Pil Pahit Pariwisata Thailand

|

Winda Destiana - Okezone

Pariwisata Thailand (Foto: news)

Pil Pahit Pariwisata Thailand
BANGKOK - Lebih dari satu bulan demonstrasi menuntut Perdana Menteri Thailand untuk mundur dari jabatannya. Industri pariwisata Thailand turut menelan pil pahit.
Wisatawan maupun backpacker biasanya memadati hotel sepanjang Desember-Januari pada momen menjelang Natal dan Tahun Baru. Namun, pemandangannya kini berbeda, apalagi puluhan negara telah mengeluarkan peringatan bepergian ke Thailand bagi warganya.
Situasi politik ini setidaknya telah mengurangi pemasukan Thailand dari wisatawan mancanegara. Ini terjadi sejak awal November hingga pertengahan Desember sekarang ini, dengan penurunan mencapai sekira 300.000 wisatawan.
“Sekitar 8 persen menurun dibandingkan dengan yang diharapkan sebelumnya,” kata Yutthachai Soonthronrattanavate, Presiden Asosiasi Perjalanan Domestik, seperti dilansir dari News, Senin (16/12/2013).
Lebih lanjut ia juga menambahkan bahwa beberapa pengusaha perjalanan mulai khawatir jika penurunan berimbas hingga Januari-Februari tahun depan. Hal serupa juga dikatakan oleh Asosiasi Bisnis Lokal untuk distrik backpacker, Khao San Road. Menurutnya, telah terjadi penurunan jumlah wisatawan sekira 50 persen. Pada awal Desember, misalnya, terjadi banyak pembatalan pemesanan yang dilakukan wisatawan mengingat insiden politik di Negeri Gajah Putih.
Seperti diketahui, situasi politik di Thailand hingga kini belum juga menemukan titik terang. Bentrokan telah menyebabkan lima orang tewas dan lebih dari 200 orang terluka yang terjadi di jalan-jalan dalam beberapa pekan terakhir.
Untuk menghindari kekerasan tersebut, wisatawan Asia maupun Eropa memilih untuk mencari aman dan tidak mengunjungi Thailand atau membatalkan rencana perjalanannya hingga situasi telah aman terkendali.
(ftr)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    92 Persen Penumpang Alami Hal Menjengkelkan di Pesawat