Uniknya Budaya "Mahar Kain Tenun" Suku Sasak di Desa Sade, Lombok

Uniknya Budaya

Suku Sasak di Desa Sade, Lombok Membuat Kain Tenun (foto: Tentry Yudvi/Okezone)

SUKU Sasak memiliki tradisi budaya yang unik dan antik di Indonesia khususnya mengenai budaya pernikahan mereka. Intip yuk kisah jelasnya!

Jadi orang Sasak memiliki tradisi menikahi sesama sepupu, hingga saat ini jika menelisik ke Desa Sade. Sudah ada sekira 700 orang yang bermukim di sana.

Cerita budaya pernikahan mereka antar sesama sepupu menurut Ardi sebagai pemandu wisata di Desa Sade, ini disebabkan orang tua leluhur mereka ingin menjaga rukun dan harmonisasi keluarga dengan erat.

"Mungkin di luar sana menikah dengan sepupu atau saudara bukan hal lazim tapi di sini sudah biasa, jadi kami semua satu keluarga," begitulah jelas Ardi.

Meski terbilang keluarga dekat, namun untuk menikah, seorang anak perempuan harus bisa menenun kain songket khas Lombok dahulu. Itulah yang menjadi syarat utama dari pernikahan.

"Sebab kain tenun songket itu digunakan untuk mahar pernikahan, mereka harus memberikan 15 lembar kain songket," jelasnya.

Oleh karena itu, saat masuk ke dalam Desa Sade banyak wanita sedang menenun. Usianya juga masih sangat belia bahkan terbilang anak kecil. Sekali lagi, ini sudah jadi tradisi turun menurun.

"Di sini usia 16 tahun sudah menikah dan sudah punya anak, masih banyak yang nikah di usia muda," tukasnya.

Kain songket digunakan sebagai mahar menunjukan jika seorang istri mampu mendukung perekonomian keluarga. Orang Sasak khususnya kaum pria hanya punya satu mata pencaharian yakni sebagai petani.

"Jadi jika musim sedang enggak jelas seperti saat ini, wanita membuat dan menjual kain untuk pemasukan ekonomi," tuturnya.

Nah, setelah menikah, sepasang suami istri baru biasanya akan dibiarkan tinggal di Bale Kodong. Rumah kecil yang dimiliki orang tua untuk membuat anak mandiri.

" Mereka harus tinggal di sini sampai mampu membuat rumah sendiri. Ini bentuk ujian dari orang tua," tutupnya.

Begitulah sekilas cerita dari budaya Suku Sasak. Tradisi seperti ini harus dilestarikan sebagai identitas Indonesia.

(fid)

Baca Juga

Guncangan Hebat di Pesawat? Jangan Panik, Lakukan Ini <i>Aja</i>!

Guncangan Hebat di Pesawat? Jangan Panik, Lakukan Ini Aja!