Sering Dikira Anemia, Ini Gejala Leukemia Granulositik Kronik

Sering Dikira Anemia, Ini Gejala Leukemia Granulositik Kronik

Ilustrasi (Foto: Indiatimes)

LEUKEMIA atau kanker darah tidak hanya menyerang anak-anak. Kanker leukemia atau jenisnya yang lebih spesifik Leukemia Granulositik Kronik (LGK) bisa menyerang orang dewasa. Sayangnya, gejala LGK yang bisa dirasakan seperti anemia atau mag ini sering disalahartikan.

Menurut dr Hilman Tadjoedin, Staf Divisi Hematologi Onkologis Medis, Departemen Penyakit Dalam UI-Pusat Kanker Nasional Dharmais, gejala LGK bisa bermacam-macam dan tidak spesifik. Yang umum seperti tubuh sering pucat sehingga sering dianggap anemia atau rasa begah di lambung seperti maag karena pembengkakan limpa.

“Orang awam atau bahkan dokter biasanya akan sulit mendeteksi LGK hanya dari gejala karena bisa bermacam-macam. Pasien LGK biasanya sering pucat, keluhkan nyeri tulang, demam berulang, berat badan turun tanpa sebab jelas, atau lambung begah karena ada pembengkakan limpa yang menyimpan sel darah putih,” jelasnya.

Leukemia jenis ini bisa dicurigai jika sel darah putih seseorang meningkat lebih dari normal. Meski kenaikan jumlah sel darah putih normal terjadi ketika seseorang sakit, pasien LGK akan cenderung selalu memiliki kadar sel darah putih yang abnormal, kata Hilman.

“Jadi kalau seseorang sudah merasakan adanya gejala yang kronik (berkepanjangan), maka segeralah lakukan pemeriksaan sel darah putih. Memang tidak ada ukuran pasti berapa jumlah sel darah putih yang patut diwaspadai, tapi kalau sudah sering menemukan jumlah sel darah putih tinggi, maka harus curiga. Lebih lanjut lagi, pasien bisa melakukan tes PCR yang memang jadi ujung tombak pemeriksaan LGK,” tegasnya.

Tes PCR atau Polymerase Chain Reaction adalah metode untuk melakukan pemeriksaan gen. Ini dibutuhkan untuk mengetahui LGK, karena penyakit ini terkait dengan mutasi genetik pada kromosom 9 dan 22 yang berfusi membentuk gen BCR-ABL yang memberi sinyal pada sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah putih secara berlebihan.

“Perubahan sifat gen yang menyebabkan LGK tidak muncul dalam semalam atau akut. Ini sifatnya kronik, kita tidak tahu kapan dan berapa lama ini akan muncul dan membuat perburukan pada pasien. Kalau bisa terdeteksi lebih dini, LGK akan mudah diobati,” tambahnya.

Secara global, 1,6 per 100.000 orang mengidap LGK dan rata-rata ditemukan pada mereka yang berusia 53 tahun. Tapi, bahkan, orang berusia 37 tahun sudah cukup sering tercatat sebagai pasien LGK di Indonesia. Penyakit yang belum jelas penyebabnya ini dan tidak tentu dipengaruhi riwayat kanker di keluarga ini lebih dominan diidap laki-laki daripada perempuan.

(hel)

Baca Juga

Ini Risiko Gunakan Kontrasepsi Hormonal Lebih dari 8 Tahun

Ini Risiko Gunakan Kontrasepsi Hormonal Lebih dari 8 Tahun