Pesona Atraksi Timang Bola Pa'raga

|

Arpan Rachman - Okezone

Pa'raga (Foto: Arpan/Okezone)

Pesona Atraksi Timang Bola Pa'raga
DENGAN gerak terampil yang terlatih, Haji Firman dan kawan-kawan mengolah sebuah bola kulit rotan. Bola yang dimainkan berukuran sebesar kira-kira dua kepalan tangan. 

Para penebar pesona dalam atraksi timang bola yang sungguh ahli itu beraksi dengan sempurna. Iringan bunyi melengking nan nyaring yang bertempo mendayu-dayu berseling cepat dalam birama dari tiupan alat musik kecapi. Magis ninabobok pun seakan membius para penonton yang tak selangkah pun bergeser dari tempat mereka berdiri, kendati matahari terik sedang amat hangatnya menyengat bumi.

Di kepala, masing-masing pemain memakai semacam destar (topi penutup), Haji Firman tampil bertiga dengan Asrul dan Haris di hadapan puluhan penonton yang menyaksikan kebolehan mereka di halaman parkir Pasar Grosir Daya dalam Festival Daya Fun Day, belum lama ini. 

Bola rotan itu ditimang-timang dalam rangkaian gerak yang lincah dari kaki-kaki yang menyepaknya ke udara hingga mencapai setinggi batas pinggang. Melambung tinggi, lalu ditimang lagi, begitu terus. Tanpa sekali pun jua si bola jatuh ke tanah. 

Mereka saling mengoper kepada pemain lain dalam lingkaran segitiga yang sempit bergaris tengah sekira dua meter saja. Sementara, yang tidak sedang beraksi menimang bola, tanpa berdiam diri, menari dengan luwesnya memperagakan beberapa gerakan yang mirip jurus-jurus pencak silat.  

Di puncak gerakan, mereka membentuk konfigurasi yang nyaris ajaib. Dua pemain menjadi fondasi tangga untuk menjadi alas bagi injakan kaki pemain ketiga yang bergerak naik, lalu berdiri di atas bahu kedua temannya itu. Sementara figur dibentuk, ajaibnya bola masih ditimang salah seorang pemain fondasi. Seketika bola ditendang sampai tinggi, disambut secara tangkas oleh pemain yang berdiri di atas mereka. 

Pemain yang berdiri agak membungkuk sambil menginjak bahu dua temannya itu terus menyulap bola dengan atraksi timang yang makin mempesona. Lalu, dia tendang bola itu ke arah siku tangan kanannya, seakan bola itu kemudian menjalar menuju buku-buku jari si pemain. Bola macam ditepuk-tepuk dengan buku jarinya. 

Terakhir, dikembalikan ke kaki, lantas kaki itu menimangnya sebentar, menendang dengan akurasi yang sangat terukur sampai tepat nian masuk ke dalam destar yang membebat kepala si pemain. 

Tepuk tangan langsung membahana diselingi segala macam ucapan berdecak kagum yang menggerakkan bibir secara spontan. Para penonton, termasuk Okezone, merasakan sendiri betapa sensasi Pa'raga mampu membius kesadaran. 

Gerak timang seperti main sulap dengan bola itu terkenal sebagai 'juggling'.  Yang diperagakan perkumpulan Sudiang Grup ialah Pa'raga, permainan tradisional khas suku Bugis-Makassar. Yang ditimang bukan bola karet atau bola kulit, melainkan bola rotan, serupa bola yang dimainkan dalam olahraga sepaktakraw.

"Dari umur 10, 13, dan 14 tahun kami bertiga sudah main Pa'raga. Sudah sering tampil sampai ke Kalimantan, bahkan pernah sampai ke Jepang," kata Haji Firman kepada Okezone, usai atraksi.

"Latihannya tidak tentu, bila ketemu semua kawan-kawan pemain, ya langsung latihan. Kadang tiap hari, kadang tiga kali seminggu," sela Haris, teman bermainnya tadi.

"Kami bermain Pa'raga untuk mempertahankan budaya daerah supaya tidak punah. Sering juga kami main sepaktakraw dan sepakbola," ujar Asrul menambahkan.

Jauh di dalam hati, mereka memendam keinginan untuk menasionalkan permainan ini supaya bisa dimainkan orang-orang di berbagai daerah Indonesia. Sebab, kata Haris, kalau cuma sebatas di Makassar, maka tidak banyak orang dari daerah lain yang tahu ada permainan seperti ini.

Menurut Haji Firman, Pa'raga itu seharusnya dimainkan enam orang, tapi dalam pertunjukan kali itu mereka hanya tampil tiga orang, jadi konfigurasi dan gerak yang dimainkan juga tidak maksimal. Paling lama Pa'raga dimainkan 15 menit, paling singkat 30 detik.  

Tampilan paling singkat itu mereka pertontonkan ketika Sudiang Grup muncul dalam audisi di salah satu acara pada sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Sudiang Grup yang selengkapnya beranggotakan Haji Firman, Asrul, Haris, Lukman, Hasan, Iwan, dan Rahman merupakan salah satu kontestan dalam pertandingan Pa'raga yang diselenggarakan dalam festival tradisional bertajuk Daya Fun Day, belum lama ini di Makassar. 

"Daya Fun Day ini pemanasan untuk nantinya kita gelar festival budaya berupa pameran kebudayaan Sulawesi Selatan yang menampilkan penari, festival busana, pameran senjata, pakaian, dan sebagainya. Ini (ragam) permainannya dulu yang kita angkat, antara lain Pa'raga-raga," tutur Muhammad Sahl, project officer dari Gamasindo selaku penghelat festival yang disponsori Adira dan Surf ini.

Sahl mengutarakan, Daya Fun Day yang menggelar tujuh permainan dengan peserta sebanyak 1.000 orang dari perkumpulan Pa'raga dan siswa-siswa 12 Sekolah Dasar di Makassar. Hadiah utamanya satu unit sepeda, ditambah peralatan sekolah dan alat-alat elektronik yang dibagikan lewat suara merdu pembawa acara, Mila Rizwan.
(ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kelebihan GrabTaxi buat Liburan