Peserta Solo City Travel Exchange Terkesan Keramahan Warga Kota Bengawan

Peserta Solo City Travel Exchange Terkesan Keramahan Warga Kota Bengawan

Ilustrasi

SOLO – Para peserta Solo City Travel Exchange berkeliling Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng) menaiki Sepur Kluthuk Jaladara. Selama perjalanan, mereka singgah di sejumlah tempat, diantaranya Lodji Gandrung, Plasa Sriwedari, Kampung Batik Kauman, dan Stasiun Solo Kota.

Pantauan di lapangan, suara peluit lokomotif uap C1218 memecah keheningan di ruas Gendengan Jalan Slamet Riyadi. Kereta api uap buatan Jerman tahun 1920 itu menarik dua gerbong yang ditumpangi sekira 30 orang dari kalangan blogger, agent travel, dan wartawan.

Di gerbong pertama Sepur Kluthuk Jaladara ada hiburan dari seorang ledhek, seorang pemetik kecapi, dan seorang penabuh kendang. Kudapan dari berbagai jenis jajanan pasar juga dihidangkan Ada pula jamu beras kencur sebagai minuman para peserta.

“Asyik sekali ini,” celetuk seorang wartawan bernama Fahriza, seperti dikutip dari Solopos.com, Jumat (2/12/2016).

Dia duduk di baris pertama gerbong kedua. Fahriza berencana untuk membuat tiga tulisan reportase perjalanannya selama tiga hari di Solo.

Di depan Fahriza, duduk pula wartawan lainnya bernama Roni Sahala Marpaung. “Asyik sekali di sini. Bukan hanya sekadar berpariwisata, tetapi ada unsur edukasinya juga. Edukasi sejarah,” ujar dia.

Selama perjalanan tiga hari di Solo, menurut Roni, Sepur Kluthuk Jaladara merupakan wahana favoritnya. Mereka berdua merupakan peserta Solo City Travel Exchange.

Peserta acara ini lainnya, Saka Arma Hidayat mengaku, merasakan atmosfer keramahtamahan masyarakatnya selama tiga hari berlibur ke Solo.

“Biaya hidupnya sangat murah, unsur budayanya juga belum luntur, masyarakatnya juga sangat sadar potensi wisata yang ada. Saya kira Solo sangat menjual sekali untuk dijadikan satu single packet liburan,” kata Executif Director Bhinneka Nusantara Tour and Travel itu.

Saka menambahkan, hadirnya penerbangan langsung (direct flight) oleh maskapai nasional membuatnya semakin bersemangat untuk membuat paket wisata.

“Kalau dulu sering transit, ya. Maka dari itu kami (travel agent) sangat menghindari penerbangan yang transit. Hal itu sangat menjemukan bagi para pelancong. Apalagi Solo sudah terkenal akan wisata kuliner dan batiknya,” sambungnya.

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) itu memfavoritkan Pasar Gede saat berkunjung selama tiga hari di Solo. Kuliner di pasar tersebut adalah salah satu daya tariknya.

“Tapi sepertinya penataan tempat pariwisatanya kurang bagus. Selain itu museum juga tutup pukul 14.00 WIB. City walk-nya juga masih banyak digunakan untuk parkir sepeda motor. Mungkin itu yang perlu dibenahi,” tambahnya.

(fds)

Baca Juga

Jangan Heran, Mendengarkan Lagu di Mana Saja saat Liburan di Jepang

Jangan Heran, Mendengarkan Lagu di Mana Saja saat Liburan di Jepang