Ingin Sukses Berkarier? Pikirkan Hal Ini

Ingin Sukses Berkarier? Pikirkan Hal Ini

Sukses berkarier (Foto: Entremarketing)

PERKENALKAN Bang Jeki. Saya Retno. Saya masih single dan memiliki Kekhawatiran untuk menggapai masa depan. Seperti karier, jodoh dan keluarga. Saya seolah tidak sabar untuk mencapai kesuksesan itu. Sementara, saya bekerja dengan gaji pas-pasan. Bagaimana meyakinkan diri saya dan yakin ke depannya akan cerah.

Jawaban

Dear Retno,

“Gunung yang menjulang tinggi di depan sangat menakutkan bagi orang awam yang hanya melihat tingginya tanpa memperhitungkan kemiringannya, tapi sebaliknya mengundang para pendaki untuk menaklukkannya.”

Dua hal yang saya perlu tekankan terkait kalimat saya diatas tersebut:

Saat kita melihat keberhasilan (orang lain) yang seakan begitu besar dan luar biasa, kita terpacu untuk mendapatkan kesuksesan yang sama atau bahkan lebih. Tapi karena tinggi sekali kelihatannya, pikiran “Bisakah saya?” muncul berulang disertai perasaan khawatir. Banyak orang lalu menyerah pada pikiran tersebut dan memilih mendaki bukit kecil saja (keberhasilan yang biasa saja) dan melupakan antusiasme di awal.

Karenanya, selain memandang puncak gunung yang tinggi tersebut, lihatlah bahwa ada garis diagonal yang menghubungkan antara dataran rendah dengan puncak gunung itu. Bahwa mencapai puncak tak dapat dengan satu kali loncat, satu kali jalan tanpa berhenti, satu periode, satu kali percobaan lalu berhasil. Mencapai puncak itu bertahap, ada beberapa kali perhentian untuk mengambil napas dan menghargai setiap langkah yang sudah dilakukan. Sebelum sampai puncak Everest pun ada beberapa base camp yang perlu dilalui (tonton film Everest untuk lebih menghayati).

Karenanya, targetkan dirimu sebuah puncak tinggi, tapi bagilah menjadi beberapa target antara. Sangat jarang seseorang langsung menjadi direktur tanpa melewati perjalanan menapak dari bawah. Beri penghargaan pada dirimu saat mencapai target-target antara tersebut, rayakan dan syukuri.

Tidak ada pendaki yang dalam upaya mendaki sebuah gunung melakukannya tanpa persiapan yang memadai. Tidak ada pendaki yang memulai kariernya dari menjajal Everest. Pendaki mulai dari latihan fisik yang sering kali bukan di bukit/gunung, tapi di dataran rendah.

Pendaki meyakinkan dirinya bahwa ia siap untuk mendaki puncak pertamanya dengan berlatih sekerasnya. Saat ia menemui hambatan, ia tahu apa yang kurang dan apa yang cukup. Setelah berhasil di satu puncak, ia lalu beranjak mempersiapkan diri untuk puncak berikutnya yang lebih menantang. Begitu pun dengan kita manusia. Persiapkan dirimu untuk layak mendapatkan keberhasilan yang kamu inginkan. Jangan hanya berpikir “ah saya sudah kerja lama dan layak jadi manajer” tanpa berpikir-bekerja-bertindak selevel manajer.

Latih dirimu menjadi satu level di atas, sehingga ketika kesempatan untuk naik itu ada, kamu sudah siap. Jangan menunggu dinaikkan jabatan menjadi supervisor baru belajar bagaimana caranya menjadi supervisor yang baik. Saat jadi staf pun latih dan tunjukkan bahwa kamu sudah layak menjadi supervisor.

Selamat mendaki gunung tinggi dengan persiapan dan keterampilan layaknya pendaki profesional. Selalu jadi orang yang satu level diatas level aktual kamu sekarang.

Salam,

Fredrick Dermawan Purba, M.Psi

Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran -

Erasmus Medical Center Rotterdam

(vin)

Baca Juga

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?

Dilema Harus Pilih S2 atau Karier?