IDI Tolak Kriminalisasi Dokter

Senin, 18 November 2013 - 12:43 wib | Helmi Ade Saputra - Okezone

Dr Zainal Abidin MH.Kes (Foto: Feri/Okezone)

IDI Tolak Kriminalisasi Dokter
DOKTER cenderung sering disalahkan bila tidak berhasil menyelematkan atau menyembuhkan pasien. Padahal, hal tersebut bisa disebabkan karena faktor kefatalan penyakit atau faktor risiko dari suatu tindakan medis yang tidak bisa dihindari.

Hal ini seperti kasus penangkapan dan penahanan Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Manado, sejak 8 November 2013. Hal ini berdasarkan putusan Makhamah Agung No. 365/K/Pid/2012.

Dalam surat itu dinyatakan bahwa Dr. Ayu telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana perbuatan karena kealpaannya dan menyebabkan matinya orang lain. Dokter tersebut dijatuhi hukuman pidana penjara selama 10 bulan.

Sementara itu, dalam menanggapi kasus tersebut, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Zaenal Abidin MH.Kes mengatakan bahwa mereka berkeyakinan dokter yang sedang bermasalah tersebut tidak bersalah dalam kasusnya.

"Karena mereka sudah menjalankan sesuai dengan prosedur profesi dan berupaya maksimal menolong pasien, serta berupaya memberikan pelayanan terbaik," jelas Dr. Zaenal Abidin dalam konferensi pers bertema "Pernyataan Sikap Menolak Kriminalisasi Dokter" di Kantor Pengurus Besar IDI, Jakarta Pusat, Senin (18/11/2013).

Sementara itu, Ketua BHP2A PB IDI, Dr. N. Nazar, SpB, M.H mengatakan bahwa dokter dalam menolong pasien seharusnya diukur dari upaya yang dilakukan berdasarkan kemampuan dan keahliannya sesuai standar etika dan standar profesi. Dia mengatakan bahwa dalam menolong pasien, dokter seharusnya bukan diukur dari hasil sebuah tindakan pengobatan dan perawatan yang harus sempurna.

"Kasus-kasus seperti ini dapat menimbulkan keresahan, keraguan, dan ketidaktenangan di antara kalangan dokter dalam menunaikan tugasnya karena adanya kekhawatiran akan tuntutan dan kriminalisasi dokter," jelasnya.

Untuk diketahui, sebelumnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Manado di 2011 menjatuhkan vonis bebas terhadap tiga dokter kandungan, yaitu Dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, dr Hendry Simanjuntak, dan dr Hendy Siagian. Namun, PK Mahkamah Agung justru menyatakan bahwa tiga dokter tersebut bersalah melakukan malpraktik terhadap Julia Fransiska Makatey. Ketiga dokter tersebut melakukan operasi cito secsio sesaria terhadap korban.

Dengan divonis bersalah, maka izin praktik ketiga dokter tersebut saat ini dicabut. Sementara itu, vonis ketiga dokter itu sesuai tuntutan Tim Jaksa Penuntut Umum Kejari Manado, yakni Romy Johanes SH, Maryanti Lesar SH dan Theodorus Rumampuk SH MH. JPU menilai ketiga dokter ini melanggar Pasal 359 KUHP. (tty)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Berhubungan Intim saat Haid Bisa Hamil?