Tips agar Tidak Menjadi Seorang PHP

Tips agar Tidak Menjadi Seorang PHP

Tips agar tidak menjadi seorang PHP (Foto: Datesnotscams)

HI Bang Jeki, saya Ririn dari Bandung. Saya dicap sebagai wanita PHP alias pemberi harapan palsu.

Saya punya banyak teman pria, saya menganggap para pria ini hanya sebagai teman, namun mereka menganggapnya lebih. Tapi saya tidak merasa menggoda mereka, saya hanya menjalani hubungan selayaknya teman. Saya pun tidak merasa bersalah, karena memang saya tidak bermaksud membuat para pria ini suka sama saya.

Apakah ini salah saya? Apakah memang wanita dan pria tidak bisa jadi teman?

Jawaban:

Dear Ririn,

Menarik sekali apa yang terjadi pada Ririn saat ini, mengingat istilah PHP menjadi salah satu kata yang sedang begitu populer di masyarakat, sekaligus digunakan untuk berbagai macam situasi yang belum tentu memang tepat. Beberapa waktu lalu, kata galau juga mengalami popularitas yang sama dan dilekatkan pada banyak situasi meskipun sebenarnya keliru.

Pertanyaan apakah wanita dan pria tidak bisa berteman tanpa melibatkan asmara seringkali ditanyakan kepada saya. Jawabannya sederhana saja, yaitu: mungkin. Banyak sekali contoh di sekeliling kita di mana ada pria dan wanita yang bersahabat erat bertahun-tahun lamanya.

Kalau pertanyaan tadi diubah sedikit menjadi, “Mungkinkah ada persahabatan dekat pria dan wanita yang sama sekali tidak pernah terbersit rasa ketertarikan dan pikiran hendak menjadi pasangan?”, maka jawaban saya akan berubah menjadi: hampir tidak mungkin. Pasti pernah terbersit atau dibayangkan sesekali, meski kemudian ditekan dalam-dalam karena tidak ingin persahabatan menjadi rusak. Bayangkan, siapa yang tidak ingin punya pasangan sekaligus sahabat dalam satu orang yang sama?

Pertanyaan Ririn yang “Apakah ini salah saya?” akan memunculkan jawaban yang lebih kompleks. Ada dua poin yang hendak saya sampaikan terkait pertanyaan tersebut.

1. Pada siapa kita jatuh cinta tidaklah dapat kita kendalikan. Hal ini masih menjadi diskusi para ahli dari berbagai sudut pandang ilmu.

Menyukai atau tidak menyukai, jatuh cinta atau tidak jatuh cinta pada seseorang, itu tidak dapat kita kendalikan. Bisa saja dikarenakan diri kita sendiri, perlakuan si seseorang itu, stimulasi dari lingkungan sekitar, atau campuran ketiganya. Jadi para lelaki yang jatuh cinta (atau mungkin lebih tepat dikatakan ‘jatuh suka’) padamu tidak dapat dipersalahkan. Cupid si dewa cinta yang sesukanya menebar panah asmara tampaknya dapat dijadikan terdakwa.

2. Pria adalah makhluk logis-matematis. Dalam hal percintaan pun begitu. Biasanya (baik disadari atau tidak) pria yang sedang jatuh suka pada seseorang akan punya papan hitungan pertanda yang berisi tiga kolom: (i) Ya, dia suka padaku juga, (ii) Tidak, dia tidak punya perasaan khusus padaku, dan (iii) Netral saja.

Saat berinteraksi dengan sang pujaan hati, pria sibuk memberi stimulus dan mengkategorikan respons balasannya dalam papan pertanda tadi. Misalnya saat sang pujaan hati bersedia diajak pergi berdua, itu akan menambah tiga poin di kolom (i) Ya, dia suka padaku juga. Saat sang pujaan hati hanya membaca BBM tapi tidak membalas, maka pria menambahkan empat poin di kolom (ii) Tidak, dia tidak punya perasaan khusus padaku.

Selama beberapa waktu, pria akan melakukan ini untuk dapat menyimpulkan apakah ada prospek positif berlanjut atau tidak. Ingat, pria itu logis-matematis. Karenanya, perlakuan Ririn pada stimulus yang disampaikan oleh pria-pria tersebut dapat membuat mereka jatuh suka atau tidak pada Ririn, juga apakah mereka akan berusaha mendekati Ririn lebih lagi atau menjauh karena tidak melihat kemungkinan besar mendapatkan Ririn sebagai pasangan.

Jadi salahkah Ririn karena berteman dengan mereka dan mereka jatuh suka pada Ririn? Ririn tidak salah, tetapi mungkin Ririn memang ambil bagian sebagai penyebab situasi ini. Bisa jadi perilaku-perilaku berteman yang Ririn anggap wajar dipersepsi sebagai oleh para pria tersebut sebagai poin untuk kolom (i) Ya dia suka padaku juga. Bisa jadi menanyakan kabar dianggap memberikan perhatian khusus pada pria-pria tersebut. Kesediaan untuk hangout diyakini sebagai kesediaan untuk menjalin relasi lebih dalam.

Apa yang dapat Ririn lakukan untuk mengatasi, sekaligus mencegah ini terjadi? Saya punya dua saran.

1. Katakan terus terang secara tegas jelas dan langsung pada pria-pria itu kalau hubungan pertemanan Ririn dengan mereka adalah murni pertemanan. Sampaikan dalam situasi kalian sedang berkumpul dan bersenang-senang. Mungkin akan dianggap bercanda oleh mereka apa yang kamu sampaikan, tetapi katakan sekali lagi dengan jelas.

Lakukan dua atau tiga kali dalam waktu yang berbeda, sehingga Ririn yakin bahwa semua mereka sudah mendengarnya. Hal ini berguna jika ada salah seoranag dari mereka yang kemudian menyatakan perasaannya pada Ririn, Ririn dapat mengingatkan bahwa itu sudah pernah disampaikan

2. Membatasi respons pada pria-pria tersebut agar tidak melewati batasan yang dapat dipersepsi memberikan harapan palsu. Saat seorang teman pria mulai memberikan perhatian pada hal-hal detil yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan, semisal menanyakan apa sudah makan atau menyuruh untuk tidur agar tidak terlambat kerja besok, Ririn bisa saja menjawab dengan bercanda atau tidak merespons. Ini dimaksudkan agar sang pria tersebut memberikan poin tambahan ke kolom (ii) Tidak, dia tidak punya perasaan khusus padaku atau setidaknya kolom (iii) Netral saja.

Semoga membantu.



Salam,

Fredrick Dermawan Purba

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

(yac)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?