Perjuangan Euis Sunarti Bangun Moral Bangsa lewat Keluarga

Perjuangan Euis Sunarti Bangun Moral Bangsa lewat Keluarga

Euis Sunarti (Foto: Dok Pribadi)

KELUARGA dibangun dengan pernikahan yang sakral dan pasti punya tujuan untuk membangun keluarga bahagia, cerdas, dan bermanfaat bagi kelangsungan bangsa.
 
Namun sayang, pemahaman seseorang sebelum membina keluarga masih jauh dari kata cukup.

Itulah yang diungkap pelopor penggiat keluarga, Prof. DR. Ir. Euis Sunarti, M.Si dalam wawancara khusus dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB) ini berjuang membenahi masalah-masalah yang ada di negeri ini dari akar permasalahannya.

Tidak dapat dipungkiri, perceraian, kekerasan terhadap anak, carut-marut pendidikan, kejahatan seksual, pencemaran lingkungan, dan masih banyak lagi masalah lainnya terjadi karena kesalahan keluarga dalam menjalankan fungsi. Kurangnya kasih sayang keluarga menyebabkan anak-anak tumbuh tanpa pengawasan, bahkan pembiaran dari orangtua.

“Keluarga adalah lingkungan sosial paling penting sebagai pengamanan dari kerusakan moral dan semua hal-hal buruk. Untuk itu dengan adanya deklarasi hari keluarga saya berpikir untuk mengajak keluarga Indonesia memperhatikan keluarganya,” terang Euis yang khas dengan logat Sunda.

Perjuangan wanita empat orang anak ini menciptakan keluarga Indonesia bermoral, sejahtera, dan bahagia dimulai dengan membentuk organisasi bernama SAMARA (Sakinah, Mawadah, Warahmah) sebagai pusat kajian keluarga dan anak. Kemudian untuk mengembangkan dan memajukan supaya lebih resmi dan mendapat perhatian dari pemerintah ia mendirikan sebuah perhimpuanan bernama Penggiat Keluarga (GIGA) pada 2014.

“Saya ingin lewat GIGA tercipta keluarga sebagai tempat sekolah awal setiap anak. Terciptanya lingkungan berpendidikan dan membangun karakter serta moral anak. Artinya ada pembagian peran suami dan istri. Faktanya banyak orang menikah tidak punya persiapan. Hal ini tidak boleh terjadi lagi ke depannya. Itu hanya bisa didapat dari keluarga sebelumnya.”

Tidak sampai di situ, masih banyak perjuangan yang ingin dilakukan wanita 50 tahun yang meraih gelar doctor di jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Intitut Pertanian Bogor (IPB) pada 2001 ini. Di antaranya, bagaimana mendorong kebijakan yang ramah keluarga, pekerjaan yang mensejahterakan keluarga, dan perluasaan informasi tentang pentingnya fungsi keluarga.

(vin)

Baca Juga

<i>Moms</i>, Tak  Ada Hal yang Diinginkan si Kecil dari Anda! Mereka Hanya Inginkan Hal Sederhana Ini

Moms, Tak Ada Hal yang Diinginkan si Kecil dari Anda! Mereka Hanya Inginkan Hal Sederhana Ini