Layang-Layang Tertua di Dunia Ada di Pulau Muna

|

Adhia Azkapradhani - Okezone

Pulau Muna (Foto: Indonesiatravel)

Layang-Layang Tertua di Dunia Ada di Pulau Muna
BERMAIN layang-layang mungkin sudah biasa bagi sebagian orang. Namun, jika layang-layang tersebut berusia ribuan tahun, tentu sensasinya akan berbeda.

Pergi ke Pulau Muna di Sulawesi Tenggara, Anda akan mendapatkan sebuah pengalaman menarik. Di Desa Mabolu, Kabupaten Muna, Sulawesi Selatan, Anda dapat menemukan layang-layang yang usianya mencapai 4.000 tahun. Untuk menuju tempat ini, Anda dapat menggunakan speedboat selama dua jam dari Kendari, Sulawesi Tenggara.

Kaghati Kolope adalah sebuah layang-layang legendaris yang ada di pulau ini. Bahkan, layangan ini telah membuat bangga negara Indonesia. Dibuat langsung oleh tangan nenek moyang dari daun kolope sehingga memiliki nilai sejarah tinggi. Tak heran jika layang-layang ini berulang kali menjuarai Festival Layang-Layang Internasional.

Menurut penelitian, permainan layang-layang (kaghati) oleh nenek moyang masyarakat Muna telah dilakukan sejak 4.000 tahun lalu. Di dalam Gua Sugi Patani, Desa Liangkobori tergambar seseorang sedang bermain layang-layang di dinding batunya dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dengan getah pohon). Diyakini jika Kaghati Kolope merupakan layang-layang pertama yang ada di dunia, seperti dikutip dari Indonesiatravel, Senin (27/5/2013).

Selain kaghati, di Pulau Muna ada kamanu-manu yaitu layangan yang terbuat dari tiga helai daun kolope atau daun gadung lalu di rangkai dengan lidi (lio) yang terbuat dari bambu dan dianyam dimana di bagian kiri kanan lidi ditaruh bulu ayam.

Setiap layangan memiliki ukuran kamumu masing-masing sesuai seleranya sehingga suara yang dihasilkannya juga menjadi spesifik dan dapat dikenali. Kamumu adalah semacam pita suara yang dibuat dari daun nyiur yang apabila ditiup angin akan bergetar dan menghasilkan bunyi khas mendayu terutama saat layangan dibiarkan terbang saat malam hari.

Bagi telinga yang sering mendengar bunyi kamumu akan segera dapat menebak pemilik layang-layang yang terbang di langit saat malam hari. Layangan ini terbuat dari daun kolope kedap air sehingga tahan di udara selama berhari-hari atau sekehendak pemiliknya kapan pun ingin diturunkan. Biasanya laying-layang diterbangkan pada bulan Juni-September. Bila selama 7 hari layang-layang yang diterbangkan tidak jatuh maka si pemilik layang-layang akan menggelar syukuran. Akan tetapi, setidaknya, hobi ini telah ada sekitar 400 tahun di Muna. Bahkan Pulau Muna telah beberapa kali menjadi tuan rumah festival layang-layang.

Menurut cerita turun temurun masyarakat Liang Kabori di Pulau Muna bahwa layang-layang adalah permainan petani pada masa lalu dimana mereka menjaga kebun sambil bermain layang-layang. Masyarakat Pulau Muna juga percaya bahwa layang-layang berfungsi sebagai payung yang akan menjaga pemiliknya dari sengatan sinar Matahari bila ia meninggal dunia. Ketika si pemilik ini meninggal, ia berpulang dengan berpegangan pada tali layangan dan bernaung di bawah layang-layang tersebut. (ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Liburan di Dalam Negeri, Perhatikan Ini