalir tersebut,” sebutnya.  Jangan membasuh tubuh dengan air es karena es bisa mengakibatkan pembuluh darah mengerut sehingga akan memperberat derajat luka bakar dan risikonya.
 
Aditya yang berbicara dalam acara seminar dan workshop Emergency Fair and Festival(E-FAST) di Aula FKUI, Salemba, Jakarta beberapa waktu lalu mengungkapkan, hasil penelitian menyebutkan, irigasi air di kulit yang terbakar terbukti mempercepat pembentukan jaringan di sekitar lokasi luka bakar hanya dalam waktu dua minggu.

Air yang mengalir itu juga dapat mengurangi jaringan bekas luka atau skar dalam waktu sekitar enam minggu usai kejadian. Dia menegaskan, hindari mengatasi luka bakar dengan menggunakan pasta gigi, sabun, kecap, salep, mentega, minyak goreng, bensin, oli, dan semacamnya. Bahanbahan tersebut mengandung zat kimia yang belum tentu diterima baik oleh kulit. Alih-alih mengobati luka bakar, cara tersebut justru dapat merusak kondisi kulit Anda.

Setelah luka didinginkan, Anda dapat mengonsumsi obat-obatan semacam paracetamol atau antiperadangan seperti ibuprofen dan opiods yang berguna mengurangi rasa nyeri. Tutup luka bakar dengan balutan untuk mencegah hipotermia,  yaitu kondisi mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Padasaat menolong korban luka bakar, Aditya mengingatkan pentingnya mewaspadai cedera jalan napas atas, terutama pada anak-anak yang ditandai dengan bengkak di wajah, bulu hidung terbakar, atau sesak.
(tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Berhubungan Intim saat Haid Bisa Hamil?