Menyongsong Mentari di Desa Tertinggi Pulau Jawa

|

Risna Nur Rahayu - Okezone

Eksotisme pagi di puncak Bukit Sikunir (Foto: Risna/Okezone)

Menyongsong Mentari di Desa Tertinggi Pulau Jawa
MATAHARI tampak menyembul sedikit di ufuk timur. Rona merahnya memancar sempurna di antara langit yang masih menghitam, nenambah eksotisme pagi di puncak Bukit Sikunir, Desa Sembungan, Kecematan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Ya, Desa Sembungan. Konon, desa itu merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa, karena berada di sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Desa ini menjadi tujuan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara yang mengunjungi Dataran Tinggi Dieng, lantaran pesona alamnya yang luar biasa.

Benar saja, tidak hanya menyajikan proses meningginya mentari hingga bersinar gagah, di desa tersebut juga terbentang lahan pertanian milik warga dan sebuah danau tenang nan eksotis. Danau bening tepat di samping perbukitan, Danau Cebong.

Belum lama ini, saya berkesempatan menyaksikan indahnya ukiran Tuhan tersebut. Sekira pukul 04.30 WIB, saya bersama tujuh teman lainnya, melaju meninggalkan homestay yang berada di Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegera.

Setelah kurang lebih 30 menit mengendarai mobil menuju arah barat Dieng, tibalah kami di kaki Bukit Sikunir. Di sana sudah banyak para wisatawan lain. Rata-rata kami mengenakan jaket tebal walau ada yang becelana pendek. Wajar, desa tersebut memang sangat dingin mengingat letaknya yang berada di ketinggian.

Meski sudah tiba, sejatinya belum sampai. Mungkin itulah perumpaan yang tepat, karena kami harus berjalan kaki menuju puncak Bukit Sikunir di ketinggian 2.000 Mdpl. Lebih tepatnya, mendaki.

Bagi saya, mendaki memang bukan pengalaman pertama. Tapi berkaca dari sebelumnya, ada baiknya bila melakukan pemanasan dengan berlari-lari kecil sebelum melakukan pendakian. Sekedar memberi tahu otot bila akan melakukan 'tugas berat'.

Pendakian dimulai. Menyusuri jalan setapak kadang tanah kadang berbatu, kami melangkah menuju puncak. Selama pendakian, kami saling mengingatkan untuk selalu waspada. Karena selain masih gelap, di sepanjang rute juga terdapat beberapa jurang.

Setelah hampir 45 menit melakukan pendakian, dengan nafas tersengal-sengal, kaki saya berhasil menginjak puncak Sikunir. Tadinya saya terharu, karena setelah ngos-ngosan dan berhenti beberapa kali lantaran kecapaian akhirnya sampai tujuan. Namun, mendadak rasa itu hilang, lantaran di atas sana, ada pedagang kopi, mi instan rebus, dan gorengan.

Lupakan soal pedagang itu. Saya juga sudah lupa kalau kaki letih dan jantung berdegub tak seperti biasa. Saya cuma bisa memandang, memandang bongkahan-bongkahan awan yang masih hitam. Namun di balik itu, terpancar rona merah yang begitu indah. Saya menyongsong mentari pagi.

Tak kalah indah, sejajar dengan mentari berdiri kokoh Gunung Sindoro di kejauhan. Puncaknya terkadang ditutupi kabut, namun kembali terlihat. Begitu berulang. Tentunya, pesona indah tersebut tidak saya sia-siakan.

Dengan kamera yang memang sudah saya siapkan, diri ini kalap memotret mentari dari berbagai sudut pandang. Memotret mentari tanpa bingkai, lalu memadukannya dengan gunung dan pepohonan serta rerumputan yang terbentang.

Setelah mentari mulai meninggi, perjalanan kami lanjutkan menuju puncak lainnya demi menyaksikan Desa Sembungan dan Danau Cebong dari ketinggian.

Tak memakan waktu lama, paling sekira 15 menit dari puncak sebelumnya, kami akhirnya sampai. Lagi-lagi, pesona alam yang luar biasa menjadi santapan pagi kala itu. Rumah warga terlihat seperti susunan kotak-kotak dikelilingi perbukitan hijau. Belum lagi Danau Cebong terlihat lonjong tak beraturan. Eksotis!

Nikmati panorama dari puncak Bukit Sikunir dalam galeri foto berikut.
(ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Menteri Baru, Wisata Indonesia Harus Mendunia