Kenapa Pria Rela Cerai Dua Kali?

Kenapa Pria Rela Cerai Dua Kali?

Pria rela dicerai dua kali (Foto: Magforwomen)

SAYA punya teman pria yang bercerai dua kali. Dia mengaku bercerai karena kecewa dengan sikap sang istri. Bercerai dari istri pertama karena sang istri tidak mau melayaninya. Sebagai contoh, wanita ini tidak mau membuat kopi untuknya di pagi hari. Kebetulan, wanita ini penghasilannya lebih besar dari teman saya itu.

Dengan istri kedua, tidak jauh beda. Dia bercerai karena sang istri tidak mau mengurus kebutuhannya. Semua keperluan sang suami diurus oleh pembantu. Kebetulan juga, wanita ini penghasilannya lebih besar dari teman saya.

Sebagai wanita, saya bingung dengan sikapnya. Apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan teman saya itu? Apakah dia bermasalah dengan dirinya? Terima kasih. Novica, Bandung. 

Jawaban: 

Dear Novica ,

Menarik sekali situasi yang dihadapi temanmu itu ya. Seakan dia menjalani jalan yang sama dua kali dan menghadapi tembok yang sama dua kali sehingga mengalami kegagalan dua kali juga. Wanita yang ia pilih sebagai pasangan hidupnya ternyata tidak dapat memenuhi harapannya. Ada dua hal yang menjadi kunci tentang kisah cinta temanmu itu: 

Pertama, dua kali ia memilih wanita yang berpenghasilan lebih besar darinya. Apa yang menjadi alasan sehingga pola ini terjadi berulang? Daya tarik wanita karir yang professional dan punya daya juang besar mungkin sangat menarik baginya. Keamanan dan kenyamanan finansial dari penghasilan pasangan mungkin juga salah satu alasan.

Kemandirian pribadi dan kepercayaan diri yang tinggi dari wanita karir dapat juga menjadi salah satu sebabnya. Coba kamu tanyakan pada temanmu jawaban yang paling sesuai.

Kedua, yang menjadi penyebab perceraiannya adalah kekecewaan karena istrinya tidak mau melayaninya. Ini menjadi kontradiktif dengan poin pertama di atas. Seorang wanita karir yang jabatan dan penghasilannya tinggi, asumsinya juga punya kesibukan yang padat. Ditambah dengan fakta penghasilan istri lebih besar dari suami yang mungkin saja membuat istri menjunjung tinggi kesetaraan pria dan wanita, suami dan istri. “Saya sibuk harus kerja keras. Masa untuk membuat kopi saja tidak bisa sendiri? Apalagi sudah ada pembantu” mungkin adalah isi pikiran istri.

Bagi saya, yang kemudian menjadi pertanyaan besar adalah mengapa hal-hal detil seperti ini tidak dibicarakan semasa pacaran. Ketika keduanya saling mengenal dan mencari kecocokan satu sama lain, sebaiknya turut didiskuikan tentang pekerjaan dan penghasilan, pembagian peran di dalam rumah tangga, harapan akan kehidupan rumah tangga yang akan dibina, dan beragam hal lainnya. Ketika sudah dalam pernikahan dan dirasa ada yang mengganjal, tidakkah juga bisa didiskusikan dan disepakati bersama dibandingkan memilih perceraian? Atau mungkin ada isu lain dalam diri maupun relasi temanmu yang kemudian menjadi memuncak bermasalah dengan “tidak dilayani” sebagai pemicunya?

Akan lebih baik baginya untuk berdiskusi dengan psikolog pernikahan untuk menemukan jawaban yang lebih komprehensif, terlebih jika ia berencana menikah lagi.

Karena pernikahan yang bahagia meningkatkan kualitas hidup manusia, tetapi pernikahan yang buruk dan perceraian menimbulkan stres yang besar.

Fredrick Dermawan Purba

Erasmus MC, The Netherlands

(fik)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?