Alasan Empat Jajanan Kaki Lima Indonesia Dipopulerkan ke Dunia

Kamis, 21 Maret 2013 - 17:12 wib | Dewi Yanti - Okezone

Pisang goreng sambal ikan roa (Foto:Dewi/Okezone)

Alasan Empat Jajanan Kaki Lima Indonesia Dipopulerkan ke Dunia
ADA keempat kuliner tradisional Indonesia yang akan dibawa ke World Street Food Congress (WSFC) Mei Mendatang di Singapura. Pemilihannya menyimpan cerita unik.

Keempat jajanan kaki lima dari Indonesia yang akan diperkenalkan ke WSFC di Singapura, di antaranya kerak telor khas Betawi, ikan woku & pisang goreng sambal ikan roa khas Manado, soto tangkar & sate kuah kahas Jakarta, serta yang baru saja ditetapkan adalah nasi kapau khas Bukit Tinggi. Keempat jajanan pinggir jalan itu diputuskan oleh lima pakar kuliner Indonesia, yakni William Wongso, Bondan Winarno, Irwan Tjandra, Arie Parikesit, dan Marcell.

Proses pemilihan berlangsung lebih dari sebulan dan penuh pertimbangan, mengingat banyaknya jajanan kaki lima di Indonesia yang memenuhi kriteria kongres tersebut. "Susah untuk memuaskan semua pihak karena semua punya jagoan. Namun, beberapa yang kita angkat karena cara masaknya yang unik sekali," kata Arie Parikesit, Founder/Chief Kelanarasa Culinary Officer, kepada Okezone di Jakarta, baru-baru ini.

Cerita di baliknya dan keunikan proses memasak ataupun penyajian menjadi alasan keempat makanan autentik Indonesia tersebut akhirnya dipilih. Pertimbangan lainnya, menu ini digemari oleh banyak orang.

Kerak telor melewati proses memasak yang unik, dimana adonan telor dan ketan dimasak menggunakan wajan di atas tungku tanah liat. Saat kerak telor mulai matang, wajan dengan kerak telor yang masih menempel dibalik sehingga api menjilati kerak telor. Aroma wangi saat kerak telor terbakar menjadi ciri khas masakan asal Betawi ini sehingga layak ikut ke kongres jajanan kaki lima di Singapura.

Keunikan lain didapat dari masakan tradisional asal kabupaten Kapau, Bukit Tinggi, yaitu nasi kapau. Proses memasaknya menggunakan wajan dan ciduk-ciduk besar sehingga merupakan atraksi tersendiri bagi wisatawan maupun masyarakat Singapura.

Jajanan kaki lima lainnya yang memiliki cerita unik adalah soto tangkar dan sate kuah asal Jakarta. Menurut penuturan Arie, pada masa penjajahan Belanda, masyarakat Indonesia kesulitan membeli daging karena harganya mahal. Mereka akhirnya beralih menggunakan daging-daging sisa yang disebut “tangkar”, lalu diolah menjadi masakan lezat bernama soto tangkar dan sate kuah.

Berbeda dengan menu lainnya, masakan Manado yang lezat dan memiliki citarasa pedas dinilai layak mewakili kuliner Indonesia di Singapura. Rasa lezat ikan woku dan pisang goreng sambal ikan roa tidak diragukan lagi. Inilah alasan kuliner ini ingin disetarakan dengan ketenaran sate, rendang, ataupun nasi goreng yang lebih dulu dikenal.

"Kita ingin sekali memperkenalkan kuliner yang beda. Sekarang waktunya juga untuk memperkenalkan yang lain, makanya kita bawa makan Menado ini," tutup Arie.WSFC, yang merupakan besutan Komunitas Makansutra dan Singapore Tourism Board, akan berlangsung mulai 31 Mei hingga 9 Juni 2013 di Pit Building dan Paddock F1 di Marina Bay. Lokasinya strategis dan mudah diakses kendaraan sehingga memudahkan turis dan masyarakat Singapura menikmati sajian lezat pinggir jalan yang terjamin kualitas, rasa, dan kebersihannya. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Menikmati Pepes Kopyor di Hotel Bintang Lima