Pacar Beda Agama, Haruskah Putus Cinta?

Pacar Beda Agama, Haruskah Putus Cinta?

Harus mengambil keputusan tepat saat pacar beda agama (Foto: Google)

PERKENALKAN saya Stefani dan beragama Kristen. Sudah lima tahun ini saya menjalin percintaan beda agama dengan seorang pria Muslim.

Sebagai keluarga dengan latar belakang agama Islam yang kuat, kedua orangtua pacar saya tidak merestui hubungan kami, kecuali saya menjadi mualaf. Pacar saya tidak memaksa, namun apakah itu berarti dia tidak terlalu ingin membina rumah tangga dengan saya?

Tapi memang di sisi lain, saya juga sangat mencintai agama yang saya anut. Bagaimana cara meyakinkan orangtua pacar saya? Atau sebaiknya kami putus saja? Bagaimana saran terhadap masalah ini?

Jawaban:

Dear Stefani, pacaran adalah relasi intim yang dijalin oleh dua individu yang berbeda (latar belakang keluarga, pola asuh, kepribadian, minat, tujuan hidup, cara berelasi, dll). Kenapa mereka berpacaran? Karena mereka merasa menemukan ketertarikan fisik, merasa dekat seperti sahabat, dan kecocokan (baik kesamaan atau perbedaan yang saling melengkapi).

Alasan seseorang akhirnya memilih orang lain itu sebagai pacarnya sangat beraneka ragam. Ada yang memilih pacarnya karena ia cantik, karena ganteng, baik, pintar, kaya, jago basket, popular, nyambung diajak bicara, kasihan, atau lainnya.

Saat memilih pacar, terutama saat remaja, faktor agama seringkali diletakkan pada urutan kesekian, bukan yang pertama atau kedua. Kenapa? Karena seringkali menganggap “Aaaahh..kan masih buat pacaran, belum buat menikah..Gak apa-apa lah beda agama juga.” Dan akhirnya mereka berpacaran. Seringkali orangtua tidak setuju dan melarang.

Tapi biasanya apa yang dilarang belum tentu dituruti, apalagi dalam hal percintaan. Seringkali pacaran beda agama tersebut langgeng, seperti apa yang kamu alami. Sampai pada suatu saat, mereka harus memutuskan kelanjutan/masa depan hubungan mereka. Saat seperti inilah biasanya masalah muncul. Pada saat ingin melanjutkan ke tahapan yang lebih serius (pernikahan) pertimbangan yang harus diambil meliputi banyak hal, tidak hanya kedua individu tersebut, melainkan kedua keluarga besar. Restu orangtua, antisipasi masa depan, bagaimana kehidupan keluarga kalian nantinya, nilai-nilai apa yang dianut, dan lain sebagainya. Pada saat inilah, agama akan menjadi poin yang menyeruak ke permukaan dan menjadi sangat krusial.

Apakah akan menikah beda agama, atau salah satu pindah agama? Di mana akan menikah kalau beda agama (karena di Indonesia belum diperbolehkan)? Apakah orangtua mengizinkan? Keluarga besar bagaimana persetujuannya? Nantinya anak akan dibesarkan dalam agama yang mana? Penanaman nilai yang mana yang akan diterapkan? Dan lain sebagainya.

Pendapat saya apa yang kamu alami adalah pertimbangkan semuanya dari segala sudut pandang dan segala kemungkinan, yaitu:

- Diri kamu sendiri: apa yang kamu bayangkan soal masa depanmu memeluk agama pacarmu, apakah kamu akan dapat mengalami hubungan yang baik dengan Tuhan lewat jalan yang berbeda dengan jalan yang selama ini kamu lalui lewat agamamu? Apakah kamu meletakkan agama sebagai sesuatu yang wajib bagimu, sehingga tidak bisa dikompensasikan dengan keberadaan suami yang kamu cintai?

- Pasanganmu: Apakah dia cuma mengajukan satu hal, yaitu agar kamu yang pindah agama atau dia juga memunculkan kemungkinan dialah yang pindah agama, atau bahkan kalian dapat menikah beda agama?

- Orangtuamu: Apa restu orangtuamu? Mengizinkanmu menikah dengan pacarmu dengan kamu harus bertukar keyakinan? Atau mereka keberatan dengan itu?

- Keluarga pasanganmu: Apa tidak ada kemungkinan lain, selain kamu berpindah keyakinan?

Jika keempatnya mengarah pada kesimpulan "tidak" di mana kamu sulit membayangkan berpindah agama, keluargamu dan keluarganya juga bersikukuh, serta pasanganmu juga tidak memiliki alternatif lain selain itu, tampaknya (dan dari apa yang saya tangkap dari penuturanmu) pilihan mengakhiri hubungan dengannya adalah keputusan yang paling logis, meski akan jadi pilihan yang sangat menyakitkan. Pilihannya ada di kamu dan putuskanlah berlandaskan pikiran dan hatimu, masa kini dan masa depanmu.

Salam

Fredrick Dermawan Purba
Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung

(tty)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?