Cepat Bosan dengan Pasangan, Normalkah?

Cepat Bosan dengan Pasangan, Normalkah?

Fredrick Dermawan Purba (Foto: Okezone)

Bang Jeki,

Saat ini, saya memiliki pacar. Namun entah kenapa 'penyakit' lama saya kambuh alias cepat bosan dengan pacar saya. Saya memiliki kebiasaan mudah jatuh cinta dengan pria lain dan seakan kurang puas dengan kekasih. Padahal dia sangat baik dan perhatian. Normalkah kebiasaan saya itu?

Karina - Jakarta

Jawaban:

Dear kamu yang seakan tidak pernah puas,

"Rumput tetangga memang selalu lebih hijau" kalau kita hendak mengibaratkan apa yang sering kamu alami. Tapi benarkah?

Apa yang kamu rasakan berulangkali adalah sesuatu yang wajar dirasakan. Tetapi jika selalu dituruti tentunya dapat berakibat negatif bagimu. Terbayang kalau kamu setiap punya kekasih hanya bertahan enam bulan, lalu putus. Kemudian pacaran lagi dengan lelaki berikutnya selama enam bulan, lalu putus. Kamu tidak akan belajar banyak dari suatu hubungan pasangan pacaran jika hanya bertahan sebentar, lalu mudah beralih pada lelaki lain. Minimal kamu tidak belajar tentang bagaimana berkomitmen jangka panjang, bagaimana mengatasi persoalan bersama pasangan, bagaimana berfokus pada aspek positif dari pasangan dan menampik yang positif dari lelaki lain.

Ada dua hal yang menjadi penyebabnya, menurutku.

Pertama, kamu belum tahu apa yang kamu mau dari seorang pasangan. Karenanya setiap yang baik dari lelaki lain dapat dengan segera menggodamu untuk berpaling dari pasanganmu saat ini yang sebenarnya juga punya banyak hal baik. Cobalah untuk menyusun daftar "Lima hal utama yang harus dimiliki calon suamiku". Tuliskan di selembar kertas yang besar sebanyak-banyaknya apa yang kamu mau dimiliki oleh lelaki yang akan jadi suamimu. Tulis saja semuanya, mulai dari karakteristik fisik (ganteng, tinggi minimal 170 cm, putih, dll), tingkat pendidikan (minimal S1. harus dokter, dll), agama, suku bangsa, status sosial ekonomi (punya rumah sendiri, pekerjaan minimal bergaji 10 juta per bulan, dll), sampai kepribadian (humoris, perhatian, pintar ngomong di depan umum, dll). Setelah terkumpul semuanya, kelompokkan semuanya dalam 4 kelompok berikut: paling penting (harus dimiliki), penting (kalau dimiliki maka akan makin oke), cukup penting (kalau ada ya oke, kalau tidak ya tak apa), dan tidak penting (tak usah dipikirkan). Kemudian lihat karakteristik apa saja yang ada di kelompok paling penting, dan pilih lima yang HARUS ADA dari calon suamimu. Itulah yang kamu mau. Kedua, kamu terbius dengan indahnya jatuh cinta, tetapi enggan untuk berjalan dalam cinta. Jatuh cinta memang sangat menyenangkan, dunia milik berdua. Tapi setelah sekian waktu, ternyata mulai banyak konfliknya. Kamu enggan untuk belajar dan berusaha, berjalan bahkan kadang terjatuh dalam cinta. Padahal dalam pernikahan nantinya, hanya ada enam bulan bulan jatuh cinta, berpuluh tahun berikutnya diisi dengan berjalan dalam cinta.
 
Karenanya, saranku adalah kamu melakukan poin pertama, yaitu mencari "lima hal yang harus dimiliki calon suamiku" lalu lihat apakah pasangan kamu sekarang memiliki kelimanya. Jika ya, cobalah untuk menepiskan godaan lelaki lain, dan berusahalah untuk membuat hubungan pacaranmu sekarang lebih bermakna dan berwarna. Belajarlah bersamanya, jadilah pribadi yang lebih baik. Bersenang-senanglah sekaligus belajarlah. (Baca: Baru Kenalan Langsung Diajak Menikah)
 
 
Salam




Fredrick Dermawan Purba

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran
(fik)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?