Suami Galau Tinggal di Rumah Mertua

Suami Galau Tinggal di Rumah Mertua

Ilustrasi suami istri (Foto: Behappytips)

SALAM kenal Bang Jeki. Perkenalkan saya Doni. Saya pria menikah. Saat ini saya bingung untuk mengikuti kata istri apa kata hati saya? Istri saya mengajak untuk pindah ke rumah orangtuanya (kami masih mengontrak). Berat bagi saya untuk tinggal bersama mertua. Disamping takut akan ada kecanggungan dan saya juga kurang merasa bebas. Bagaimana mengatasi ini. Sebab, kalau saya menolak permintaan istri ujung-ujungnya kami bertengkar

Jawaban

Dear Doni, 

Pindah ke rumah yang terpisah dari keluarga asal (meskipun itu adalah sebuah paviliun di halaman rumah orangtua/mertua) adalah tugas perkembangan pertama bagi pasangan yang baru menikah. Tentu saja dengan mempertimbangkan berbagai hal, seperti keadaan ekonomi pasangan, ketersediaan pilihan rumah untuk ditempati, jarak ke tempat kerja, dan lain-lain.

Tetapi begitu memungkinkan, berada di tempat tinggal sendiri, terlepas dari status kepemilikan, adalah pilihan yang paling disarankan. Mengapa? Karena pasangan perlu saling menyesuaikan diri satu sama lainnya untuk dapat menemukan kekhasan keluarga kecil mereka.

Kekhasan keluarga ini tentu saja merupakan hasil pilihan sadar suami dan istri yang bersumber dari kebiasaan-kebiasaan yang dibawa dari keluarga asal masing-masing. Tinggal bersama keluarga asal berarti memberikan porsi lebih salah satu pihak untuk mengintervensi kekhasan keluarga yang baru saja hendak dirumuskan bersama. Kemungkinan konflik pasangan itu dengan keluarga asal juga lebih terbuka dibanding jika tinggal terpisah.

Pertengkaran Anda dan istri adalah satu hal positif untuk perkembangan relasi kalian berdua sebagai pasangan, asal dapat di-manage dengan baik. Berikan waktu untuk berbincang berdua tentang topik ini, dengan sebelumnya untuk saling berjanji tidak akan ada yang marah atau sedih selama percakapan.

Buatlah daftar positif dan negatif dari kedua pilihan. Telusuri apa yang menjadi keinginan dan kekhawatiran Anda dan pasangan terkait kedua pilihan itu. Bicarakan baik-baik. Jika dirasa perlu, bertanyalah pada teman-teman yang tingggl terpisah dan teman-teman yang tinggal bersama orangtua mereka tentang positif dan negatifnya.

Jika dirasa perlu, datang ke psikolog/konselor pernikahan untuk membantu diskusi Anda dan pasangan. Psikolog/konselor pernikahan bukan hanya untuk pasangan yang dalam masalah besar atau terancam bercerai saja, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran pasangan dalam berkomunikasi dan menyelesaikan pertentangan. Semoga berhasil memutuskan yang terbaik bagi Anda dan pasangan.

Salam,

Fredrick Dermawan Purba, M.Psi., Psikolog

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

 

(vin)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?