Kisah Cinta Sampek Engtay Abadi dalam Kematian

|

Adhia Azkapradhani - Okezone

Salah satu adegan dalam Sampek Engtay (Foto: Heru/Okezone)

Kisah Cinta Sampek Engtay Abadi dalam Kematian
SEBUAH lakon legendaris yang telah dipentaskan 85 kali dalam 25 tahun kembali dipergelarkan di 2013 ini. Teater Koma bekerja sama dengan Djarum Apresiasi Budaya menyuguhkan lakon berjudul Sampek Engtay, sebuah cerita dari tanah Tiongkok tentang perjuangan seorang perempuan dan keabadian cinta.
 
Dikisahkan, Engtay adalah seorang gadis keturunan Tionghoa. Gadis asal Serang, Jawa Barat, ini ingin mendobrak tradisi di masa itu. Dia ingin meraih ilmu lebih tinggi dengan bersekolah di Betawi.
 
Dia kemudian ingat janji sang ayah yang akan memberi izin untuk bersekolah jika berhasil menipunya. Engtay kemudian menyamar menjadi seorang pria penagih hutang. Ayahnya pun berhasil tertipu, penyamaran Engtay menjadi seorang pria begitu sempurna. Dia lalu menagih janji sang ayah yang akan mengizinkannya bersekolah di Betawi.
 
Setelah melalui perdebatan panjang, dengan berat hati, Ciok mengizinkan Engtay pergi. Dengan menyamar sebagai seorang pria, Engtay menempuh perjalanan panjang menuju Betawi. Di perjalanan, dia bertemu dengan Sampek, seorang pemuda asal Pandeglang, Jawa Barat. Memiliki tujuan untuk mengenyam pendidikan di sekolah yang sama, mereka pun mengikrarkan diri sebagai saudara.
 
Ditempatkan dalam satu kamar asrama, satu tahun kemudian Engtay merasa jatuh cinta pada Sampek. Dia mulai membuka jati dirinya sebagai seorang perempuan pada Sampek. Gayung pun bersambut, sayangnya saat itu juga Engtay dipaksa pulang untuk dikawinkan dengan seorang pemuda anak Kapten Liong.
 
Sampek menyusul Engtay hingga ke Serang, tapi terlambat. Engtay lalu memberikan tusuk konde sebagai kenangan, sementara Sampek memberikan potongan rambutnya. Tak lama kemudian, Sampek jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
 
Di Serang, berlangsunglah perkawinan Engtay dan anak Kapten Liong. Di perjalanan menuju pelaminan, Engtay meminta berhenti dan berdoa terlebih dahulu di sebuah makam, makam Sampek. Dia kemudian mengetuk-ngetukkan tusuk konde yang pernah diberikan pada Sampek sebanyak tiga kali. Engtay berharap jika memang ia berjodoh dengan sampek, makam tersebut akan terbuka dan dia akan masuk ke dalamnya.
 
Kisah Sampek dan Engtay memang bukan cinta yang biasa. Teater Koma menyajikannya secara harmonis dengan arahan sutradara N. Riantiarno dan iringan musik khas Tionghoa yang ditata apik oleh Idrus Madani. Dalam beberapa adegan, penyampaian lakon dilakukan melalui nyanyian merdu sang pemain.
 
"Pemainnya sudah profesional, bagus banget. Mereka kompak, antara pemain dan musiknya," kata Dono, salah seorang penonton, saat ditemui di Gedung Kesenian Jakarta, baru-baru ini.
 
Latar cerita dibuat begitu nyata, dengan interior bernuansa Tiongkok. Efek yang diberikan pun benar-benar nyata, seperti petasan, kupu-kupu kertas yang menghiasi ruangan, dan sebagainya. Tak heran, di akhir pertunjukan, para penonton memberikan standing applause.
 
"Sengaja datang ke sini untuk nonton pergelaran ini. Takjub sama tekniknya, mulai dari kejutan penggunaan petasan, pergantian babak, efek petasan pas kuburannya terbuka, sama waktu ending yang kupu-kupu jatuh, pokoknya penonton dibuat puas," ujar Firdaus Adisucipto, mahasiswa jurusan Teater ISI Yogyakarta.
 
Penasaran dengan karya ke-127 Teater Koma ini? Pergelaran berjudul “Sampek Engtay” ini akan berlangsung mulai 13-24 Maret 2013 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Harga tiket yang ditawarkan pun beragam, antara Rp75 ribu hingga Rp250 ribu.
(ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kepastian Susi Pudjiastuti Jadi Menteri Tertunda