Waduh, Kasus Bunuh Diri Meningkat Didominasi Usia Produktif

Waduh, Kasus Bunuh Diri Meningkat Didominasi Usia Produktif

Ilustrasi Bunuh Diri (Foto: Horizonclasses)

ANGKA bunuh diri dalam 40 hari terakhir di kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta mencapai 8 orang. Satgas berani hidup yang dibentuk pemkab dari berbagai unsur dan bidang menilai sudah kejadian luar biasa.

sebab, rata-rata dalam 5 hari ada 1 orang mati bunuh diri. " Kami menganggap ini, sebagai kejadian luar biasa, ini kejadian kemanusiaan," kata Anggota Satgas Berani Hidup, yang juga merupakan dokter kesehatan jiwa RSUD Wonosari, Ida Rochmawati, belum lama ini.

Tingginya kasus bunuh diri setiap tahunnya juga mengalami pergeseran dari segi usia. Sebelumnya banyak kasus usia diatas usia 60 tahun, namun saat ini sudah mulai dibawah 60 tahun. Ada dua faktor penyebab bunuh diri yakni faktor biologi, psikologi, dan sosial. Untuk itu diperlukan penanganan serius dan sedini mungkin.

Ida menyebutkan faktor sosial atau budaya yang menyebutkan penyebab bunuh diri yang banyak dipercaya masyarakat mengenai pulung gantung. Sehingga perlu penanganan yang sinergis antara semua lini untuk mengantisipasinya.

Selama ini masih dilakukan parsial sehingga kurang efektif. "Selama ini tidak ada aturan yang mengikat secara sistem, untuk upaya pencegahan bunuh diri,"bebernya

Perlu adanya kajian untuk membuat aturan mengenai penanganan kasus bunuh diri. Sehingga bisa melakukan deteksi dini terhadap orang-orang yang beresiko bunuh diri.

Sementara Ketua Satgas Berani Hidup, Immawan Wahyudi mengatakan pihaknya akan merumuskan penanganan kasus bunuh diri. Meski diakuinya penanganan membutuhkan metode yang lebih mendalam. Pihaknya akan merumuskan bagaimana penanganan kasus ini. "Penanganan kasus bunuh diri itu tidak seperti menanganani kasus penyakit HIV/ AIDS, atau TBC,"ulasnya

Dikatakannya tidak hanya perlu pendekatakan kemasyarakatan dan tokoh agama. Namun sampai ke tatanan keluarga. "Sehingga bagaimana upaya bunuh diri bisa diketahui sejak dini sehingga bisa ditangani, "bebernya.

Adapun kasus bunuh diri tahun 2016 sebanyak 30 orang tewas, dan 3 orang percobaan. Angka kasus bunuh diri di Gunung kidul rata-rata 25 orang pertahun. Untuk data tertinggi kasus bunuh diri ada di 2012, yakni mencapai angka 39 orang. Kemudian jumlah tersebut turun pada 2013 menjadi 29 kasus. Tahun berikutnya, yaitu 2014 kembali turun menjadi 19 kasus dan tahun 2015 turun menjdi 28 kasus bunuh diri, dan 3 orang percobaan.

Tahun 2017 Kasus gantung diri yang pertama dilakukan oleh Ari Wibowo, (28), warga Tegalsari, Jatiayu, Karangmojo pada Rabu 11 Januari 2017. Selang 5 hari giliran Sukijo (52), warga Sidorejo, Sodo, Paliyan yang lalu di bawah sebatang pohon yang ada di belakang rumah. Diketahui Sukijo memiliki riwayat penyakit kelainan mental.

Paling fenomenal di bulan Januari 2017 adalah aksi nekad yang dilakukan Puthut Wijanarko,( 26), warga Banaran IV, Banaran, Playen ini mengakhiri hidupnya di bawah kerimbunan dedaunan pohon nyamplung Hutan Wanagama, Minggu, 22 Januari 2017 pagi.

Jumat 27 Januari 2017. Pariyah, (61), warga Manukan, Jepitu, Girisubo ditemukan gantung diri di bawah pohon waru belakang rumahnya. Belum diketahui pasti penyebab Pariyah nekad gantung diri.

Minggu, 29 Januari 2017 adalah Bambang Suryadi (40), warga Ngerboh II, Piyaman, Wonosari. Lalu Suwandi,( 49) warga RT/RW, 04/04, Bejono, Beji, Ngawen menggegerkan warga sekitar lantaran ditemukan nglalu dirumah kosong sekira pukul 03.00 WIB dinihari, Selasa, 31/01/2017.

Sadinem (55) warga Padukuhan Bengle, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus RT. 01, RW. 05 ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi rumahnya, Kamis, 02/02/2017

Sukimin(47), warga Padukuhan Pucung RT/RW, 05/06, Desa Candirejo, Kecamatan Semin Senin, 06/02/2017.

(ren)
Berita Rekomendasi Seputar Bunuh Diri

Baca Juga

TOP FAMILY 3: Setiap Gerakan Tubuh Bayi Ternyata Punya Makna <i>Lho</i>

TOP FAMILY 3: Setiap Gerakan Tubuh Bayi Ternyata Punya Makna Lho