Antre Berebut Bubur Sunan Bonang untuk Takjil

Antre Berebut Bubur Sunan Bonang untuk Takjil

Warga membuat bubur bonang (Foto: wacanatuban)

TUBAN - Sebagai alternatif menu takjil atau berbuka puasa, ada bubur sunan bonang yang sangat digemari masyarakat Tuban, Jawa Timur. Tradisinya sudah dimulai sejak zaman Sunan Bonang.

Bubur yang dikenal dengan sebutan bubur mbah bonang ini memiliki citarasa Timur Tengah yang sangat nikmat. Tradisi bagi-bagi bubur bonang sendiri hingga saat ini masih lestari. Ini tepatnya telah dilakukan sejak ratusan tahun silam atau masa Sunan Bonang masih hidup dan menetap di daerah Kutorejo, sebelah barat Alun-Alun Tuban.

Beginilah pemandangan setiap sore hari menjelang datangnya buka puasa di Kompleks Makam Sunan Bonang, Kelurahan Kutorejo, Tuban, Jawa Timur. Puluhan bahkan ratusan warga berjejal, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, turut berebut bubur bonang.

Bubur bonang dikenal dengan citarasa gulai khas Timur Bengah. Bubur bonang, yang dimasak di area Kompleks Makam Sunan Bonang tepat di belakang Masjid Agung Tuban, dibuat dengan tambahan kaldu yang berasal dari tulang sapi. Bubur bonang dibuat oleh para pengurus Makam Sunan Bonang sebagai warisan turun-temurun.

Bahkan, usia warisan bubur bonang ini telah berabad-abad, yang merupakan tradisi peninggalan Sunan Bonang, salah satu Wali Songo. Namun, resep atau bahan yang digunakan untuk bubur bonang tak pernah berubah.

Tujuan tradisi bagi-bagi bubur bonang adalah memberi takjil buka puasa kepada para santri yang ada di pondok pesantren peninggalan Sunan Bonang. Pasalnya saat itu, kondisi ekonomi masyarakat juga serba kekurangan, apalagi penjajah Belanda mulai masuk ke wilayah Indonesia dan memperdaya warga. Untuk itu, Sunan Bonang membuat bubur suru, yang saat ini dikenal dengan nama bubur bonang, dengan harapan bubur tersebut dapat dibagi secara merata kepada para santrinya.

"Dahulu, bubur ini lebih dikenal dengan sebutan bubur mbah bonang, dimasak sendiri oleh Sunan Bonang sebagai menu takjil bagi para santrinya. Bubur bonang juga diantar ke sejumlah warga miskin dan para janda tua di lingkungan sekitar Padepokan Sunan Bonang pada saat itu," jelas Ikhwan, pengurus Makam Sunan Bonang.

Namun, tambahnya, seiring kemajuan zaman, bubur bonang justru diminati masyarakat umum. Karena citarasanya yang nikmat dikenal dari mulut ke mulut, bubur bonang pun menjadi ikon Ramadan warga masyarakat Kabupaten Tuban.

Bubur yang dibuat setahun sekali saat bulan Ramadaan saja ini menjadi kudapan nikmat buka puasa bagi jamaah Masjid Astana, yang berada di Kompleks Makam Sunan Bonang dan masyarakat sekitar. Setiap pukul 17.00 WIB atau menjelang maghrib, bubur bonang sudah ditunggu oleh puluhan bahkan ratusan warga yang dengan setia menunggu dibagikannya bubur khas Timur Tengah ini.

Bubur bonang mulai dimasak sejak pukul 14.00 WIB hingga siap saji sekira pukul 16.00 WIB. Ratusan warga harus antre untuk mendapatkannya, bahkan sejumlah anak terpaksa ikut berdesakan dengan orang dewasa karena khawatir tidak kebagian bubur. Bubur ini juga diberikan ke sejumlah langgar atau mushola di sekitar makam untuk sajian buka puasa para jamaah.

"Saya antre supaya dapat bubur bonang," kata Adri, penikmat bubur bonang.

Jika penasaran ingin menikmati sajian khas bubur bonang, Anda bisa mendapatkannya setiap saat. Pasalnya, bubur bonang dibuat setiap hari sepanjang bulan Ramadan. Bubur bonang juga menjadi lengkap nikmatnya jika disajikan dengan tambahan buah kurma. Sudah pasti, nikmatnya makin menggugah selera. Mulai anak-anak hingga orang dewasa tak melewatkan momen berebut bubur sunan bonang hingga suasana pun menjadi gaduh.
(ftr)

Baca Juga

Sate Maranggi Mas Narno Lebih Spesial

Sate Maranggi Mas Narno Lebih Spesial