Efek Samping Anak Kecanduan Makan Permen

Efek Samping Anak Kecanduan Makan Permen

Efek samping makan permen (Foto: Hookedonrunning)

ANAK saya, Rio (4), hobi sekali makan permen manis. Tiap saya pulang kerja, selalu minta permen. Ia bahkan membongkar tas kerja saya demi mencari permen. Bisa dua bungkus permen (isi 10 permen) ia makan sehari. Kalau tak makan permen sehari saja, dia akan menangis dan baru diam kalau dikasih permen. Adakah dampak kebanyakan makan permen bagi tubuh anak? Bagaimana mengatasi kecanduannya? Terima kasih. Litasari - Jakarta Barat

Jawab :

Ada beberapa kandungan zat adiktif pada makanan yang jika dikonsumsi terlalu sering dan berlebihan bisa menyebabkan kecanduan. Mengonsumsi permen berarti mengonsumi gula dalam jumlah tinggi, hal ini akan menyebabkan produksi insulin dalam tubuh meningkat drastis. Dan saat produksi insulin kembali pada titik normal, tubuh akan menagih untuk kembali mengonsumsi permen.

Dampak

Anak yang suka mengonsumsi permen akan mengalami kerusakan gigi. Sebab, gula akan menjadi media pertumbuhan bakteri. Jika setelah mengonsumsi makanan manis tidak langsung membersihkan gigi, maka bakteri akan menempel dan berkembang biak. Akibatnya, gigi mengalami kerusakan, misalnya, gigi jadi berlubang dan timbul karies.

Selain itu, kecanduan permen juga dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pencernaan, obesitas, dan hiperaktif. Selain itu juga bisa membuat gula darah menjadi tinggi, sehingga anak akan merasa kenyang dan berujung malas untuk mengonsumsi makanan sehat. Akibatnya tubuh anak menjadi lebih mudah terserang penyakit karena kurangnya asupan gizi yang baik.

Jika anak banyak mengonsumsi makanan manis dan dibarengi dengan gaya hidup yang tidak sehat, lama kelamaan risiko diabetes pun membayangi.

Selain itu, tubuh manusia juga butuh waktu lebih lama untuk mencerna makanan manis yang mengandung gula dan lemak hingga kerja otak akan melambat. Fluktuasi ini menyebabkan tidak stabilnya pasokan energi ke otak, yang berakibat turunnya kemampuan konsentrasi, mudah tersinggung, dan kelelahan.

Konsultan:

dr. Anies Nuringtyas, SpA

RSIA Bunda Aliyah

Jl. Pahlawan Revolusi No. 100

Pondok Bambu, Jakarta Timur

(ren)

Baca Juga

Bolehkah Mengatasi Ruam Popok dengan Menggunakan Krim?

Bolehkah Mengatasi Ruam Popok dengan Menggunakan Krim?