Aturan Tepat Investasi dengan Kekasih meski Belum Nikah

Aturan Tepat Investasi dengan Kekasih meski Belum Nikah

Ilustrasi pasangan kekasih (Foto: Thomascook)

SALAM Bang Jeki. Kenalkan saya Bella. Saya memiliki seorang kekasih. Kami pacaran sudah berjalan selama satu tahun. Sejauh ini saya dan pacar sudah menyiapkan masa depan berdua. Seperti mencicil rumah bersama dan investasi bersama. Haruskah demikian? Atau buat perjanjian pasti? Bagaimana jika ternyata kami tak berjodoh.

Jawaban

Dear Bella,

Jika kamu mengamati jawaban saya terhadap yang dimuat persis sebelum jawaban saya ini, maka secara garis besar jawaban saya adalah serupa. Merencanakan masa depan berdua adalah sesuatu yang sangat baik dilakukan, sama seperti merencanakan sebuah bisnis.

Semua orang yang merencanakan membangun sebuah usaha bersama tentunya berharap, berdoa, dan berusaha agar usahanya berhasil dan mendapatkan keuntungan besar. Demikian juga merencanakan kehidupan keluarga bersama calon suami kamu. Banyak area yang perlu disiapkan, dan sebagian daripadanya, terutama finansial, sudah kamu lakukan.

Di sisi lain, mengantisipasi kegagalan adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan. Perusahaan asuransi menyediakan jaring pengaman saat ada sakit penyakit, bencana, kecelakaan, kebutuhan tak terduga, sampai pada antisipasi biaya pendidikan nantinya. Perjanjian pranikah, yang belum lazim dilakukan di Indonesia, juga adalah semacam asuransi yang legal dan disepakati bersama oleh pasangan.

Sebagai pasangan yang belum menikah, antisipasi kegagalan dari kamu dan pasanganmu menjadi sesuatu yang disarankan untuk dipersiapkan. Hal ini tidak berarti mendoakan agar hubungan kalian putus di tengah jalan, tapi sebagai bentuk pengakuan bahwa selalu ada kemungkinan gagal.

Seseorang yang menyadari bahwa berjalan di trotoar pun masih menyisakan kemungkinan ditabrak oleh kendaraan bermotor akan menstimulasinya berjalan lebih hati-hati agar kemungkinan tersebut tidak terjadi. Begitu pun dengan kalian berdua saat ini.

Apa yang sebaiknya kalian berdua lakukan? Berikut saran saya:

Pertama, buat rencana terperinci tentang target kalian berdua, semisal waktu pernikahan, kehidupan berumah tangga, tempat tinggal, dan lain sebagainya. Kegiatan merencanakan dan menuliskan secara terperinci ini sangat menstimulasi kelekatan emosional pasangan dan berkomunikasi secara terbuka.

Kedua, review secara terperinci apa saja yang sudah dilakukan selama ini dan seberapa sudah sumbangsih setiap orang. Kamu menuliskan sudah ada cicilan rumah dan investasi bersama. Buat catatan terperinci tentang siapa berkontribusi berapa untuk apa. Hitam di atas putih agar mudah dipertanggungjawabkan.

Ketiga, sepakati bersama apa yang akan dilakukan seandainya (semoga tidak terjadi) kalian harus putus sebelum menikah. Ingat, tidak ada aturan legal soal pembagian harta pasangan pacaran saat putus. Yang ada hanya aturan hukum tentang harta dari pasangan pernikahan yang bercerai.

Keempat,  berkomunikasilah tentang segala sesuatu terkait usaha kalian berinvestasi tersebut. Rasa percaya muncul dari saling terbuka dan bersedia menerima masukan.

Proses komunikasi dalam merencanakan, mengeksekusi, dan menyelesaikan konflik yang kalian latih selama ini maupun seterusnya akan sangat membantu dalam pernikahan nantinya sebagai sebuah keluarga.


Salam,

Fredrick Dermawan Purba, M.Psi., Psikolog

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

 

(vin)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?