Menelisik Kehidupan Ina Sol, Penenun Kain Selama 80 Tahun di Desa Sade

Menelisik Kehidupan Ina Sol, Penenun Kain Selama 80 Tahun di Desa Sade

Ina Sol Penenun Kain di Desa Sade, Lombok (foto: Tentry Yudvi/Okezone)

JIKA mendengar kawasan Lombok pasti yang terbayang adalah pesolek pantai cantik serta Gunung Rinjani. Namun, di sisi kehidupan lain masih ada lagi yang lebih cantik seperti kehidupan Suku Sasak di Desa Sade.

Suku Sasak sudah masuk ke daftar sejarah sebagai masyarakat pertama yang pertama kali tinggal di Pulau Lombok. Mereka pun terkenal dengan budaya kawin sedarah untuk meneruskan kekerabatan dan keharmonisan budaya leluhur.

Dan, di kesempatan kali ini, Okezone berkesempatan untuk mendatangi Desa Sade dan dizinkan untuk mengenal lebih dalam kehidupan Suku Sasak. Saat menapaki jalan, mata ini sangat terkagum dengan bentuk rumah yang disebut bale dan terbuat dari anyaman bambu, serta beratap alang-alang.

Sangat unik sekali, lalu pemandu wisata Desa Sade bernama Ardi yang membimbing rombongan Biro Perjalanan Korea Utara sekaligus jadi pemandu perjalanan Okezone kali ini, memandu jalan untuk masuki seluk beluk desa.

Keindahan semakin memesona dari pojok sebelah kanan di depan Bale Tani salah seorang warga. Di sana ada etalase tenun Lombok yang sangat cantik sekali. Tenun itu punya motif warna-warni yang cerah seperti pink, merah, dan emas.

Bukan hanya tenun saja yang menarik, seorang nenek pengrajin tenun yang banyak menyita perhatian kami. Nenek itu bernama Ina Sol, dengan ceria ia pun menyambut kedatangan kami.

Ia menuturkan jika sudah menjadi penenun selama 80 tahun, namun ia masih sangat sehat sekali dan gesit dalam membuat tenun serta gelang. Kemudian ia menunjukan ke alat yang digunakan untuk pembuatan gelang itu.

"Sini... lihat... pegang, alatnya sudah ada sejak 100 tahun, tapi masih bisa digunakan hingga saat ini," jelas Ina Sol kepada Okezone.

Kemudian, ia menjelaskan proses pembuatan benang yang terbuat dari kapas. Kapas diambil dari biji kapas yang terletak di kawasan hutan di belakang Desa Sade. Ia sendiri punya kebun kapas itu, dan mengolahnya hingga menjadi sebuah benang.

"Setelah biji dikumpulkan, biji kemudian digiling menggunakan alat giling tradisional yang terbuat dari kayu kelapa," jelasnya.

Setelah itu dikumpulkan hingga menjadi benang, dan dipasangkan ke alat pembuatan tenun dan juga gelang. Helai demi helai pun diperagakan Ina untuk membuat sebuah gelang tenun khas Lombok

"Setelah jadi benangnya terus dicelupkan dengan pewarna alami yang berasal dari buah-buah dan kekayaan alam di sana," jelasnya.

Ya, mereka masih menggunakan pewarna alami. Untuk warna kuning, ia menggunakan rebusan kayu mahogany, untuk hijau ia menggunakan daun, dan orange menggunakan kunyit. Masih banyak lagi pewarna alaminya.

"Setelah direbus terus dicelupkan ke benangnya, selama seminggu agar pewarna meresap," jelasnya.

Dengan proses begitu panjang tak heran jika harga yang ditawarkan untuk kain tenun dan gelang tenun cukup mahal. Kain tenun dari mulai Rp350 ribu hingga Rp5 jutaan. Sementara gelang Rp40 ribu hingga Rp100 ribu.

(fid)

Baca Juga

Ritual Naik Dango, Ucapan Rasa Syukur Masyarakat Adat Dayak

Ritual Naik Dango, Ucapan Rasa Syukur Masyarakat Adat Dayak