Bos Tukang Ngatur, Begini Hadapinya

Bos Tukang Ngatur, Begini Hadapinya

Ilustrasi atasan bossy (Foto: Huffingtonpost)

PERKENALKAN nama saya Dian. Saya ingin bertanya bagaimana cara memberitahukan kepada atasan di kantor untuk mengubah sikapnya agar tidak bossy. Karena gaya kepemimpinannya yang suka memerintah tidak disukai oleh semua karyawan? Salah satu alasannya ia kebal kritik.

Jawaban

Dear staf yang tidak menyukai gaya kepemimpinan atasannya,

Ada gambar di media sosial yang bertuliskan seperti berikut:

"a bad job with a good bos is better than a good job with a bad boss"

Terkesan agak bertentangan logika karena biasanya kita disarankan untuk bekerja di pekerjaan yang sesuai kompetensi dan keinginan kita, terlepas dari bagaimana tipe atasan kita.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Gaya kepemimpinan atasan sangat menentukan performa kerja dan kepuasan kerja bawahan. Pekerjaan impian dan gaji berlimpah tapi dikerjakan di situasi sepanas neraka (karena atasan yang tidak tepat memimpin atau relasi dengan rekan krja yang destruktif) tidak hanya merusak kinerja tim tetapi juga berakibat buruk pada kesehatan mental semua orang.

Saat ini banyak literatur berupa buku maupun artikel di internet tentang 'how to manage your boss'. Saya sangat menyarankan Anda untuk mencari dan membaca literatur-literatur tersebut.

Salah satu yang saya lakukan beberapa kali adalah menyampaikan umpan balik (feedback) untuk perubahan perilaku atasan melalui atasan dari atasan tersebut atau orang lain yang ia hormati atau dekat secara emosional dengannya.

Anda dapat minta waktu bertemu dengan orang tersebut dan menyampaikan keluhan itu, lalu memintanya berbicara hati ke hati dengan atasan Anda.

Perlu Anda ingat adalah jangan mengadukan kepribadian atasan, tetapi beri tahu perilaku apa yang kurang menyenangkan dan apa akibatnya bagi orang-orang yang terkena, berikan contoh kongkrit, dan perilaku seperti apa yang diharapkan untuk ia lakukan.

Karena umpan balik (feedback) yang efektif adalah bukan bertujuan mengubah kepribadian tetapi memperbaiki perilaku.

Salam,

Fredrick Dermawan Purba, M.Psi

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

 

(vin)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?