Mengenal Dekat Josephine M. J. Ratna, Psikologis Klinis yang Peduli Anak-Anak

Mengenal Dekat Josephine M. J. Ratna, Psikologis Klinis yang Peduli Anak-Anak

Josephine (Foto: Dokumen Pribadi)

NAMA Josephine M. J. Ratna, M. Psych., memang tak semenggema kiprahnya di dunia psikologi. Hal itu dapat dimaklumi karena wanita 48 tahun ini banyak menghabiskan waktunya di Autralia hampir delapan tahun belakangan ini. Tujuannya adalah untuk memperkaya ilmu dan pengalamannya di bidang psikologi klinis dan anak-anak dan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan Indonesia-Australia.

Tujuannya adalah untuk memperkaya ilmu dan pengalamannya di bidang psikologi klinis dan anak-anak.

Ibarat pepatah mengatakan, “Buah tak jauh jatuh dari pohonnya,” ketertarikan Josephine dengan dunia psikologi dipengaruhi oleh profesi kedua orangtuanya. Di mana ayah dan ibunya berprofesi sebagai psikiater saraf dan psikiater jiwa. Sehingga, ketertarikan untuk membantu masalah orang timbul secara alamiah. 

“Ibu dan bapak saya adalah psikiater sehingga di rumah kami terbiasa sekali membicarakan masalah orang lain. Jadi, ketertarikan saya muncul pada bidang psikologi, lagi pula saya tak ada ketertarikan memilih profesi sebagai dokter,” ujar Josephine menceritakan awal kariernya.

Pada tahun 1986, ibu dua putra ini berkuliah di Universitas Airlangga Surabaya mengambil jurusan psikologi, di mana saat itu masih di bawah naungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Setelah lulus pada 1991, ia tak langsung bekerja sebagai psikolog, tetapi sebagai Account Executive di salah satu advertising agensi selama satu tahun. Namun, tetap ada hubungannya karena Josephine berhubungan dengan rumah sakit jiwa, fisik, otak dan anak-anak berkebutuhan khusus.

“Setelah itu, pada 1992 saya mendapat beasiswa dari AIDAB, pemerintahan Australia sampai jenjang master. Karena saya lebih tertarik dengan psikologi klinis akhirnya pada 1993 pindah ke clinical di Curtin Univeristy of Technology, Australia sampai tahun 1995,” sambungnya.

Sepulangnya ke Indonesia, Josephine menjadi formatur di Unika Widya Mandala, Surabaya untuk membentu Fakultas Psikologi. Ia menjadi pembantu dekan satu. Tetapi, wanita kelahiran 4 Januari 1968 ini tidak suka dengan pekerjaan yang sifatnya kebanyakan rapat, maka ia pun memilih untuk menjadi praktisi.

“Akhirnya pada 1996 saya praktik di RS Mitra Keluarga Surabaya, Surabaya Internasional. Selain itu saya juga mengajar di Universitas Surabaya dan Airlangga. Tahun 2001 saya mengundurkan diri dari Universitas, karena lebih suka menjadi praktisi dan bertemu pasien yang bermasalah,” tutur wanita yang juga lulusan University of Western Australia, Perth, Western Australia.

Hingga dalam kurun waktu 10 tahun Josephine bekerja di tujuh pekerjaan, termasuk manager Australian education Centre, memanajeri lembaga fasilitator pendidikan di Australia. Setelah 10 tahun bekerja Josephine sadar bahwa sudah saatnya ia belajar lagi untuk menambah ilmu. Akhirnya ia kembali ke Australia untuk mengambil S3 selama 4 tahun di Curtin Univeristy of Technology, Australia, sambil praktik di RS Premier Internasional Surabaya hingga sekarang.

Saat ini Josephine tercatat sebagai Sekjen Himpunan Psikolog Indonesi (HIMPSI). Bersama HIMPSI ia memiliki target agar profesi psikolog bisa bersama-sama mencetak mahasiswa yang kompeten, memenuhi apa yang dibutuhkan dan profesi ini dihargai oleh masyarakat.

“Kami terus membantu mahasiwa psikologi dengan meng-update informasi dan studi kasus. Agar mereka berkembang dan patuh terhadap kode etik yang berlaku,” cetusnya.

(fid)
1 / 2

Baca Juga

4 Perempuan Termulia di Dunia Sepanjang Sejarah, Siapa Saja Mereka?

4 Perempuan Termulia di Dunia Sepanjang Sejarah, Siapa Saja Mereka?