Empat Masalah Penyebab Pernikahan Hancur

Jum'at, 22 Februari 2013 - 12:23 wib | Restika Ayu Prasasty - Okezone

Empat Masalah Penyebab Pernikahan Hancur Pasutri bertengkar (Foto: Google)

MENURUT pakar perceraian terkemuka, ada empat masalah tak dapat dapat diatasi yang membuat pernikahan tidak dapat bertahan. Namun, berselingkuh ternyata bukan salah satunya.
 
Psikoterapis dan penulis, Micki McWade mengatakan bahwa berselingkuh pada pasangan sering kali hanya merupakan gejala salah satu dari empat masalah mendasar yang lebih dalam. Masalah-masalah itulah yang menurutnya akan membuat pernikahan berakhir, seperti dilansir Dailymail.
 
Berhenti menjadi pasangan
 
Jika salah satu pasangan merasa pasangan yang lain belum matang, tidak bertanggung jawab, tidak dapat dipercaya atau egois, dinamika perkawinan akan runtuh dan menghancurkan keintiman, serta daya tarik seksual. Kekerasan dalam rumah tangga adalah versi paling ekstrem dari hal ini.
 
Tukang mengeluh dan melempar kesalahan
 
Saat masalah perkawinan tidak diselesaikan untuk kepuasan kedua belak pihak, hal ini akan membangun kebencian terhadap satu sama lain dan mengikis hubungan. Menyelesaikan masalah dengan kompromi lebih penting daripada merasa “benar” sendiri. Individu yang tidak dapat menerima akuntabilitas atau tanggung jawab sering kali gagal dalam hubungan.
 
Narsisme


Setiap orang memang individu narsis sampai batas tertentu. Tapi, hal ini jadi masalah ketika pasangan tidak dapat berempati satu sama lain dan malah bersaing atas isu-isu, seperti siapa yang bekerja lebih keras, menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak, menghasilkan uang lebih banyak, dan lain-lain. Bila salah A tidak memahami dan menghargai kontribusi B, masing-masing akan menganggap bahwa pekerjaan yang lain lebih mudah dan merasa diri merekalah yang paling sibuk.
 
Kecanduan
 
Kecanduan akan selalu menjadi fokus utama melebihi pernikahan dan keluarga. Pasangan mereka akan merasa marah dan malu bila kurang memerhatikan keluarga. Jika pecandu tidak dapat menghentikan kebiasaan, mereka cenderung akan menyalahkan pasangan mereka (meskipun pasangan mereka mencoba untuk mempertahankan hubungan rumah tangga, terutama karena anak-anak). Dan pada akhirnya, mereka akan menyerah pada pernikahan jika tidak ada solusi untuk menyembuhkan kecanduannya.
 
McWade menjelaskan bahwa penting untuk memperbaiki masalah perkawinan sebelum menjadi perilaku kebiasaan dan sulit untuk diubah.
 
"Sulit bagi pasangan untuk mengubah pola lama berhubungan dengan sendirinya karena orang cenderung berdebat untuk mempertahankan pola pandang mereka sendiri. Komunikasi tidak akan bisa berhasil jika tak ada cara pandang netral," katanya.
(tty)

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Facebook Comment List

BACA JUGA »