Mengupas Sejarah Kerajaan Melayu di Pulau Penyengat

Mengupas Sejarah Kerajaan Melayu di Pulau Penyengat

Pulau Penyengat (foto: Tentry/Okezone)

BERKUNJUNG ke Tanjung Pinang rasanya tak lengkap jika tidak melipir sejenak ke Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Pulau yang terlekat tidak jauh dari Batam ini menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke sini. Di sinilah mungkin sejarah bahasa, dan kerajaan Melayu berasal.

Hanya dengan menempuh jarak sekitar 15-30 menit dari Pelabuhan Punggur, Anda bisa menyinggahi pulau ini. Harga untuk menyebrang juga terjangkau yakni sekira Rp20 ribuan untuk pulang pergi. Sementara untuk satu kapal sudah dipatok sekira Rp200 ribuan.

Sesampainya di sana Anda bisa memakai jasa becak motor untuk berkeliling di pulau yang hanya seluas 3000 km pesergi ini. Dan, cukup membayar Rp30 ribu untuk satu jam perjalanan Anda mengelilingi pulau.

Lalu, ada wisata apa saja di sana?

Di sini terdapat makam Permaisuri Sultan Mahmud Shah II yang merupakan sumber sejarah pemerintahan Melayu di tahun 1844. Menurut penuturan Ajes sebagai juru pelihara makam, tempat ini bermakna karena Pulau Penyengat merupakan sebuah hadiah cinta dari Raja Himdah untuk selir keduanya, yakni Sultan Mahmud Shah II.

Kemudian seraya pemberian cinta itu, pulau kecil ini dulunya juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan Melayu di tangah Raja Hamidah. Dulu, yang mencakup pusat pemerintahan yakni Singapura, Malaysia, dan Pahang. Dari sinilah, bahasa Melayu juga berasal.

"Dari sini banyak yang mengatakan jika sumber bahasa Melayu berasal, karena pusat pemerintahan semuanya di sini," tutur Ajes sebagai penduduk lokal kepada Okezone.

Oleh karena itu, kini makam banyak dihiasi dengan penutup kertas berwarna kuning yang merupakan simbol makan raja, ratu, kolega, hingga anak yang semasa hidupnya berada di sana. Warna kuning itu sendiri juga diceritakan sebagai warna pemerintahan Melayu saat itu.

Selanjutnya, jika memasuki makam ini terdapat makam raja dan ratu serta dua anak mereka. Keduanya merupakan hasil cinta Raja dan selir kedua namun tidak bertahan lama. Melihat hal tersebut seorang pujangga di Kerajaan, yakni Ali Haji membuat Gurindam 12 bait dan kini bait itu mengelilingi area makam Raja, dan Ratu.

Lalu, seusai menunjungi makam tersebut, Anda bisa melipir ke makam Raja Ja'Far yang berlokasi tak jauh dari makam sebelumnya. Di sini Anda akan melihat makam berbentuk kubah mesjid yang memayungi makam raja itu.

Raja tersebut hidup di tahun 1805-1832 di mana di tahun tersebut Indonesia masih mengalami penjajahan Belanda dan Inggris. Sehingga makam tersebut juga berarti untuk mengingatkan sejarah di masa lampau.

Setelah dari makam, Anda bisa mengunjungi rumah panggung Melayu yang terletak tidak jauh dari dermaga. Di sana, Anda bisa melihat rumah adat Melayu yang sudah diperindah oleh pemerintah dan dijaga dengan baik oleh masyarakat setempat.

Rumah adat itu juga masih khas dengan warna kuning yang menjadi hiasan di atap dan area interior rumah lainnya. Kini, itu tidak hanya menjadi situs semata melainkan juga menjadi tempat berkumpulnya warga sekitar.

(fid)

Baca Juga

Rekomendasi Perjalanan ke Asia Tenggara Naik Kapal Pesiar di 2017

Rekomendasi Perjalanan ke Asia Tenggara Naik Kapal Pesiar di 2017