Anak Lakukan Penolakan, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Minggu, 12 Mei 2013 - 09:38 wib | Mom & Kiddie -

Bermain dengan anak-anak (Foto: Google)

Anak Lakukan Penolakan, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?
SAAT anak berada dalam tahap “penolakan”, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk menghadapinya. Berikut ulasannya.

Penolakan yang dilakukan anak mungkin jadi pekerjaan rumah bagi orangtua. Namun jangan menghadapinya dengan perlakuan kasar. Dengan cara sederhana, hal itu pun bisa diatasi. Inilah cara-cara yang bisa dilakukan, seperti dikutip dari Tabloid Mom & Kiddie.

-Ajarkan anak respons lain

Salah satu alasan anak sering mengatakan “tidak” adalah karena ia tidak mengetahui kata lainnya. Orangtua perlu mengajarkan kata-kata lain untuk menanggapi suatu permintaan (misalnya: iya, mungkin, nanti, dan sebagainya).

-Sebisa mungkin gunakan kalimat permintaan yang positif, yang menunjukkan apa yang harus dilakukan anak, bukan apa yang tidak boleh dilakukan anak. Misalnya, lebih baik mengatakan “mainnya di teras saja ya” daripada “jangan main ke jalan”. Orangtua juga dapat menyatakan hal-hal yang lebih spesifik mengenai situasinya, “Main di tangga itu bahaya Nak, ayo kita main di kamar saja”.

-Kalimat positif membantu orangtua mengurangi penggunaan kata “tidak”, karena anak mungkin mengatakan “tidak” karena ia sering mendengar kata tersebut diucapkan oleh orangtua kepadanya. Di sisi lain, jika Anda harus menolak permintaan anak, gunakan kalimat seperti “ide bagus, kita lakukan nanti ya” daripada “Ibu sekarang sibuk, tidak bisa main sama Adik”.

-Anak cenderung melakukan apa yang dikatakan orangtua jika pendekatan yang dilakukan adalah bertanya, bukan memerintah. Misalnya, lebih baik mengatakan “Boleh pinjam mainannya?” daripada “Berikan mainan itu pada Ibu.”

-Ungkapkan dengan jelas apa yang diharapkan dari anak, contohkan bila perlu. Lebih baik mengatakan “Yuk kita simpan mobil-mobilan ini di rak”, daripada hanya mengatakan “Rapikan mainan itu.”

-Buat permintaan yang masuk akal dan berikan alternatif. Contoh, anak akan lebih mudah menukarkan satu mainan dengan mainan lain daripada harus menyerahkan mainannya tanpa ada mainan pengganti. Berikan alternatif, misalnya mengatakan, “Kamu tidak boleh mencoret-coret dinding, tetapi kamu boleh mencoret-coret kertas ini.”

-Pikirkan alasan kenapa anak membangkang, daripada hanya sekadar marah-marah menghadapi penolakan anak, sehingga orangtua dapat memikirkan cara untuk membantu anak. Perhatikan pola perilaku anak. Anak cenderung sulit bekerjasama ketika ia merasa lapar, sakit, lelah, atau tidak nyaman. Perhatikan waktu-waktu ketika anak sering “bertingkah”, dan usahakan untuk mengantisipasi dengan memenuhi kebutuhannya pada waktu-waktu tersebut agar ia lebih mudah diajak bekerjasama.

-Anak batita memiliki kebutuhan untuk mencoba melakukan suatu aktivitas sendiri sebanyak mungkin. Oleh karena itu, orangtua sebaiknya tidak bersikap terlalu mengontrol dan sebisa mungkin biarkan anak melakukan sesuatu sendiri, meskipun hal itu berarti ia akan memakai sepatu terbalik (tentunya ia akan merasa tidak nyaman, sehingga ia tidak keberatan untuk mengganti posisi sepatunya).

-Bersikap tegas

Ada saat-saat dimana meskipun orangtua sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghindari atau mengalihkan perhatian anak, perdebatan tetap saja terjadi, sehingga orangtua perlu bersikap tegas. Jika anak melakukan sesuatu yang membahayakan, misalnya berlari-larian di tengah jalan dan menolak untuk berhenti, orangtua harus segera menghentikan anak secara fisik (misalnya menggendong atau memegang tangannya). Selanjutnya, bicarakan mengenai tindakan yang berbahaya tersebut, misalnya, “Mama tahu kamu senang lari-larian, tapi kalau lari di tengah jalan, nanti kamu bisa tertabrak mobil”. Alasan keamanan bukan satu-satunya alasan bersikap tegas, karena meskipun anak memiliki kehendak pribadi, ia tidak bisa selalu memaksakan kehendaknya.

-Bersikap konsisten. Anak akan bingung bila orangtua memintanya membereskan mainan di satu hari dan tidak memintanya di hari lain.

-Ketika sudah melewati batas kesabaran, bersikaplah tenang dan ingat bahwa fase “penolakan” ini akan segera berlalu. Orangtua juga perlu belajar untuk memperhatikan dirinya sendiri, misalnya dengan membiarkan orang yang dapat dipercaya untuk menjaga anak ketika orangtua mulai merasa gelisah atau butuh istirahat, saat sedang mandi atau ketika sedang berjalan-jalan santai untuk mengurangi stres. (ind) (tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Konsumsi Obat Asma Bikin Keropos Tulang