Cara Terbaik Menolak Ajakan Pergi dari Teman

Cara Terbaik Menolak Ajakan Pergi dari Teman

Cara terbaik menolak ajakan pergi dari teman (Foto: Shutterstock)

BANG Jeki, apa kabar? Saya Karin asal Manado. Saya selalu mengiyakan ajakan bertemu dengan teman-teman, sampai terkadang saya kewalahan sendiri. Saya ini orangnya suka tidak enakan, bagaimana cara terbaik untuk menolak ajakan teman?



Jawaban:

Dear Karin,

Apa yang Anda alami adalah sesuatu yang juga dialami oleh banyak orang dalam budaya kolektif seperti Indonesia, yaitu mempertimbangkan (bahkan terkadang sampai berlebihan) sudut pandang orang lain (pikiran-perasaan-kebutuhan) dalam mengambil keputusan dan berperilaku di lingkungan sosial pergaulan.

Seringkali kalimat-kalimat berikut muncul secara otomatis dalam kepala kita “Aduh nanti apa ya yang akan dipikirkan dia/mereka kalau aku melakukan ini?”, “Ah enggak enak juga, kalau aku bilang yang sebenarnya, aku mau”, atau “Nanti dia sedih/marah/kecewa kalau aku menolak ajakannya”. Semua pikiran otomatis ini menghambat kita untuk menampilkan apa yang sebenarnya menjadi pikiran-perasaan-kebutuhan kita sendiri.

Dalam terminologi psikologi komunikasi, ini disebut komunikasi yang non-asertif (pasif), di mana kita lebih mendahulukan kebutuhan orang lain dibanding diri kita sendiri, meskipun kita tahu kita akan mengalami efek yang negatif dari pilihan kita tersebut.

Jangan salah paham ya, Karin. Terkadang komunikasi non-asertif (pasif) ini juga diperlukan dan tepat dalam beberapa jenis situasi, semisal dengan orangtua atau pasangan, meski juga tidak baik jika terus-menerus dilakukan.

Yang dapat Anda lakukan adalah berlatih kemampuan berkomunikasi asertif, yaitu mengekspresikan dengan penuh keyakinan pikiran, perasaan, dan keyakinan dengan cara menyatakannya secara jelas, langsung, selaras, dan pada tempatnya berlandaskan pada keberpihakan pada diri sendiri, tanpa melanggar hak orang lain. Definisi yang panjang tetapi lengkap karena mencakup mental set internal dan ekspresi eksternal yang seharusnya.

 

Bagaimana caranya?

1. Tentukan terlebih dahulu apa yang Anda mau sebenar-benarnya.

Kita ambil contoh apa yang Anda sampaikan: teman Anda mengajak berkumpul di mal. Coba tanyakan pada diri Anda, apakah Anda memang mau untuk ikut berkumpul di mal? Adakah tugas kuliah/pekerjaan, adakah janji lain, adakah acara TV yang hendak Anda tonton, adakah tugas rumah yang harus Anda selesaikan, adakah keinginan untuk diam di rumah saja, atau lain-lain. Putuskan dulu: mau atau tidak mau.

2. Pertimbangkan siapa, apa, kapan, dan mengapa, pihak rekan bicara Anda itu.

Selain diri sendiri dan apa yang Anda mau, coba periksa siapa yang mengajak Anda itu dan apa alasannya. Bisa saja teman Anda itu hendak curhat sesuatu yang penting sekali. Atau mungkin dia hanya ingin main saja. Berdasarkan informasi itu, tentukan apakah keputusan Anda di poin pertama akan tetap atau berubah. Mempertimbangkan positif dan negatif dari tiap kemungkinan bisa jadi strategi yang membantu Anda.

3. Sampaikan apa yang Anda hendak sampaikan

Jika Anda memutuskan untuk ikut, sampaikan pada teman Anda. Rasanya kalau itu sih tidak akan ada hambatan berarti ya.

Jika Anda memutuskan untuk tidak ikut, sampaikan dengan menggunakan teknik I-statement (pernyataan saya). Artinya adalah sampaikan apa yang Anda mau dengan menggunakan kata “Aku/Saya/Gue” di awal kalimat yang dilanjutkan dengan keputusan Anda di poin dua tadi. Tidak harus selalu Anda mengemukakan alasan, karena seringkali alasan dapat menjadi titik argumentasi.

Sebagai contoh: “Aku tidak ikut ya ke mall” yang dapat ditambahkan dengan “Aku ada kerjaan di rumah”. Tidak perlu mengarang alasan-alasan yang nanti akan merepotkan Anda sendiri. Jika Anda mau, dapat saja kalimat itu diawali dengan kata “Maaf” menjadi “Maaf, aku tidak ikut ya ke mal. Di rumah lagi ada kerjaan.”

4. Pertahankan keputusan Anda

Jika teman Anda memaksa untuk ikut dengan berbagai alasan, Anda harus tetap yakin dengan keputusan Anda. Salah satu teknik yang dapat dipakai adalah apa yang disebut Broken Record Technique, di mana Anda mengulang-ulang kalimat di poin tiga untuk menjawab apapun yang disampaikan teman Anda.

Contoh percakapannya bisa jadi seperti berikut ini:

Teman: Ke mal yuk main, lagi rame dan diskon banyak nih.

Karin: Maaf, aku tidak ikut ya ke mal. Di rumah lagi ada kerjaan.

Teman: Ah kamu. Ayolah ke mal. Kapan lagi coba.

Karin: Maaf ya, lagi ada kerjaan di rumah. Aku tidak ikut.

Teman: Ah enggak seru ah lo.

Karin: Aku tidak ikut ya. Ada kerjaan di rumah.

 

Biasanya tiga kali pengulangan sudah cukup untuk menegaskan bahwa Anda memang yakin dengan keputusan Anda.

Catatan: teknik ini juga bisa dipakai untuk menghadapi marketing credit card dari bank, teman yang MLM (multi-level marketing-red), bahkan lelaki yang mengajak kencan dan atau menyatakan cinta.

Silakan mencoba keempat langkah yang saya sarankan. Seandainya di beberapa percobaan awal masih belum efektif, jangan khawatir, karena memang tidak mudah mengubah gaya berkomunikasi. Latihan terus sehingga Anda makin mahir berkomunikasi asertif.



Salam,

Fredrick Dermawan Purba

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

 

KLIK DI SINI untuk konsultasi seputar perawatan tubuh, rambut, wajah, kesehatan, hingga urusan asmara.

(yac)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?