Ibu Penderita AIDS Ini Pernah Jadi Gelandangan hingga Survivor

Ibu Penderita AIDS Ini Pernah Jadi Gelandangan hingga Survivor

Penderita Aids (Foto: Taufik Budi/Kontributor)

Menderita penyakit HIV/AIDS mungkin masih dianggap sebagai akhir dunia. Namun, seorang ibu penderita HIV di Semarang Jawa Tengah, berhasil bangkit dari keterpurukan. Dari semula hidup menggelandang selama hamil, kini menjadi sosok perempuan yang berani membuka diri agar diterima masyarakat.

Saat berbaur dengan masyarakat, tak ada yang beda dengan Derlina Waty Silalahi. Sebagaimana perempuan lainnya, dia tampil di tengah masyarakat sambil membawa anak semata wayangnya yang baru berusia sembilan bulan.

Derlina merupakan satu perempuan yang divonis menderita HIV, suatu penyakit yang masih dianggap momok oleh sebagian warga. Meski demikian, Derlina dengan penuh percaya diri berbaur di tengah masyarakat dengan mengikuti beragam kegiatan seperti menyanyi dan senam bersama.

“Saya memang punya catatan hidup yang kelam, tapi saya ingin melanjutkan hidup di tengah masyarakat. Bisa beraktivitas lagi sebagai ibu-ibu lainnya, tidak ada pembedaan meski saya ODHA (orang dengan HIV/AIDS),” kata Derlina saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Bukan perkara mudah menumbuhkan kepercayaan diri Derlina, setelah mengetahui terjangkit HIV, dua hari sebelum persalinan. Apalagi, ayah biologis anaknya telah kabur dan lari dari tanggung jawab.

“Saya tidak pernah pakai jarum suntik untuk narkoba, ataupun tranfusi darah. Jadi saya yakin jika kena penyakit ini ya dari lelaki yang menjadi ayah anak saya. Tapi sayangnya setelah saya kasih tahu jika saya hamil, dia malah kabur,” terangnya.

Perempuan berusia 36 tahun itu pun sempat hidup menggelandang di jalanan, hingga terjaring razia petugas Satpol PP dan masuk panti sosial di Sragen. Derlina memasuki babak kehidupan baru setelah dirawat di rumah sakit karena kehamilannya semakin membesar.

“Saat hamil itu saya dirawat di RS Tugu Semarang. Saya tahunya menderita penyakit ini ya di rumah sakit, dua hari sebelum melahirkan. Sebelumnya perawat sudah pada tahu ketika memeriksa darah saya, tapi belum memberi tahu ke saya,” lugasnya.

Setelah melahirkan bayi mungil bernama Suryani Aira Asri, kemudian dia tinggal di rumah singgah untuk anak penderita HIV/AIDS di Jalan Kaba Timur Nomor 14 Semarang. Awalnya, Derlina menutup diri dan enggan bersosialisasi dengan warga sekitar.

“Awalnya saya takut enggak berani keluar, tapi kemudian saya didorong untuk berani membuka diri. Ternyata benar, setelah saya keluar dan membuka diri bahwa menderita penyakit ini, ketakutan saya sirna. Warga tetap menerima saya,” katanya.

Kepercayaan diri Derlina semakin bertambah, karena rumah singgah yang ditempatinya mengadopsi nama anaknya sebagai nama panti menjadi Rumah Aira. Bahkan, setelah melalui pemeriksaan medis, anaknya dinyatakan negatif dari penyakit berbahaya itu.

“Jangan ada lagi diskrimanasi kepada orang-orang seperti saya. Penyakit ini kan penularannya beda, yaitu melalui jarum suntik, tranfusi darah, atau hubungan seks. Jadi kalau enggak melakukan itu kan aman,” beber Derlina.

Pendiri Panti Rumah Aira, Maria Magdalena, mengatakan, dengan pemahaman yang benar masyarakat akan menerima keberadaan penderita HIV/ADIS. Selain itu, penderita HIV/AIDS juga didorong membuka diri agar masyarakat bisa melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menghindari penularan.

“Sekarang ini bukan zamannya lagi penderita AIDS ini dikucilkan. Mereka ada di tengah-tengah kita. Media juga enggak perlu lagi menyembunyikan identitas mereka, atau pun di-blur wajahnya. Mereka kok seperti penjahat saja,” tegasnya.

Dia menambahkan, penyakit HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es. Penyakit itu masih dianggap sebagai aib, sehingga penderita tak berani membuka diri. Padahal, semakin menutup diri maka penderita HIV/AIDS kian berpotensi menyebarkan penyakit itu.

(ren)

Baca Juga

6 Manfaat Menangis terhadap Kesehatan Anda

6 Manfaat Menangis terhadap Kesehatan Anda